PURA-PURA MLARAT (3)
"Oh, ini sebenarnya Mas Hari? Gaji dua puluh juta sebulan, cuma dikasih tiga juta sama aku," kataku sambil memikirkan apa pembalasan yang setimpal untuk keluarga mereka.
**Pura-Pura Mlarat**
Bab 3 (Kembali ke Mommi)
===
"Cih, dasar wanita mlarat gak tau untung! Kalo bukan karena anakku, kamu tetap jadi g*mbel!" Mama tiba-tiba saja sudah berada di depanku.
"Nisa malah berharap terus jadi g*mbel daripada menjadi babu di rumah ini," jawabku mulai berani pada nenek sihir itu.
"Nisa! Jaga ucapanmu! Dasar tidak tahu balas budi!" Tiba-tiba Mbak Zoya sudah ada di depanku pula.
"Mama sudah bilang, lebih baik kamu menikah dengan Sonia. Dia wanita kaya, cantik, elegant, bukan wanita barbar seperti dia! Makanya Mama gak setuju kalian nikah resmi. Kalo nikah siri gini kan kamu bisa ceraikan saat ini juga."
"Oh, jadi begitu? Pernikahan di bawah tangan ini memang buatan Mama?"
"Nisa gak nyangka bisa menjadi bagian dari keluarga ini!"
"Udah Nisa, kamu pergi dari sini! Jangan bikin masalah! Aku ceraikan kamu!" ucap Mas Hari tiba-tiba.
"Oke! Nisa bakalan pergi, tapi ingat, jangan sampai kalian menyesal karena memperlakukan Nisa seburuk ini!"
"Hei kalian! Ingat-ingat, itu masakan di meja makan adalah buatanku, bukan buatan Zoya!" teriakku pada keluarga yang masih duduk di ruang tamu.
"Pergi! Aku bilang pergi!" teriak Mbak Zoya dengan wajah memerah.
"Lho? Neng Nisa mau ke mana?" sapa satpam yang menjaga gerbang.
"Pergi dari neraka ini, Pak," jawabku ramah.
"Sabar, Neng. Pak Asep doakan segera dapat suami yang baik. Keluarga itu memang begitu."
"Pak, ada kertas dan pulpen?" tanyaku pada Pak Asep.
"Bapak keluar saja dari sini, datang ke alamat ini," ucapku sambil memberi stempel pada kertas itu. Stempel kecil dengan bentuk naga terpasang pada cincin berwarna perak di jariku. Stempel ini adalah tanda bahwa ada perintah yang tidak bisa dibantah. Perintah dariku.
===
Tanpa memegang uang sepeser pun, bisa sampai rumah? Bisa dong. Dengan penampilan seperti ini, semua orang bakal percaya padaku.
"Pak, tunggu di sini, saya ke atas dulu," kataku pada sopir saat sudah sampai kantor Mommi.
Aku langsung masuk ke dalam kantor yang disambut oleh satpam dan customer service.
"Mbak Nisa sudah pulang?" tanya Dina saat melihatku datang.
"Mbak Din, bayarin sopir travelnya dua juta. Bilang makasih udah ngantarin aku sampe sini. Aku mau langsung ke Mommi," ucapku sambil berlalu, lalu masuk ke dalam lift.
"Siap, Mbak!"
"Mommi!" teriakku saat melihatnya.
"Nisa? Ya Tuhan! Kamu ke mana saja dua bulan ini?" Mommi berdiri dari duduknya, lalu menghambur memelukku.
"Mommi sama Poppi janji gak bakal maksa kamu buat nikah."
Aku mengangguk cepat. "Mom, aku perlu istirahat. Bisa kasih akses ke bodyguard-nya Poppi?"
"Kamu akan Mommi kasih bodyguard sendiri. Tunggu di sini!"
Awas kamu Mas Hari. Aku sudah kembali.
=====
"Halo, Bos?" Suara di seberang menyambutku.
"Halo, bisa kasih aku profil lengkap tentang Hari Purnomo?" tanyaku pada orang di sana.
"Nama Hari Purnomo itu banyak, Mbak."
Kusebutkan sebuah alamat, lalu lelaki di seberang sana mengiyakan.
Semudah ini jadi Nisa. Semua tinggal telepon.
Tak berapa lama, profil lengkap Mas Hari sudah ada di email hape.
"Oh, ini sebenarnya Mas Hari? Gaji dua puluh juta sebulan, cuma dikasih tiga juta sama aku," kataku sambil memikirkan apa pembalasan yang setimpal untuk keluarga mereka.






























