ISTRI KETIGA (1)
1
Tubuh Teguh seperti tersengat listrik. Ia tak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Rahma besok. Tapi melihat ibunya menangis seperti itu, Teguh tak sanggup. Ia hanya pernah sekali melihat ibunya seperti ini, saat mereka tak punya makanan di rumah dan Bapak sakit keras. Saat itu ia berjanji tak akan pernah membiarkan siapapun dan apapun membuat ibunya menangis seperti dulu. Tapi kini justru ia sendiri yang menjadi penyebabnya.
Akhirnya dengan suara tercekat, Teguh menenangkan Tutiek, ibunya. "Bu, udah ya? Ibu jangan nangis lagi. Teguh akan ke sana sekarang, Teguh akan batalin pernikahannya."
Tutiek menoleh.
"Nanti Rahma dan orang tuanya marah sama kamu?"
Teguh menelan ludah. "Yang penting, Ibu nggak sedih lagi, nggak marah sama Teguh." Teguh mencium tangan ibunya. "Teguh berangkat, ya, Bu?"
Tutiek menarik tangannya dengan kasar. "Kalau kamu berangkat dan nggak membatalkan pernikahan kalian, jangan pernah pulang lagi ke sini!"
***
"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Bramantya, atasan Rahma. "Kamu nggak akan membatalkan pernikahan ini, kan? Kasihan Rahma dan keluarganya. Mereka bahagia banget. Tadi saya bertemu ayah Rahma dan beliau tampak sangat senang anaknya akan menikah besok. Kamu nggak bisa bujuk ibu kamu?"
Teguh menggeleng. "Saya nggak bisa menyakiti ibu saya."
Darah Bramantya mendidih. "Lalu kamu bisa menyakiti Rahma?! Kata kamu, kalian sudah dekat selama sepuluh tahun! Bayangkan rasa malu Rahma dan keluarganya andai pernikahan ini batal?! Saya pun akan marah jika pernikahan ini batal! Rahma gadis baik-baik, dia tidak pantas diperlakukan seperti ini, ditinggalkan menjelang hari pernikahannya! Saya tidak rela!"
Teguh terkesiap emosi. "Kalau Bapak saja setidak rela itu, apalagi saya, Pak?! Saya mencintai Rahma!" Lalu Teguh terdiam, dahinya berkerut hebat. "Jangan-jangan, Bapak juga mencintai Rahma?!"
DEG!! Bramantya membelalak syok mendengar tuduhan Teguh. Aku?! Mencintai Rahma?!
Bramantya tersenyum dengan sebelah ujung bibir terangkat. "Kamu jangan cemburu buta. Mana mungkin saya mencintai Rahma? Dia pegawai saya. Salah satu yang terbaik. Mencintai dia sama saja mengacaukan bisnis saya. Dan, mungkin, kamu batal menikahi Rahma juga akan mengacaukan bisnis saya."
Teguh terdiam.
Bramantya menghela napas. "Kamu kenapa, sih, nggak membujuk ibu kamu baik-baik aja? Rahma gadis yang pantas dijadikan menantu oleh siapapun." Bramantya terkekeh kesal. "Kamu tahu, bahkan istri pertama saya saja menganggap Rahma lebih cocok untuk jadi madunya ketimbang istri kedua saya si Lena? Gila, nggak, tuh?"
DEG!! Teguh mengerutkan kening saat selintas ide muncul di benaknya. Bramantya melihat perubahan raut wajah Teguh dan penasaran.
"Kenapa? Kamu tersinggung? Saya aja tersinggung."
Teguh buru-buru menggeleng. "Enggak, Pak. Saya nggak tersinggung. Justru, saya mau minta tolong sama Bapak."
"Minta tolong apa?" Bramantya memandang heran Teguh yang tiba-tiba bersemangat.
"Tolong nikahi Rahma."
Bramantya geleng kepala emosi. "Gila! Permintaan kamu barusan gila! Saya nggak akan melakukannya. Saya nggak bisa."
"Tapi, Pak—"
Bramantya segera memotong. "Sebaiknya kamu segera pulang dan bilang ke ibumu, besok kamu akan menikah. Dengan atau tanpa restunya. Kamu sudah melangkah sejauh ini. Kamu nggak bisa mundur lagi! Kalau besok kamu tidak datang, saya sendiri yang akan mencincang kamu karena sudah mempermainkan pegawai terbaik saya!"
***
Di hadapan ayah dan mamahnya, Rahma berusaha tersenyum dan tetap santai. Walau mungkin sorot matanya tak bisa berbohong. Ia sangat takut. Ia sudah membayangkan kemungkinan terburuk besok. Tapi satu sisi hatinya mengatakan, Teguh sangat mencintainya, Teguh tak mungkin menyakitinya sekeji ini.
Setelah semua tamu pulang, Rahma masuk kamar, menangis tanpa suara. Sama sekali tanpa suara. Ia tak ingin orang tuanya tahu betapa ia hancur malam ini, betapa ia merasa setengah yakin ia akan hancur juga besok.
Tangannya terus menelepon dan mengirimkan pesan untuk Teguh. Tidak aktif, tidak terkirim.
Ingin rasanya ia kabur saja.
KBMApp
Istri Ketiga
nadiahalwi
Cerita ini menggambarkan betapa rumit dan beratnya sebuah keputusan dalam kehidupan rumah tangga, terutama ketika harus memilih antara cinta dan keluarga. Dari sudut pandang saya, saat membaca kisah Teguh dan Rahma, saya merasa sangat terhubung dengan perasaan mereka yang berada di persimpangan hidup. Saya pernah berada dalam situasi di mana dukungan keluarga sangat menentukan, bahkan bisa menjadi beban emosional yang besar. Dalam konteks budaya Indonesia, tekanan keluarga dan norma sosial seringkali menjadi faktor penting yang mempengaruhi keputusan pernikahan. Kisah ini juga mengangkat isu poligami yang masih menjadi perdebatan di masyarakat, serta bagaimana perasaan dan harapan para pihak yang terlibat bisa sangat kompleks. Saya pikir, bagi yang sedang mengalami konflik serupa, penting untuk mencari komunikasi yang jujur dan terbuka dengan semua pihak, serta mempertimbangkan perasaan diri sendiri dengan bijaksana. Setiap keputusan besar pasti membawa konsekuensi, namun apa pun pilihan kita, dukungan keluarga dan teman dekat sangat berarti. Selain itu, cerita ini memberi pelajaran bahwa cinta bukan hanya soal perasaan antara dua orang, tetapi juga bagaimana menjaga hati orang-orang yang kita cintai di sekitar kita. Teguh yang berjuang antara cintanya dan ibunya menunjukkan bahwa cinta bisa sangat membingungkan tapi juga penuh tanggung jawab. Jika kamu pernah mengalami dilema dalam hubungan atau pernikahan, kisah ini bisa menjadi refleksi yang membuka mata tentang pentingnya ketegasan dan kejujuran dalam mengambil keputusan. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih memahami kompleksitas cinta dan keluarga dalam hidup.

