MENGEJAR CINTA ISTRIKU (3)

Membalas

Part 3

Penulis: Ana_Yuliana

Baca di: KBM App

---

“Tak mau cerai?” Jena berteriak di hadapan suaminya. “Bukannya selama ini kau yang paling ngotot mau cerai? Merasa aku cuma beban?”

Ini pertama kalinya Jena berani meninggikan suara. Selama dua tahun ia menelan segalanya. “Aku sudah melayanimu seperti babu, tak pernah membantah. Sekarang waktunya aku bebas!”

Langit mendengus kesal. “Jadi selama ini kau melayaniku tak ikhlas?”

“Jelas tidak!” Jena tertawa pahit. “Aku bertahan cuma demi uang bulananmu. Kalau tidak, mana mau aku!”

“Hanya demi dua puluh juta per bulan?” Langit menatapnya tajam.

“Besar,” jawab Jena tanpa ragu. “Kerjaku cuma menurut. Aku memang niat mengumpulkan uang lalu cerai darimu.”

Langit tertawa sinis. “Licik! Wanita tak tahu malu.”

“Ya sudah, ceraikan saja!” Jena menantang. “Beres, kan? Kau juga tak rugi.”

Menjadi istrinya benar-benar membuatnya menderita. Setiap hari melihat wajah sok berkuasa itu membuatnya muak. Kata-kata Jena menusuk tanpa sisa. Langit memalingkan wajah, teringat masa lalu ketika wanita itu diam-diam mencium keningnya dan berbisik cinta. Apa semua itu sandiwara?

“Pernikahan ini tak bisa diselamatkan,” ujar Jena tegas. “Cerai saja.” Ia lalu beranjak ke kamar, meninggalkan Langit dengan wajah merah padam.

Amarah Langit mencapai puncak. Untuk apa dipertahankan? Jika wanita itu ingin cerai, akan ia kabulkan. Biar saja Jena hidup melarat.

“Jordie!” teriaknya.

Asistennya segera datang membawa map. “Surat perjanjian cerai, Tuan.”

Namun sebelum pena menyentuh kertas, Jordie berbicara pelan. “Saya merasa ada yang aneh dengan sikap Bu Jena.”

Langit berhenti. “Apa maksudmu?”

“Ibu tak pernah seperti ini. Kalau pun pura-pura, masa seseorang bisa berpura-pura mencintai selama dua tahun?”

Langit terdiam.

“Kalau ibu memang matre, kenapa harus melunasi utang dulu? Padahal Tuan tak pernah menagih.”

Keraguan menyusup. Langit meletakkan pena. “Selidiki dulu. Aku tak mau menyesal.”

*

Di kamar, Jena mengunci pintu. Tangannya gemetar hebat, napasnya memburu. Ia tak boleh lemah. Harus terus bersikap kasar sampai Langit menceraikannya.

Ia membuka laci, menelan beberapa butir obat penenang. Perlahan dadanya terasa lebih ringan. Ia tak boleh terbawa emosi. Tak boleh lagi ada cinta.

*

Ingatan Langit melayang ke masa lalu.

“Operasinya gagal. Ibu tak tertolong.” Tatapan Jena saat itu masih jelas di benaknya. Mata merah, tubuh gemetar, tapi tak ada air mata.

Pernikahan mereka pun tak berangkat dari cinta. Ia butuh pasangan, ayah Jena butuh dana, dan biaya pengobatan ibunya ia tanggung. Jena tak punya alasan menolak.

Awalnya Jena terlihat tulus, patuh, dan manis. Namun keluarga wanita itu justru menjadi beban. Ayahnya meminta proyek, ibu tirinya menagih barang mewah. Semua membuat Langit muak.

“Keluarga benalu,” gumamnya. Ia membenci kemunafikan Jena yang terlihat soleha tapi menurutnya hanya mengincar harta. Ia marah karena tetap memberi, bahkan jatuh cinta pada tatapan polos istrinya sendiri.

“Pak,” Jordie datang membawa map biru. “Sudah dua minggu ini Bu Jena rutin ke klinik psikologi. Tiga kali pertemuan.”

Langit membuka map berisi foto-foto. Dadanya kembali sesak.

“Selain itu, ibu juga membeli obat penenang secara online.”

“Sejak kapan?”

“Sekitar dua bulan.”

Langit memejamkan mata. “Selidiki keluarga istriku. Hubungan mereka, aliran dana perusahaan, semuanya.”

“Baik, Pak.”

Langit menarik napas panjang. Setidaknya ia harus tahu—apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.

Bersambung

1/18 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSejujurnya, waktu baca dan nulis ulang kisah Jena dan Langit di part ini, aku langsung keinget banyak cerita rumah tangga yang kelihatannya bahagia, tapi aslinya sama sekali nggak seindah itu. Dari luar mungkin orang lihat, “Wah istrinya beruntung, tiap bulan dikasih dua puluh juta, hidup enak.” Padahal di balik uang bulanan yang kelihatan besar, ada harga diri dan perasaan yang pelan-pelan habis. Kalau kalian lihat headline kayak di gambar “BREAKING NEWS #3: istri bahagia diceraikan dan transfer ratusan juta ke suami”, orang pasti auto kepo. Kok bisa sih istri justru kelihatan lega, bahkan seperti bahagia, waktu cerai? Di cerita Jena, kita dikasih gambaran betapa lelahnya jadi perempuan yang tiap hari berusaha jadi istri baik, tapi selalu dipandang mata duitan dan benalu cuma gara-gara keluarganya. Lama-lama, kalau nggak kuat mental, siapa pun bisa runtuh. Bagian yang paling ngena buat aku justru saat Jena diam-diam minum obat penenang dan rutin ke klinik psikologi. Ini relate banget sama istri-istri yang sering dibilang kuat, sabar, solehah, tapi sebenarnya lagi berjuang sendirian. Suaminya mungkin cuma lihat permukaan: istri mulai dingin, ngomong kasar, minta cerai. Tapi nggak mau cari tahu kenapa perubahan itu terjadi. Baru setelah ada “breaking news” versi hidupnya sendiri—kayak laporan dari Jordie soal obat penenang dan konsultasi psikologi—Langit mulai sadar ada sesuatu yang nggak beres. Kalau kalian lagi di posisi mirip Jena, merasa terjebak di pernikahan yang bikin sesak, jangan tunggu sampai mental benar-benar jatuh. Cari bantuan profesional itu nggak salah, ngomong ke orang yang kalian percaya juga penting. Dan buat yang mungkin lebih relate sama posisi Langit, jangan cuma fokus ke uang yang keluar atau drama keluarga mertua. Kadang istrimu yang kelihatan cuek, judes, atau “tante-tante” yang dibilang matre itu sebenarnya lagi teriak minta dipahami. Aku pribadi suka konsep karakter yang kelihatannya seperti "istri bahagia diceraikan" padahal di dalamnya campur aduk: lega karena bebas dari tekanan, tapi juga hancur karena pernah benar-benar jatuh cinta. Di part-part selanjutnya, bakal makin kelihatan kok, apakah semua yang Jena lakukan cuma pura-pura, atau sebenarnya itu cara dia melindungi dirinya sendiri. Buat yang suka cerita pernikahan rumit, keluarga benalu, sampai isu kesehatan mental istri, wajib ikutin lanjutannya, karena di balik satu kalimat "cerai aja" selalu ada ratusan juta alasan yang nggak kelihatan.