SED@R4H BUKAN KELUARGA (2)
Membalas
Bab 2
Mentari terisak di pusara Neneknya. Air matanya bercampur tanah merah yang menempel di pipi. Sejak tadi para tetangga membujuknya pulang, tetapi ia hanya menggeleng lemah. Ia belum sanggup pergi.
Matahari semakin meninggi, panas menekan ubun-ubun. Satu per satu orang yang mengantar pemakaman mulai meninggalkan lokasi. Sunyi pun menguasai, menyisakan Mentari yang masih berlutut, kepala direbahkan di gundukan tanah, seolah tengah bersandar pada dada renta Neneknya.
“Nek… katanya mau ke Mekah. Mau lihat Ka’bah dan makam Nabi,” isaknya lirih. “Katanya mau naik haji…”
Angin berembus pelan, tapi tak ada jawaban.
“Kita juga mau keliling dunia, kan? Mau lihat Aurora di Norwegia, salju di Korea, jalan-jalan ke Jepang…” Suaranya pecah. “Kenapa Nenek malah pergi? Terus aku hidup buat siapa?”
Bahu Mentari bergetar hebat. “Mentari enggak mau sendirian, Nek….”
Tak jauh dari sana, seorang pria berdiri terpaku. Berkacamata hitam, jas rapi, sepatu mengilap. Payung hitam menaunginya, dua pengawal dan Pak RT berdiri di belakang. Ia adalah Bintang—Putra Wiratama, kakak ketiga Mentari.
Isakan adiknya terdengar jelas, m e n u s u k. Pak RT hendak mendekat, tetapi Bintang menggeleng tipis. Ia ingin mendengar.
“Maafin Tari, Nek,” lanjut Mentari terisak. “Tari cuma nyusahin. Harusnya Nenek hidup tenang, bukan capek ngurus Tari….”
Bintang menghela napas panjang. Setidaknya gadis itu sadar diri, pikirnya.
Ia melangkah mendekat dan meletakkan setangkai bunga di atas pusara. Gerakan itu membuat Mentari menoleh. Mata sembabnya berubah tajam. Amarah lama menyala kembali.
Ia masih ingat jelas ucapan kakaknya bertahun lalu: Papa m a t i gara-gara ngelindungin elu. Harusnya elu yang m a t i.
“Sorry gue telat,” ucap Bintang santai. “Mama lagi di Sydney. Kak Langit di Singapura, Kak Bumi banyak kerjaan.”
Mentari tersenyum mencemooh. “Tuan Muda tidak perlu datang. Waktu Tuan Muda terlalu berharga.”
“Apa maksudmu?” Bintang menatap dingin.
“Saya bicara jujur. Waktu Anda terlalu m a h a l untuk hal remeh seperti kematian Nenek.”
Mentari berdiri perlahan. Kaki palsunya tersembunyi rapi di balik sepatu. Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkan pemakaman. Bintang memandang punggung adiknya yang menjauh, tak tahu bahwa gadis itu kini penyandang disabilitas—dan tak berniat mengejar.
***
Malam harinya, di rumah duka.
Mentari duduk di tikar, memeluk foto Nenek. Rambutnya kusut, matanya bengkak. Bintang duduk di sofa kulit, wajah lelah tapi tetap berwibawa.
“Kamu enggak perlu takut sendirian,” ucapnya. “Kamu boleh balik ke rumah. Semua sudah setuju.”
Mentari mendongak getir. “Tidak perlu. Serahkan saja jatah waris saya dan Nenek.”
BRAK!
Bintang menggebrak meja. “Kurang ajar! Rumah itu peninggalan Papa. Kamu mau kuasai lalu j u a l? Mau usir kami?”
Mentari tertawa pahit. “Menguasai? Sejak Papa meninggal saya bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke sana. Jadi siapa sebenarnya yang menguasai?”
Bintang terdiam sejenak, lalu membela diri. “Kami semua kerja keras jaga bisnis Papa. Tidak ada yang hidup enak.”
Mentari menatapnya tajam. “Hidup enak? Nenek delapan puluh tahun, sakit-sakitan, masih bekerja dari kebun ke kebun supaya aku bisa sekolah. Itu yang Anda sebut hidup enak?”
Ia menggenggam foto Nenek erat. “Saya tidak pernah minta warisan. Tidak pernah minta uang. Tapi ini—” suaranya bergetar, “—ini Nenek. Ibu Papa. Sampai hati kalian tidak pernah berbagi sedikit pun untuk beliau.”
Mentari menatap Bintang dengan mata basah penuh luka.
“Kalian biadab.”
...
Baca di KBM APP
Judul: Sedar4h Bukan Keluarga
Penulis: Nendia
Dalam cerita ini, kita diajak merasakan kedalaman hati Mentari yang terluka bukan hanya karena kehilangan nenek tercinta, tapi juga karena perasaan terasing dari saudara-saudaranya sendiri. Terlebih lagi, kisah ini membuka wawasan tentang bagaimana sebuah keluarga yang seharusnya menjadi tempat bersama dan saling mendukung dapat berubah menjadi tempat penuh kekecewaan dan kesedihan. Dari pengalaman Mentari, kita belajar bahwa kehadiran fisik dalam sebuah keluarga tidak selalu menjamin kehangatan dan rasa diterima. Terisolasi akibat kondisi fisik dan sikap dingin saudara-saudara, Mentari menghadapi perjuangan kompleks untuk membuktikan keberadaannya dan haknya dalam keluarga. Kisah ini juga menyinggung tentang pentingnya perhatian pada anggota keluarga yang rentan dan bagaimana sikap kita dapat berdampak besar pada kehidupan mereka. Saya sendiri teringat pengalaman ketika seorang kerabat disabilitas dalam keluarga kami sempat merasa diacuhkan, dan bagaimana dukungan kecil dari anggota keluarga lain mampu memberikan semangat baru bagi dirinya. Melalui perjalanan Mentari yang berjuang mempertahankan warisan dan keberadaannya, cerita ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti keluarga, keadilan, dan kasih sayang yang tulus. Selain itu, latar belakang yang memuat tokoh-tokoh dengan karakter kuat dan konflik batin mendalam menambah nilai emosional serta membuat cerita ini sangat relevan bagi banyak orang yang pernah merasakan kekecewaan dalam hubungan keluarga. Mengangkat tema sedarah yang penuh dengan dinamika rumit, cerita ini memberikan gambaran nyata sekaligus menyentuh, sehingga bisa jadi refleksi untuk kita yang ingin memahami esensi sebenarnya dari sebuah keluarga.

