RESTU ORANG-TUA ITU PENTING (1)
BAB 1
Aku menatap bapak dengan tegas, meskipun hatiku berdebar.
“Nak, coba dengarkan kata bapak,” suara bapak terdengar lembut tapi tegas. “Laki-laki yang bapak pilihkan untukmu itu yang terbaik. Bapak yakin kamu akan butuh dia saat nanti kalian menikah.”
Aku menggeleng cepat. “Pak, aku masih punya pacar. Aku belum mau menikah. Lagian, aku tidak suka sama laki-laki pilihan bapak.”
Bapak menarik napas panjang, matanya menatapku penuh harap. “Tapi bapak tidak suka sama pacarmu. Dia tidak punya sopan santun, keluarganya juga ngg*k jelas. Kalau kamu sampai menikah sama dia suatu saat hidup kamu bapak."
Aku menahan amarahku. “Pak, tolong jangan hina pacarku. Aku yang paling tahu bagaimana sikap dia. Aku cinta sama dia, Pak. Lagian bapak tahu apa sih tentang pacar aku? Ngg*k terlalu kenal. Tapi udah ngomongnya buruk tentang dia!
Bapak menunduk sejenak, lalu menatapku lagi dengan penuh keyakinan. “Nak, dengarkan bapak. Kalau kamu menikah dengan laki-laki pilihan bapak, seiring waktu, cinta itu akan tumbuh.”
Hatiku semakin panas. “Aku tetap tidak mau, Pak. Aku tetap pilih pacarku. Terserah bapak mau bagaimana, tapi yang jelas, aku menolak perjodohan ini.”
“Nak, percaya deh sama bapak. Lagipula, laki-laki yang bapak pilih ini suka sama kamu. Bahkan kedua orang tuanya juga setuju kalau kamu menikah dengan anak mereka. Dijamin, kehidupanmu akan sempurna, setelah kamu menikah Kamu akan sadar betapa bagusnya pilihan bapak," kata bapak, matanya penuh keyakinan.
“Aku tetap nggk mau, Pak. Tolong jangan paksa. Kalau pun aku menikah, aku maunya sama pacarku. Aku nggk mau sama laki-laki yang bapak pilihkan. Udah ya, Pak… aku lagi malas ngomong tentang perjodohan ini. Aku bosen.”
Bapak melangkah mendekat, suaranya terdengar cemas. “Dira, tunggu, Dira… Kamu mau ke mana? Bapak belum selesai ngomong.”
Aku menarik napas panjang, menatapnya sekilas, lalu berbalik. “Aku udah ngg*k peduli lagi, Pak. Mau bapak ngomong apa, yang jelas aku memilih jalan sendiri… jalan-jalan, dan bertemu dengan pacarku, Revan.”
Akhirnya aku pergi menemui Revan di sebuah kafe.
Dia sudah menunggu sejak tadi. Seharusnya aku berangkat lebih awal, tapi obrolan bapak tentang perjodohan itu membuatku terlambat.
Dari kejauhan aku melihat Revan sudah duduk di sudut kafe, satu tangannya memegang ponsel, sementara r*kok terselip di antara jemarinya. Asap tipis mengepul di udara.
“Sayang, maaf ya aku terlambat,” kataku begitu mendekat.
Revan menatapku dengan wajah sedikit kesal.
“Kamu ke mana aja sih? Aku udah nunggu dari tadi, loh. Kok baru datang sekarang?”
“Iya, maaf. Tadi bapakku ngobrolnya kelamaan.”
“Apaan sih? Tentang perjodohan lagi, ya?”
Aku terdiam. Wajahku langsung murung. Revan memang sudah tahu kalau orang tuaku berniat menjodohkanku dengan laki-laki lain.
“Iya,” jawabku pelan. “Bapakku mau aku menikah sama laki-laki pilihannya.”
“Terus kamunya gimana?”
“Ya aku ngg*k mau lah. Aku maunya sama kamu. Aku cintanya sama kamu.”
Revan tersenyum tipis. “Bagus. Kalau bisa, tolak aja. Orang tua kamu itu… belum tentu pilihannya baik. Kita ini kan udah lama pacaran, masa tiba-tiba kamu mau dijodohin.”
“Nah itu dia,” kataku cepat. “Makanya aku nolak. Aku mau nikahnya sama kamu. Jadi buruan dong kamu nikahin aku, supaya aku ngg*k dijodohin sama laki-laki pilihan bapak sama ibu.”
Revan menghela napas. “Sabar ya. Aku kan harus ngumpulin uang dulu buat nikahin kamu. Kamu tahu sendiri kan aku belum kerja. Pegangan uang juga ngg*k ada. Selama ini aja kalau kita jalan-jalan selalu pakai uang kamu.”
Aku tersenyum tipis, meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati. “Iya juga sih. Ngg*k apa-apa, sayang. Aku bakal nunggu kamu sampai kapan pun. Yang penting kita harus menikah.”
“Ya udah, kalau gitu kita jalan-jalan yuk,” katanya kemudian. “Katanya kamu mau ke mall, mau beli barang?”
“Iya, yuk.”
Kami beranjak dari meja, tapi tiba-tiba Revan berhenti. “Eh, tapi tunggu dulu, sayang."
judul : Restu Orang Tua Itu Penting
penulis : Pajar ajar Sa'ad
platform : KBM
Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa restu orang tua memang sering kali menjadi batu ujian terbesar dalam hubungan percintaan, terutama di budaya kita. Saya pernah menghadapi dilema serupa, di mana orang tua saya ingin saya menikah dengan seseorang yang mereka anggap pantas dan mapan, sementara saya jatuh cinta pada seseorang yang mereka kurang setujui. Saya paham betapa sulitnya menolak keinginan orang tua, apalagi dalam tradisi perjodohan yang masih kuat. Namun, saya belajar bahwa komunikasi terbuka sangat penting. Seperti dalam cerita Dira, meskipun bapaknya yakin pilihan yang diajukannya yang terbaik, Dira memiliki hak untuk memilih dan memperjuangkan cinta yang dirasakan benar. Restu memang penting, tapi cinta dan kebahagiaan pasangan juga harus diperhatikan. Dira dan Revan juga memperlihatkan sisi klasik perjuangan pasangan muda, yang belum mapan secara finansial namun bertekad membangun masa depan bersama. Saya percaya banyak pasangan muda mengalami hal ini; dukungan emosional dan kesabaran menjadi kunci agar hubungan tidak goyah. Restu orang tua memang idaman, tapi tidak berarti satu-satunya jalan menuju bahagia. Kita juga harus mengingat bahwa restu orang tua bisa tumbuh seiring berjalannya waktu bila kita membuktikan kehidupan berkeluarga yang harmonis dan penuh tanggung jawab, seperti yang bapak Dira katakan. Namun, proses itu butuh waktu dan kesabaran. Sebagai tambahan, penting juga untuk menjaga sikap saling menghormati antara anak dan orang tua, supaya konflik seperti kata-kata kasar terhadap pacar atau pilihan masing-masing tidak membuat keadaan makin sulit. Namun yang terpenting adalah jangan pernah menyerah dalam memperjuangkan cinta sejati yang penuh kejujuran. Karena pada akhirnya, kebahagiaan dan dukungan dari orang terdekat akan memberikan kekuatan nyata untuk membangun kehidupan baru.

