YANG MANDUL ITU KAMU, MAS! (1)
Ibu mertua menatap Mas Amar dengan raut serius.
“Nak, kalian sudah menikah delapan tahun. Bagaimana usaha kalian untuk punya anak? Kenapa sampai sekarang belum ada hasil? Istrimu kenapa belum juga hamil?”
Aku berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Awalnya hanya ingin menaruh baju yang telah terlipat, tetapi mendengar pembicaraan itu membuat langkahku terhenti. Aku tidak ingin masuk, namun juga tak sanggup pergi.
“Sabar, Bu. Mungkin Allah belum percaya pada kami. Kami sudah berobat ke mana-mana, tapi memang belum rezeki. Kalau waktunya tiba, Allah pasti memberi,” jawab Mas Amar pelan. Mendengarnya, hatiku sedikit tenang.
Namun ibu mertua menarik napas panjang. Ia bercerita tentang arisan di rumah Bu Rahma, tentang gosip ibu-ibu yang membahas pernikahanku.
“Ibu sebenarnya tidak mau peduli, tapi ibu minder. Teman-teman ibu selalu cerita tentang cucu mereka. Ibu malu karena kamu belum punya anak.”
Mas Amar terdiam sejenak.
“Ibu kan sudah punya cucu dari Mbak Mira dan Mbak Maya,” katanya.
“Beda, Nak. Kamu anak lelaki ibu satu-satunya. Ibu ingin cucu dari kamu.”
Aku mengusap perutku yang masih rata. Aku juga ingin punya anak. Tapi aku bukan penulis takdir. Apalagi penyebab aku belum hamil bukan dariku, melainkan dari Mas Amar. Rahasia itu kami simpan rapat-rapat.
Berbagai usaha sudah kulakukan. Berobat medis, pijat, bahkan mendatangi dukun atas permintaan ibu mertua. Bukan karena percaya, melainkan demi menyenangkan hatinya.
“Ibu ingin kamu menikah lagi, Nak,” ucap ibu mertua tiba-tiba. “Poligami itu tidak dosa. Mungkin istrimu mandul. Percuma menunggu lama-lama.”
Dadaku sesak. Kata-kata itu terasa seperti pisau.
“Bagaimana dengan Arumi, Bu?” suara Mas Amar akhirnya terdengar. “Dia pasti tidak setuju.”
Kalimat itu justru melukai hatiku. Kenapa aku yang dijadikan alasan? Kenapa bukan ketegasan bahwa dia tak ingin menikah lagi karena mencintaiku?
Aku menaruh baju di dekat pintu kamar. Air mata mulai menggenang.
“Arumi harus sadar diri,” lanjut ibu mertua. “Lihat Deni, baru tiga bulan menikah istrinya langsung hamil.”
Aku tersentak. Perbandingan itu sungguh kejam.
“Pernikahan tanpa anak hambar. Kalau Arumi tidak mau, ibu yang akan bicara dengannya. Harusnya dia sendiri yang menyuruhmu menikah lagi.”
Aku tidak mengerti cara berpikir ibu mertua. Sejak menikah, aku diminta berhenti bekerja. Katanya agar fokus mengurus rumah. Mas Amar berjanji menanggung semua kebutuhan. Nyatanya, aku hanya diberi satu juta sebulan, bahkan harus berbagi untuk bensinnya. Sebagian besar gajinya diberikan pada ibunya.
“Nanti aku bicarakan dengan Arumi, Bu,” ucap Mas Amar akhirnya. “Malam ini.”
Aku langsung pergi sebelum mereka keluar kamar. Di dalam kamar, aku berbaring menghadap dinding, menangis tanpa suara.
Pintu terbuka.
“Sayang, sudah tidur? Masih jam sembilan,” suara Mas Amar lembut.
Aku diam.
“Bangun dulu. Ada yang mau aku bicarakan,” katanya sambil mengusap kepalaku.
Aku berbalik perlahan.
“Kamu habis nonton apa sampai nangis?” ia tertawa kecil. “Istriku ini memang lembut.”
Aku menatap matanya. Ingin berteriak mengatakan bahwa aku mendengar segalanya. Namun bibirku tetap kelu.
