ISTRI YANG KUBUANG TERNYATA SULTAN (3)
LAGI-LAGI, SEORANG SUAMI TOLOL YANG TIDAK MENGETAHUI SIAPA SEBENARNYA ISTRINYA. TEGA MEMBUANGNYA DEMI WANITA LAIN. NAMUN BETA SHOKNYA IA DAN ISTRI BARUNYA SETELAH MENGETAHUI TERYATA MANTAN ISTRINYA ADALAH ...
TETAP DI ISTRI YANG KU BUANG TERYATA SULTAN. (3)
“Astaga, Revan. Kenapa kamu membanting ponsel seperti orang gila begitu?”
Revan menatap ibunya sekilas dengan mata merah oleh emosi. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun cepat menahan desakan amarah yang menyesakkan.
“Enggak apa-apa, Ma,” jawabnya pendek, suaranya dalam dan serak. Ia berjalan melewati ibunya, jelas tidak ingin bicara lebih banyak.
“Di mana perempuan itu?” tanyanya pelan, matanya melirik jam dinding. “Sudah jam segini masih belum pulang juga.”
Langkah Revan terhenti di depan pintu utama. Bahunya menegang.
Puan Mariam menatap punggung putranya, bibirnya melengkung membentuk senyum miring penuh racun. “Jangan-jangan … sekarang dia sedang bersama pria itu.”
Deg.
Jantung Revan serasa diremas keras. Matanya melebar, napasnya memburu. Darahnya bersirkulasi cepat ke kepalanya hingga wajahnya terasa panas.
'Kurang ajar! Pantas saja kamu berani bicara seperti itu padaku, Aurelia! Awas saja kalau benar kau bersama pria selingkuhanmu itu aku akan mengulitimu hidup-hidup.'
Puan Mariam yang melihat putranya hanya berdiri mematung dengan wajah gelap, mengerutkan kening. “Revan, kamu kenapa?”
Revan menghela napas berat, menelan kekesalan yang menyesakkan dadanya. “Ah, tidak apa-apa, Ma. Aku ingin keluar sebentar.”
Ia kembali melangkah menuju pintu utama.
“Eh, Revan … sebentar!” Puan Mariam menahannya lagi.
Revan menoleh dengan tatapan dingin. “Ada apa lagi, Ma?”
Puan Mariam tersenyum kecil, matanya menatap putranya penuh ambisi. “Bagaimana tadi pertemuanmu dengan Papa Laras?”
Revan menghela napas pelan. “Semua berjalan baik, Ma. Papa Laras merestui hubungan kami.”
“Bagus.” Senyum puas perlahan muncul di wajah Puan Mariam. Matanya menatap putranya dengan sorot penuh keserakahan. “Jika kamu sudah menjadi menantu keluarga Adiningrat, kamu akan semakin sukses, Revan.”
Revan hanya menatap ibunya sekilas, jawabannya terdengar datar. “Aku sudah tau itu.”
Tanpa menunggu balasan, ia melangkah keluar rumah. Puan Mariam menatap punggung putranya dengan senyum yang semakin lebar.
Begitu keluar, udara malam langsung menampar wajah Revan yang panas oleh emosi. Kakinya melangkah cepat menuju mobil sport hitamnya. Tangannya bergetar saat menggenggam setir.
Wajah Aurelia berputar di kepalanya. Suara pelannya dan kata-kata terakhirnya yang menampar harga dirinya.
"Aku tidak pernah hidup, Mas. Bahkan selama ini aku hanya bernafas.”
Ia meraih ponselnya yang retak, menekan nomor asistennya cepat.
“Cari lokasi Aurelia sekarang juga. Aku ingin laporanmu dalam lima menit!” suaranya dingin dan mengancam.
“Baik, Pak,” jawab suara di seberang.
Revan menunggu dengan setengah sabar, matanya menatap kosong ke jalanan gelap di depannya.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Revan langsung mengangkatnya.
“Bagaimana?!” bentaknya tajam.
“Maaf, Pak … nomor Nona Aurelia tidak bisa dilacak. Lokasi terakhir offline di dekat komplek indah.”
