BARA DI UJUNG SENJA

Bab 3

VIRAL! "TERKUAK! DI BALIK TATO MENYERAMKAN, SOSOK CALON SUAMI ALUNA TERNYATA BUKAN ORANG SEMBARANGAN."

"Makan. Perang butuh tenaga."

Sebungkus nasi padang mendarat di meja. Aku menatapnya nanar. Baru saja aku tahu, harga diriku ternyata setara tumpukan hutang semen dan besi beton Ayah.

"Kamu pikir aku nafsu makan?" tanyaku sinis.

Bara menyuap santai dengan tangan. "Justru itu. Kalau pingsan, nanti orang kira saya KDRT. Realistis saja, Aluna. Cinta itu bonus. Keamanan finansial menu utamanya." Dia menyeringai, "Tenang, saya pemilik yang baik. Garansinya seumur hidup."

Kalimatnya menyebalkan, tapi anehnya, membuatku merasa aman.

Mobil sedan hitamnya berhenti dua blok dari rumah—permintaanku agar tak mencolok. Sebelum turun, Bara mendekat, wangi maskulin kayu dan mint memenuhi kabin.

"Ingat," bisiknya tajam. "Jangan jadi boneka. Kalau Rania atau Ibumu injak kaki kamu, injak balik. Patahkan hak sepatunya bila perlu."

Jantungku berdesir. Ada yang membelaku. "Siap, Bos."

Masuk ke rumah—kapal karam yang penumpangnya sibuk berpura-pura kaya—teriakan cempreng Rania langsung menyambut.

"Heh! Jam berapa ini? Baju pestaku mana? Setrikaan numpuk!"

Ibu hanya diam membalik majalah lama.

"Bukan urusanku," jawabku dingin sambil berlalu mengambil air.

Hening mencekam. Rania melotot tak percaya. "Sejak dilamar montir itu kamu jadi kurang ajar ya? Cepat ke laundry! Nanti malam keluarga Bara datang!"

"Aku mau istirahat," tolakku tegas.

"Kurang ajar!" Tangan Rania melayang, siap menampar.

Injak balik.

Dengan gerakan cepat, kucengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat di udara. Rania terbelalak kesakitan.

"Tangan yang mau kamu tampar ini," desisku gemetar menahan emosi, "sebentar lagi akan tanda tangan surat yang menyelamatkan kalian dari kebangkrutan."

Wajah Rania memucat. Majalah di tangan Ibu jatuh. Aku menghempaskan tangan kakakku dan naik ke kamar, meninggalkan mereka membeku.

Di kamar, ponselku bergetar. Pesan dari Bara: Jangan kaget kalau ada kurir.

Benar saja. Di halaman, kurir menurunkan kotak hitam mewah berpita emas. Dari jendela, aku melihat Rania di bawah sana sudah mengulurkan tangan dengan mata berbinar, mengira itu miliknya.

"Maaf, Mbak," suara kurir terdengar jelas. "Ini khusus Ibu Aluna. Segel tak boleh rusak."

Rania menarik tangannya seperti tersengat listrik, wajahnya merah padam karena malu. Detik berikutnya, suara Ibu terdengar dari bawah, kali ini lembut dan ragu.

"Aluna... Nak, ada kiriman buat kamu."

Nak? Aku tersenyum miring. Hebat sekali efek uang dan kotak mewah itu.

"Tunggu sebentar," teriakku santai. "Aku lagi luluran!"

Padahal aku hanya duduk di lantai, membayangkan wajah sombong Bara. Permainan baru saja dimulai.

Judul : BARA DI UJUNG SENJA

Nama Pena : susanaa88

Tayang hanya di KBM app

2025/12/14 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita "Bara di Ujung Senja" membawa kita menyelami kompleksitas hubungan Aluna dengan Bara, lelaki dengan tato penuh misteri yang sosok aslinya mengejutkan banyak pihak. Dalam bab 3 ini terungkap bahwa Bara bukan sekadar calon suami biasa, melainkan seseorang yang memiliki pengaruh besar dan kekuatan finansial yang signifikan, sesuatu yang sering disembunyikan di balik penampilan kasar dan tatonya yang menyeramkan. Melalui dialog dan interaksi antar tokoh, cerita ini menggambarkan tema perjuangan mendapatkan keamanan finansial sebagai landasan utama dalam hubungan, di mana cinta dianggap sebagai bonus tambahan. Dalam situasi penuh tekanan, terutama dari anggota keluarga yang otoriter seperti Rania, Aluna dihadapkan pada dilema menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Pesan Bara yang tegas agar Aluna tak menjadi boneka dan berani melawan ketika diinjak-injak menunjukkan dinamika kekuasaan dan perlindungan dalam hubungan yang realistis. Kotak hitam mewah dengan pita emas yang diterima Aluna dari Bara melambangkan simbol status dan kekuasaan yang hendak ditunjukkan, sekaligus menjadi alat untuk mengontrol dan memanipulasi keluarga. Reaksi Rania yang gamang dan malu saat kurir mengatakan bahwa paket itu khusus untuk Ibu Aluna menegaskan adanya hierarki sosial dan ketegangan dalam keluarga yang mengarah pada konflik lebih besar. Kisah ini memberikan gambaran menarik tentang realitas sosial yang sering dihadapi perempuan muda dalam pernikahan modern, khususnya dalam konteks finansial dan tekanan keluarga. Konflik antara mempertahankan harga diri dan bertahan hidup di bawah pengaruh kekuasaan yang tak terlihat menjadi pilar cerita ini. Alunan narasi yang kuat dan alur cerita penuh intrik membuat pembaca dapat merasakan emosi tokoh secara intens, seperti ketegangan, rasa aman yang ambigu, hingga pemberontakan halus yang dilakukan Aluna. Sebagai tambahan, tato menyeramkan yang melekat pada Bara tidak hanya sebagai estetika, tetapi juga simbol cerita pribadi dan kekuatan yang ia miliki. Dalam kultur populer, tato sering dianggap sebagai tanda kekerasan atau masa lalu kelam, namun dalam kisah ini tato menyeramkan tersebut justru membuka rahasia tentang siapa sebenarnya Bara dan seberapa besar pengaruhnya. Ini menambah dimensi psikologis karakter yang kaya dan kompleks. Dengan demikian, "Bara di Ujung Senja" tidak hanya kisah percintaan biasa, tetapi juga refleksi realistis mengenai bagaimana dinamika kekuasaan, finansial, dan harga diri dapat membentuk sebuah hubungan dan kehidupan keluarga. Cerita ini sangat cocok untuk pembaca yang menyukai drama penuh intrik, emosi mendalam, dan penggambaran karakter yang kuat dan nyata.