CALON IPAR JADI SUAMI (2)

Malam Setelah Pernikahan

Nayara duduk di tepi ranjang, diam, menatap kosong ke arah koper yang terbuka di depannya.

Gaun putih yang tadi siang ia kenakan kini sudah berganti dengan gamis sederhana berwarna lembut. Wajahnya tanpa riasan, hanya menyisakan bekas merah samar di pipi, jejak tamparan yang belum sepenuhnya hilang.

Di depannya, koper setengah penuh. Ia memasukkan baju, beberapa dokumen, dan juga kalung kenang-kenangan peninggalan ibunya. Tangannya berhenti saat matanya jatuh pada sebuah bingkai foto yang sudah agak pudar di tepi.

Foto ibunya. Satu-satunya yang ia punya.

Pelan-pelan, ia menyentuh wajah lembut dalam foto itu, lalu tersenyum getir.

“Bunda… seandainya Bunfa masih ada, Ara nggak akan seperti ini,” bisiknya lirih.

Ia kemudian membungkus foto itu dengan kain lembut dan menaruhnya di dalam kotak kecil, lalu memasukkannya hati-hati ke dalam koper.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka keras.

“Lagi apa kamu?!” tanya Bu Laksmi ketus. Perempuan ini selalu saja dengan gaya petentang-petenteng. Padahal suaminya juga bukan orang penting, Pak Ikhsan hanya insinyur, dia bukan orang kaya banget. Tapi ya Allah, sombongnya melebihi orang terkaya di dunia.

Nayara menoleh sekilas, lalu dengan cepat menutup koper itu.

“Aku cuma beresin barang-barang, Tante.”

Laksmi mendengus, lalu menendang koper yang sudah berdiri itu keras hingga terguling ke lantai.

“Jangan coba-coba melakukan hal aneh, Nayara!” bentaknya. “Ingat baik-baik, kamu hanya pengganti. Kamu cuma bayangan Reva. Kalau Reva kembali, semua ini akan dikembalikan padanya.”

“Dan satu lagi,” lanjut Laksmi, melangkah mendekat dengan mata menyipit. “Jangan sekali-sekali kamu gatal seperti ibumu dulu. Jangan mencoba menarik simpati Ardhan atau membuat drama murahan. Dia menikah denganmu bukan karena cinta, tapi karena keadaan. Ardhan milik Reva. Cuma Milik Reva, dengar?!!!”

Nayara menggigit bibir, jemarinya meremas ujung jilbab. Ia tahu, apa pun yang ia katakan hanya akan memancing amarah lebih besar. Tapi kalimat terakhir Laksmi membuat jantungnya mencelos.

“Dan kalau sampai aku dengar kamu berulah….” Laksmi menunduk, “…aku akan pastikan makam ibumu hancur, rata dengan tanah. Aku bisa lakukan itu, Nayara.”

Detik itu, Nayara mendongak dengan mata melebar, menatap ibu tirinya tak percaya.

“Tante, ” ucapnya dengan suara tercekat. “Jangan bawa Bunda saya ke dalam masalah ini Bunda sudah meninggal.”

“Kamu pikir aku main-main?” potong Laksmi, lalu mendadak menjambak kerudung Nayara, menariknya kasar hingga kepala Nayara menengadah dan tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.

“Sadarlah! Kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini! Jadi bersikaplah seperti bayangan, bukan pengganti yang sok penting!”

Nayara menahan napas, menahan sakit yang menjalar di kulit kepalanya.

“Sekali anak gundik, kamu tetap anak gundik, Nayara.”

Laksmi akhirnya melepaskan jambakannya, merapikan penampilannya sendiri, lalu berbalik menuju pintu.

“Awas kamu, kalau sampai punya niat rembut Ardhan dari anak saya, saya telan kamu hidup-hidup.”

“Dasar nenek lampir!” dengus Nayara setelah pintu kamar dibanting oleh ibu tirinya.

“Aku mungkin harus tunduk malam ini… tapi aku tidak akan hidup selamanya di bawah perintah kalian. Aku tidak mau jadi boneka kalian untuk selamanya, ibuku hanya korban dan kalian lah orang biadab sesungguhnya.”

Air mata jatuh membasahi tangannya, tapi di balik itu, ada bara yang mulai menyala di dada. Nayara bersumpah, dia tidak akan mau menurut, terserah keluarganya mau bilang apa, tapi dia akan mencoba untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri.

Satu jam kemudian, mobil hitam milik Ardhan meluncur meninggalkan rumah keluarga Pak Ikhsan. Jalanan sepi, hanya lampu kota yang berkelebat di jendela. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening.

Nayara duduk di kursi penumpang depan, menatap keluar jendela. Matanya sembab, tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk. Di sampingnya, dr. Ardhan Virendra, masih mengenakan jas abu dan dasi longgar, menggenggam ...

Judul: Calon Ipar Jadi Suami

Nama Pena : Ame Shizuku

2025/10/28 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pernikahan yang penuh dilema seperti yang dialami Nayara bukan hal yang mudah untuk dijalani. Saya sendiri pernah merasakan hubungan yang terasa hambar dan dingin, terutama karena tekanan dari keluarga pasangan. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk menemukan cara agar tetap kuat dan menjaga kesehatan mental. Saran pertama, cobalah untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat yang bisa dipercaya, entah itu sahabat atau keluarga yang memahami situasi Anda. Untuk Nayara, memiliki kenangan seperti foto ibunya bisa menjadi pengingat akan kekuatan dan motivasi untuk terus bertahan. Selanjutnya, penting untuk berkomunikasi secara terbuka dengan pasangan, walaupun sulit, agar perasaan dan masalah yang ada dapat disampaikan dan diupayakan solusi. Menciptakan batasan yang sehat dengan anggota keluarga lain juga perlu agar tidak sampai menimbulkan tekanan berlebih yang memperburuk keadaan. Akhirnya, jangan lupa untuk merawat diri sendiri, baik secara fisik maupun emosional. Banyak hal yang bisa membantu seperti menulis jurnal, mengikuti hobi, atau mencari bantuan profesional jika situasi terlalu berat. Dengan cara-cara itu, kita bisa mencoba melewati dilema pernikahan dengan hati lebih tenang dan penuh harapan.

1 komentar

Gambar wagrully
wagrully

update di mana ni kk?