Revan menahan napas, wajahnya menegang. Ia menutup matanya, menahan gejolak amarah yang menyesakkan dadanya.
“Kurang ajar! Kurang ajar!” teriaknya keras. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
“Aurelia … berani sekali kamu melawanku. Kamu hanya perempuan rendahan. Sekarang kau berani menentangku? Brengsek!”
ISTRI YANG KUBUANG TERNYATA SULTAN
karya Alam Kusuma
KBM App bisa download di Amazon, Samsung galaxy store atau aplikasi store di hp masing-masing dan KBM App juga bisa diakses di playstore.
Pas baca dan nulis lanjutan kisah ini, aku makin sadar kalau sosok Revan itu tipe suami yang banyak banget ditemuin di cerita fiksi Indonesia: mapan, percaya diri, tapi gampang dibutakan ambisi dan omongan orang, terutama ibunya sendiri. Di permukaan dia kelihatan tenang dan cuek, tapi sebenarnya rapuh banget kalau harga dirinya terusik. Di bagian ini, Revan sudah resmi dijodohkan dengan Laras, perempuan yang dari awal memang diincar keluarganya karena status dan kekayaan. Puan Mariam jelas melihat hubungan itu sebagai tiket naik kelas: jadi menantu keluarga Adiningrat berarti nama baik, koneksi bisnis, dan hidup yang makin mewah. Yang tragis, Aurelia justru dianggap "perempuan rendahan" padahal pembaca sudah tahu dari judul dan blurb kalau dia bukan sosok biasa, bahkan sebenarnya "sultan". Kalau kamu suka karakter laki-laki problematik yang pelan-pelan dipaksa menghadapi konsekuensi, bagian ini lumayan kerasa emosinya. Revan marah karena merasa Aurelia berani melawan dan mungkin bersama pria lain, tapi di sisi lain dia sendiri yang buang istrinya demi wanita lain dulu. Kontras ini bikin konflik batinnya makin kuat. Scene ketika dia frustasi karena lokasi Aurelia tidak bisa dilacak dan cuma dapat info terakhir di dekat komplek indah, itu semacam titik awal paniknya: dia terbiasa mengontrol, sekarang dia kehilangan jejak. Sebagai pembaca, aku suka membayangkan nanti bakal ada momen di mana identitas asli Aurelia sebagai "sultan" bakal kebongkar di depan Revan dan keluarga Adiningrat sekaligus. Biasanya di cerita-cerita kayak gini, mantan istri yang diremehkan justru balik lagi dengan versi terbaik dirinya: sukses, mandiri, dan nggak lagi butuh validasi dari mantan suami. Bayangin aja kalau suatu hari Revan datang ke sebuah acara bisnis, lalu tahu kalau pemilik atau investor utama perusahaan yang dia incar itu ternyata Aurelia sendiri. Di sisi lain, tokoh seperti Puan Mariam juga menarik untuk diamati. Ambisinya terhadap status sosial bikin dia buta rasa. Dia tidak pernah benar-benar peduli kebahagiaan Revan, yang dipikirkan cuma bagaimana nama keluarga mereka bisa sejajar dengan kalangan atas. Ini tipikal konflik keluarga yang sering muncul di cerita-cerita bertema pernikahan kontrak, perjodohan, dan hubungan mertua-menantu. Kalau kamu ngikutin dari bagian pertama, coba perhatiin perkembangan Aurelia juga. Dia mungkin awalnya digambarkan pendiam, terluka, dan cuma "bernapas" dalam pernikahannya. Tapi justru dari titik paling rendah itu biasanya tokoh utama perempuan mulai bangkit. Di bagian-bagian selanjutnya, aku pribadi berharap bisa lihat bagaimana Aurelia membangun hidupnya sendiri tanpa Revan, dan bagaimana dunia perlahan mengakui kalau dia bukan istri yang pantas dibuang, melainkan seseorang yang jauh lebih berharga dari yang mereka kira. Buat yang suka genre domestic drama dengan sentuhan balas dendam elegan, perjalanan Revan–Aurelia ini masih panjang. Nikmatin dulu fase Revan yang baru mulai gelisah dan pelan-pelan dihantui rasa kehilangan yang dia ciptakan sendiri.

