TALAK SAAT LAHIRAN (1)

“Cerai?!” kaget Mas Pandu.

“Istighfar, Jenar! Ati-ati kalau ngomong. Kamu pikir cerai itu bisa dibuat bercandaan?!” sengit Ibu mertua.

“Aku gak sedang bercanda, Bu. Aku serius. Aku ingin cerai dari Mas Pandu.”

“JENAR!” bentak Mas Pandu.

Tapi aku tidak takut. Aku membalas tatapannya dengan sorot malas. "Apa, Mas?!”

“Kamu minta cerai karena cowok lain, kan?! Cowok yang kasih kamu uang, kan?! Selama ini kamu punya selingkuhan, kan?! "

Aku tertawa hambar meski bibirku masih pucat pasi.

“Kamu ngomongin diri kamu sendiri, Mas? Bukannya kamu yang punya selingkuhan? Bahkan, saat aku menahan kontraksi dan nyaris ping-san, kamu malah asyik telfonan ketawa-ketawa sama cewek itu!”

Wajah Mas Pandu langsung menegang.

“Berani kamu ya sekarang nuduh suamimu! Sing eling, Jenar! Ingat akhirat! Surgamu itu ada pada Pandu!” sahut Ibu mertua dengan suara lantang.

Ah, tidak. Maksudku, Bu Harti. Aku tidak sudi lagi memanggilnya ‘Ibu mertua’. Toh sebentar lagi, dia bukan lagi siapa-siapa bagiku.

“Jadi istri itu mbok ya sing bener. Istri kok durhaka sama suami. Durhaka sama mertua. Nanti kalau kuwalat baru tahu rasa kamu!”

Aku menoleh perlahan ke arahnya. Pandanganku tajam.

“Jangan ngomongin durhaka atau kuwalat, Bu. Ibu sendiri nanti yang bakal kuwalat karena sudah menelantarkan menantu yang sedang mau melahirkan. Ibu malah sibuk TikTok-an velocity-an, kan? Ibu yang durhaka. Durhaka sama menantu Ibu sendiri! Sing eling, Bu!”

“DIAM, JENAR!” teriak Mas Pandu. “Berani banget kamu ngomong gitu ke Ibu! Dia itu mertuamu! Kamu harus menghormatinya!”

Aku mendengus. Tawa sinis meletup dari tenggorokanku. “Aku akan menghormati Ibu kalau Ibu tahu cara menghargai aku sebagai menantunya, Mas!”

Wajah Mas Pandu kini merah padam. Matanya menyala. Dan tanpa peringatan, tangannya terangkat ke atas, siap menghantam pipiku.

“Kamu bener-bener ya... Dasar istri durha—”

Ceklek!

Pintu terbuka.

Dokter Rahma dan dua perawat masuk. Suara langkah mereka seperti denting harapan di tengah medan perang.

Aku menarik napas lega.

Dokter memeriksa tanda vi-talku, menyapa dengan suara lembut.

“Alhamdulillah, Ibu Jenar, kondisi Ibu sudah membaik. Insya Allah pemulihan pascaoperasinya berjalan baik.”

Aku mengangguk pelan. “Alhamdulillah. Terima kasih, Dok. Bagaimana keadaan bayi saya?”

“Sudah mulai stabil juga, Bu. Saat ini masih kami tempatkan di ruang NICU (neonatal intensive care unit) untuk pemantauan karena sempat mengalami penurunan detak jantung. Tapi sekarang kondisinya membaik.”

“Saya boleh jenguk bayi saya, Dok?”

Dokter tersenyum hangat. “Tentu. Setelah Ibu cukup istirahat. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu, Pak.”

Setelah Dokter Rahma dan dua perawat itu pergi, seperti dugaanku, sik-saan verbal dimulai lagi.

“Kamu belum jawab dari mana kamu dapat uang sebanyak itu buat operasi Caesar! Cepat jawab!”

“Kamu gak perlu tahu, Mas. Yang perlu kamu tahu sekarang adalah: urus proses perceraian kita.”

“Kalau dia gak mau ngaku, ambil saja bayinya! Kurang ajar memang! Main rahasia-rahasiaan sama suami dan mertua!”

Bu Harti mendesis seperti ular yang tergencet ekornya.

Mas Pandu menyeringai miring. Tatapannya penuh ancaman.

“Baiklah, aku akan ceraikan kamu. Tapi aku juga akan ambil bayi kita! Kamu gak akan bisa hidup tanpa bayimu, Jenar!”

Dia menatap ibunya.

“Ayo, Bu. Kita ambil bayinya. Biar dia tahu rasa.”

Mereka bergegas keluar bilik. Langkahnya cepat. Penuh amarah. Penuh kebanggaan yang buta.

Apa aku menangis? Oh, tentu tidak.

Apa aku mengejar mereka? Oh, tidak akan. 

Yang kulakukan adalah tersenyum. Senyum penuh kemenangan. Karena mereka tak akan pernah menyangka jika aku sudah lebih dulu mengamankan bayiku. Bayi yang mereka kira bisa dijadikan alat untuk mengancamku.

Dan ketika mereka tahu siapa aku sebenarnya mereka pasti akan bertekuk lutut! 

Baca part selanjutnya di aplikasi KBM App ya...

Judul : TALAK SAAT LAHIRAN

Penulis : Dewi Diyu

2025/12/10 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSaat menghadapi situasi talak di tengah proses persalinan, banyak yang tak siap secara mental maupun emosional. Saya sendiri merasakan bagaimana tekanan batin yang luar biasa ketika harus berdebat dan mempertahankan hak atas anak sekaligus menjaga kondisi kesehatan setelah operasi Caesar. Dalam kondisi seperti ini, dukungan dari tenaga medis seperti Dokter Rahma dan perawat sangat penting untuk memastikan ibu dan bayi mendapat perawatan terbaik. Kondisi bayi yang harus menjalani perawatan di NICU memang menambah kekhawatiran, apalagi ketika keluarga suami justru memperkeruh suasana dengan keinginan mengambil alih bayi sebagai senjata. Namun, saya belajar bahwa peran ibu adalah yang paling utama, dan upaya menjaga ikatan dengan bayi sejak awal sangat menentukan. Selain itu, pengelolaan stres saat mengalami talak di masa kritis seperti melahirkan sangat penting. Saya menyarankan agar para ibu yang menghadapi kondisi serupa bisa mendapatkan pendampingan psikologis dan dukungan dari komunitas untuk membantu melewati masa sulit ini. Video dan berita viral semacam "Talak Saat Lahiran" yang saya alami ini jangan hanya dianggap sebagai drama, tapi sebagai suara ibu-ibu yang perlu didengar dan dihargai haknya. Sehingga masyarakat bisa lebih memahami kompleksitas masalah keluarga yang sering dibungkam dan memotret sisi lain perjuangan ibu dalam rumah tangga.