SENTUHAN PERTAMA DAN TERAKHIR (6)
Sentuhan Pertama dan Terakhir
Bab 6.
“Ceraikan aku setelah akad nikahmu besok, Mas. Tapi sentuh aku untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum kita berpisah.”
***
Renan melepas cekalan tangan Seraphine di lengannya kemudian berjongkok di samping Nayanika. “Sini aku bantu.”
“Nggak usah, Mas,” ucap Nayanika pelan.
Renan tetap membawa Nayanika ke luar gedung. “Kamu mau ke mana, Nay?”
Nayanika tersenyum getir. “Ke mana saja. Pergi darimu.”
“Pergi ke mana kamu? Kamu nggak punya siapa-siapa lagi. Mau tinggal di mana kamu? Rumah kamu udah tua, udah rusak, udah nggak layak ditempati. Gimana hidupmu nanti?”
“Hasbiyallah. Cukup Allah bagiku. Rezekiku biar Allah yang atur.”
Renan menatap dengan kernyitan. “Semalam ... aku nggak pakai pengaman, nanti kalau hamil bagaimana?”
Nayanika menggelengkan kepala. “Nggak akan. Tenang aja. Jangan bahas semalam lagi ke istrimu. Sudah tutup buku, toh kamu cuma pura-pura bukan?”
Renan terdiam padahal ia ingin sekali berkata bahwa ia benar-benar tenggelam dalam samudra kehangatan semalam. Ia tak bisa menyebut itu cinta, tapi malam tadi benar-benar membuatnya gila. “Nay ... ak-aku ....” Renan menatap sedih.
“Biarkan aku pergi, Mas. Lembar kita udah habis. Kamu punya lembar sendiri yang belum kamu mulai dengan Sera. Emm, salah. Bukan belum, tetapi mengulang kembali. Rangkai kembali cinta yang sempat terhalang olehku. Maaf aku cuma jadi penghalang buat cinta kalian.”
“Nay ....”
“Mas. Tolong ... lepaskan aku dengan baik. Kita pisah baik-baik ya. Aku udah maafkan semua yang pernah kamu lakukan padaku selama ini. Aku memaafkan semuanya meski kamu nggak minta.”
“Mas Renan!”
Renan dan Nayanika menoleh. Seraphine tampak menatap nyalang kepada mereka. Wajahnya terlihat merah.
PLAKK!!
Suara tangan Seraphine mendarat di pipi Nayanika, terdengar begitu nyaring di telinga.
“SERAA! Apa-apaan kamu?” Renan menepis tangan Seraphine, menjauhkan istrinya itu dari Nayanika.
“Jal4nggg! Kamu sudah dicerai suamiku! Masih mau menggodanya lagi?” Seraphine berteriak.
Tak mau lagi mendengar ucapan Seraphine yang tak masuk akal, Nayanika lekas berbalik dari sana. Ia sudah tak mau lagi terlibat dalam hidup Renan dan keluarganya. Biar ia jalani kehidupan baru yang entah bagaimana ia pun tak tahu.
“Taksi!” Nayanika memasuki taksi yang baru saja selesai mengantar tamu resepsi.
Taksi pun melaju perlahan. Menguraikan segala kenangan yang tercipta semalam. .
Di perjalanan, tak henti ponselnya berdering. Renan terus memanggilnya sedari tadi.
(Angkat teleponku, Nay!)
Renan mengirim pesan. Nayanika mengabaikan. Jemarinya bergerak memblokir nomor Renan.
Nayanika menggumam. “Selamat tinggal, Mas. Semoga tumbuh janin di rahimku.” Ia mengusap lembut perutnya, yakin bahwa ia akan hamil setelah ini.
Sementara itu, Renan yang marah saat Nayanika memblokir nomornya, sudah hendak membanting ponselnya jika tidak dicegah Seraphine.
“Kamu kenapa sih, Mas? Kamu bilang nggak cinta sama Naya. Kenapa kamu marah-marah begini dia pergi? Biarkan saja dia pergi!” Seraphine berteriak kesal.
“Diam kamu!” Renan melangkah pergi meninggalkan Seraphine padahal sudah saatnya kedua pengantin duduk dipajang di pelaminan.
Sentuhan Pertama dan Terakhir
Inge Lezta
KBM apk
Sebagai pembaca yang ngikutin cerita "Sentuhan Pertama dan Terakhir" dari awal, bab 6 ini menurutku jadi salah satu titik balik paling emosional. Di bab ini, fokusnya benar-benar ke keputusan berani Nayanika buat pergi setelah malam pertama yang juga dia minta sebagai sentuhan terakhir sebelum ditalak. Konsep istri yang minta malam pertama sebelum dicerai, kayak yang disorot di gambar promosi dengan teks "BREAKING NEWS", bener-bener bikin konflik batin Renan makin kerasa. Yang bikin bab ini ngena, bukan cuma adegan Renan mengantar Nayanika keluar gedung, tapi juga dialog mereka soal takdir, rezeki, sampai kemungkinan kehamilan. Naya yang pasrah mengatakan "Hasbiyallah" nunjukin kalau dia sudah siap menghadapi hidup baru sendirian, meskipun secara logika dia nggak punya tempat kembali dan rumahnya sudah nggak layak huni. Di sini pembaca diajak mikir: kalau kita di posisi Naya, berani nggak sih memulai ulang hidup tanpa pegangan selain keyakinan pada Tuhan? Bagian yang paling bikin sesak menurutku adalah saat Naya memutuskan memblokir nomor Renan di dalam taksi. Di luar, Renan kelihatan marah dan frustasi, tapi di dalam hati Naya justru mengucap selamat tinggal sambil mengusap perut dan berharap ada janin yang tumbuh di rahimnya. Momen kecil ini terasa kayak foreshadowing untuk konflik selanjutnya: bagaimana kalau ternyata Naya benar-benar hamil setelah "sentuhan pertama dan terakhir" itu? Gimana reaksi Renan dan juga Seraphine kalau suatu hari mereka tahu? Seraphine sendiri di bab ini digambarkan sangat meledak-ledak, sampai menampar Nayanika di depan Renan. Dari sisi pembaca, mungkin banyak yang kesal sama sikap Sera, tapi kalau ditarik dari sudut pandang manusiawi, dia juga sebenarnya hidup dalam rasa takut kehilangan Renan. Hanya saja cara dia mengekspresikan cemburunya dengan kata-kata kasar seperti "jal4ng" membuat pembaca makin simpati ke Naya. Kalau kamu baru mau mulai baca, bab 6 ini cocok banget buat kamu yang suka cerita rumah tangga penuh konflik, cinta segitiga, dan dilema seorang perempuan yang harus memilih harga dirinya sendiri. Di sini kerasa banget kalau cerita "Sentuhan Pertama dan Terakhir" bukan cuma soal romansa, tapi juga perjalanan seorang istri menemukan keberanian untuk melepaskan, meski masih menyimpan harapan kecil lewat kemungkinan kehamilan. Bab ini jadi jembatan yang bikin pembaca penasaran: ke mana Nayanika akan pergi, bagaimana nasib janin yang ia harapkan, dan apakah sentuhan pertama itu benar-benar akan jadi yang terakhir untuk mereka berdua.