***
Nama Pena: Yoza Gusri.. Judul Novel: Yang Mandul itu Kamu, Mas! Tersedia di KBM
Waktu pertama kali tahu kalau hasil pemeriksaan menyatakan sperma suamiku lemah, jujur saja dunia rasanya runtuh. Bukan karena aku ilfeel sama suami, tapi karena langsung terbayang reaksi ibuku, ibu mertua, dan omongan keluarga besar. Di budaya kita, begitu ada kata “mandul”, yang pertama disalahkan hampir selalu perempuan. Akhirnya kami sepakat merahasiakan hasil medis itu dari siapa pun. Di depan keluarga, kami cuma bilang masih "diusahakan". Tapi ternyata rahasia sang suami ini justru jadi beban terbesar buatku. Setiap ada acara keluarga, selalu ada saja yang nyeletuk, “Udah telat belum?”, “Kapan nih kasih eyang cucu?”, atau candaan-candaan yang katanya ringan, tapi menusuk hati. Aku pernah coba jelasin pelan ke suami, kalau aku yang setiap hari harus menghadapi pertanyaan dan tatapan kasihan. Dia cuma bisa bilang sabar, sambil memeluk. Di satu sisi, aku kasihan juga, sebagai laki-laki, mungkin harga dirinya terpukul. Tapi di sisi lain, aku merasa sendirian di medan perang. Rahasianya dia, tapi aku yang kena tuduhan mandul. Kalau bicara mandul dalam Islam, yang sering dibahas orang cuma soal bolehnya poligami kalau istri diduga mandul. Padahal, Islam juga mengajarkan keadilan, tidak menuduh sepihak tanpa bukti, dan tidak mempermalukan orang lain. Mandul itu sendiri, dari sisi medis, bisa terjadi pada laki-laki ataupun perempuan, bahkan kadang penyebabnya tidak jelas. Tapi di obrolan keluarga, jarang sekali ada yang mau terbuka soal kemungkinan suami yang bermasalah. Aku pernah dengar kajian yang bilang, punya anak itu rezeki, bukan sekadar hasil usaha. Ada pasangan yang santai malah cepat hamil, ada yang sudah berobat ke banyak dokter tetap menunggu bertahun-tahun. Dari situ aku belajar, tidak semua pernikahan tanpa anak itu “kurang”. Ada banyak bentuk keluarga yang tetap utuh dan bahagia walau tanpa keturunan. Yang paling berat bagiku adalah ketika mertua menyarankan poligami, dengan alasan aku harus “sadar diri". Di titik itu aku merasa harga diriku sebagai istri diinjak. Andai saja mertua tahu, bahwa yang mandul itu bukan aku. Tapi sekali lagi, kalau aku bongkar rahasia suami, berarti aku mengkhianati kepercayaannya. Sekarang, kalau ada teman curhat soal tekanan punya anak, aku selalu bilang: jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri. Ajak pasangan cek kesehatan berdua, bukan cuma istri yang diperiksa. Dan kalau hasilnya ternyata suami yang bermasalah, jangan jadikan itu bahan untuk saling menjatuhkan. Ini ujian bersama, bukan kompetisi siapa yang paling subur. Aku juga pelan-pelan belajar menetapkan batas dengan keluarga. Tidak semua omongan harus ditelan mentah-mentah. Kalau ada yang mulai menyindir soal anak, aku jawab seperlunya, lalu mengalihkan pembicaraan. Capek? Iya. Tapi daripada terus menerus menyalahkan diri sendiri dan hidup dalam rasa takut terhadap label mandul, lebih baik aku mulai menjaga diriku dulu. Pada akhirnya, aku menulis pengalaman ini bukan untuk membuka aib siapa pun, tapi sebagai pengingat bahwa perempuan yang belum punya anak bukan berarti kurang sebagai istri. Dan laki-laki yang punya masalah kesuburan bukan berarti gagal sebagai suami. Yang keliru adalah ketika salah satu pihak menanggung semua malu, sementara rahasia sang suami terus dijaga, tetapi ia sendiri tidak benar-benar membela pasangannya di depan keluarga.

