DIKIRA TUKANG RUMPUT, TERNYATA KAYA AKUT (3)
POV Adzkiya
“Kamu lebih dari cukup, Kiya,” potongnya tegas. “Jawab. Apakah kamu bersedia Mas lamar sekarang juga?”
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa aku kira. Aku mematung beberapa saat dengan debar di dada yang mengg*la. Apakah aku tidak salah dengar? Apakah ini jawaban dari doaku yang kuucap setiap sepertiga malam?
Aku sudah lelah hidup sendirian.
Aku butuh seseorang untuk tempat bersandar.
Apakah orangnya itu adalah Mas Ardhan?
Sepasang mataku terasa panas. Air mata menyeruak hendak keluar saking harunya. Namun, aku coba tahan sekuat tenaga. Setelah sejenak menjeda, menetralkan gemuruh di dada, akhirnya aku mengangguk pelan.
Senyum terukir di bibir Mas Ardhan. Wajahnya yang teduh tampak bersinar di bawah terik matahari siang ini. “Terima kasih, Kiya,” ucapnya lirih.
Hening sejenak. Aku menunduk, memainkan ujung jilbab dengan jemari gemetar, menatap buket bunga kecil yang tadi sempat kupungut dari tanah setelah ditepis tangan Teh Sintia.
“Nanti malam Mas kabari kalau keluarga Mas sudah tiba, ya.”
“Iya, Mas.”
“Kamu gak perlu bilang detail ke Mama dan Ayah. Cukup minta mereka di rumah karena akan ada tamu yang melamar kamu.”
“T---Tapi, Mas … Mama pasti marah kalau gak ada persiapan.”
Mas Ardhan menggeleng pelan. “Mas yang bawa kue dan minuman. Kamu tinggal bantu sajikan.”
Aku mengangguk. Senang, malu, dan takut bercampur jadi satu. Selama ini, posisiku di rumah tak pernah benar-benar sebagai anak. Lebih sering seperti b4bu gratisan. Sekolah pun aku jalani berkat beasiswa, bukan karena mereka mau berkorban.
“Astagaaa Kiya! Dicariin dari tadi! Ayo bantu bawain barang-barang Sintia ke mobil!”
Suara Mama memecah kebahagiaanku. Wajahnya merah padam saat mendekat. Tatapannya ke Mas Ardhan tajam dan penuh kebencian.
“Heh, kamu! Ngapain deket-deket Kiya? Dia itu pembawa si4l!”
Mas Ardhan mengusap dada, mengucap istighfar. Tatapan kami bertemu sesaat—menguatkan. Ia mengangguk sopan, lalu pergi.
Tangan Mama menyambar buket bunga di tanganku.
“Apa ini? Bunga sampah!”
“Ma, jang—”
Bruk!
Buket itu diinjak hingga remuk. Dadaku sesak, tetapi aku hanya menunduk.
Hari itu berlanjut seperti biasa. Aku membawakan hadiah wisuda Teh Sintia. Duduk terpisah di restoran. Menahan lapar dan hinaan. Hingga sore, di dalam mobil, aku mengumpulkan keberanian.
“Ma, Yah … nanti sore jangan ke mana-mana. Ada yang mau datang ke rumah.”
Mama mendengus. “Siapa?”
“Ada yang mau melamar Kiya.”
Tawa Sintia meledak. “Melamar kamu? Siapa? Tukang sayur? Tukang bakso?”
Mama ikut mengejek. “Baguslah. Cepet dinikahin. Biar beban di rumah berkurang.”
Aku diam. Tanganku meremas bungkusan makanan sisa di pangkuan. Ayah hanya melirik lewat spion, lalu kembali membisu.
Sabar, Kiya … sebentar lagi, penyelamat itu akan datang.
Judul : DIKIRA TUKANG RUMPUT, TERNYATA KAYA AKUT
Author : EVIE YUZUMA
Selengkapnya yuk baca di kbmapp
Jujur, tiap kali orang bahas soal "mobil Sintia", aku selalu keinget hari pertama kali lihat mobil itu terparkir di depan rumah. Dari luar, orang mungkin lihatnya cuma sebagai simbol kesuksesan Teh Sintia dan calon suaminya. Tapi dari sudut pandangku, mobil Sintia itu lebih mirip pembatas yang makin nunjukkin jarak antara aku dan keluarga. Waktu itu, setiap ada acara keluarga, aku yang selalu kebagian tugas bersihin mobil Sintia. Lap bodi, bersihin interior, bahkan buang sampah bekas mereka di kursi belakang. Kadang aku duduk sebentar di jok depan, sambil bayangin gimana rasanya kalau suatu hari aku duduk di sana bukan sebagai pembantu, tapi sebagai pemilik atau minimal sebagai tamu yang dihargai. Tapi ya, begitu suara Mama atau Sintia kedengeran, aku langsung turun lagi, seolah mimpi barusan nggak pernah ada. Yang bikin mobil Sintia makin kerasa nyolok itu, karena tiap mereka ngomongin rencana masa depan, mobil itu selalu disebut. Jadi alat pamer, jadi bahan bangga-banggain diri. Sementara aku? Masa depanku cuma dianggap beban yang harus cepet-cepet disingkirkan. Sampai akhirnya Mas Ardhan datang dengan caranya sendiri yang nggak pernah aku duga. Setelah kejadian lamaran itu, aku baru tahu kalau hubungan Mas Ardhan dan Teh Sintia nggak seindah yang kelihatan. Banyak yang cuma lihat dari luarnya: pasangan mapan, mobil mewah, pesta megah. Padahal di balik layar, ada pengkhianatan, ada luka, dan ujung-ujungnya keputusan besar yang bikin semuanya berbalik arah. Di sinilah mobil Sintia tiba-tiba jadi simbol yang beda. Bukan lagi kebanggaan mereka, tapi saksi perubahan hidupku. Kalau lihat berita atau gosip yang beredar tentang "mobil Sintia" dan Mas Ardhan yang akhirnya melamar adik calon istrinya, orang mungkin mikir ini cuma drama sinetron. Tapi buatku, ini realita. Hari ketika aku berdiri di samping Mas Ardhan, dengan mobil mewah di belakang kami sebagai mahar, rasanya campur aduk. Bukan cuma soal materi, tapi tentang pertama kalinya aku ngerasa dipilih, bukan dijadikan pelampiasan atau beban. Dari pengalaman ini, aku jadi belajar kalau apa yang kelihatan di permukaan—termasuk soal mobil Sintia—nggak selalu nunjukkin kebenaran utuh. Di balik satu mobil mewah, bisa ada hati yang terluka, keluarga yang runtuh, tapi juga ada harapan baru buat orang yang dulu selalu diremehkan, kayak aku. Kalau kamu lagi merasa cuma figuran di hidup sendiri, mungkin suatu hari kamu juga bakal punya momen "mobil Sintia" versi kamu: titik balik yang nggak pernah kamu sangka-sangka.

