KAKAKKU PEMUJA KUNTILANAK (3)
Bab 3
---
Teh Mayang terlihat semakin cantik dengan daster hamil penuh motif bunga, perhiasan berkilauan menempel di tubuhnya. Padahal semua orang tahu, suaminya hanyalah pengacara—pengangguran banyak gaya. Namun setiap tahun ia membeli sawah, setiap hari membeli perhiasan. Dari mana uangnya? Tak pernah ada yang tahu.
Saat aku memberi tahu Ibu bahwa Teh Mayang datang, Ibu justru melirik tajam dan berbisik lirih, "Biarkan saja atuh Put."
Bahkan ketika jenazah Teh Intan dan bayinya dipulangkan dari rumah sakit, Ibu tetap bersikap dingin pada anak sulungnya itu. Rumah duka pecah oleh tangis. Aku hanya mampu bergumam, tak percaya, "Baru kemarin aku ngobrol sama Teh Intan… sekarang sudah berpulang."
Di pemakaman, Ibu berkata, "Neng nanti sore ikut tahlilan ya. Jang Ardi sendirian, kasihan."
Aku mengangguk cepat. "Ikut Bu… aku takut sendirian di rumah."
Ibu menegur, "Takut apa?"
Aku menjawab pelan, "Rasanya Desa seperti mati sejak Teh Intan meninggal."
Ibu langsung menutup omonganku, "Huss! Tidak boleh ngomong begitu."
Menjelang Maghrib, aku dan Ibu sudah berada di rumah duka. Banyak orang membantu membungkus kudapan untuk tahlilan malam itu. Aku dan Teteh Sari mencuci gelas di belakang rumah. Tiba-tiba aku menyentuh lengannya, berbisik, "Teh… lihat itu."
Teteh Sari gemetar. "Teteh juga lihat… cepat beresin gelasnya."
Di bawah pohon pisang berdiri sosok perempuan rambut panjang, menggendong bayi, memandang kami sendu. Suaranya lirih menyanyikan nina-bobo:
“Nina bobo oh Nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk…”
Kami terpaku. Setelah lagu itu berhenti, sosok itu melayang dari satu dahan ke dahan lain. Wangi bunga setaman bercampur dengan bau tanah basah dan kapur barus. Lalu tawa cekikikan pecah menghunjam telinga:
"HIHIHIHIHI……… HIHIHIHI…"
Teteh Sari ambruk. Aku menyeret baskom masuk dapur. Para ibu menjerit, "Ya Allah, Sari!"
Ibu bertanya, "Kenapa Sari pingsan? Kalian ngapain di belakang?"
Aku menjawab pelan, "Lihat… hantunya Teh Intan… sambil gendong Anaknya."
Ruangan langsung hening. Uwak Mimin berbisik, "Meninggal tidak wajar, sedang nifas pula… pasti gentayangan."
Tak lama kemudian Teteh Sari sadar—tapi tertawa seperti kuntilanak.
"HIHIHIHI…" lalu menangis sambil bicara: "Aku mati penasaran… jadi tumbal pesugihan… bayiku dimakan… aku jadi jembatan jin… jahat!"
Ibu menekan suaranya, "Siapa yang menumbalkan kamu, Intan?"
Jawabannya hanya membuat dada membeku,
"Orang terdekatmu…"
lalu tawa panjang kembali meledak.
Setelah Pak Ustadz datang dan meruqyah, qorin Teh Intan keluar. Tapi perkataan “orang terdekat” terus menghantui pikiranku—terdekat Ibu? Siapa…?
Malam itu setelah pulang, Ibu hanya berkata singkat, "Sebelum tidur baca doa. Ingat Allah."
Aku pun tertidur.
Keesokan paginya dunia terasa normal kembali. Aku bekerja seharian di warung makan sampai lupa kejadian kesurupan itu. Pulang, Uni warung memberiku sayur, aku gembira. Di jalan pulang, Teh Mayang memanggil, terengah, "Putri…!"
Aku menegurnya, "Pelan-pelan, Teh, kamu hamil besar."
Ia hanya tersenyum manis, memberi sekotak brownies, "Ini buat kamu, ya."
Aku berterima kasih. Namun perasaan gelisah itu masih ada.
Malamnya, aku mandi, shalat, berdzikir. Lalu bersiap menyusul Ibu ke rumah tahlilan lagi. Intan belum selesai bercerita dari dalam kubur.
---
KAKAKKU PEMUJA KUNTILANAK
Penulis: Syumaiyahcantik
Tamat di Aplikasi KBM App
---


![🎥 : KAKAKKU SANG PELINDUNG [SUB INDO]](https://p16-lemon8-cross-sign.tiktokcdn-eu.com/tos-alisg-v-a3e477-sg/oAf709uUMCBFCLbEAIlAgAE7bcBgGpBfD9tzEA~tplv-sdweummd6v-shrinkf:640:0:q50.webp?lk3s=66c60501&source=seo_middle_feed_list&x-expires=1815868800&x-signature=LCAXtpNxI0CJxryE3Bu801RAFf0%3D)








































