PAPA MARTIN 143 (2)

Bab 2

Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang kediaman megah Keluarga Sandara. Para pelayan yang sedang menyapu dan merawat tanaman menghentikan aktivitas mereka, menatap mobil hitam itu dengan rasa ingin tahu.

Ketika pintu mobil terbuka, seorang pria tampan bertubuh tegap keluar sambil menggendong seorang gadis kecil bergaun putih. Keheningan seketika berubah menjadi bisik-bisik.

“Siapa anak yang digendong Tuan Martin?”

“Jangan-jangan anaknya dari pergaulan bebas?”

“Sst, diam. Mau dipecat?”

Bella menatap rumah besar di hadapannya dengan mata berbinar. “Ini rumah, Papa? Besar sekali.”

Martin tersenyum tipis—terlalu tipis hingga nyaris tak terlihat. “Sangat suka. Mulai sekarang kau akan tinggal di sini. Aku akan memperkenalkanmu pada nenek dan anggota keluarga lain.”

Ia melangkah masuk tanpa menghiraukan gosip para pelayan. Setibanya di ruang tamu, seorang wanita paruh baya langsung berdiri dengan wajah terkejut.

“Martin, anak siapa ini?”

“Dia putriku.”

Hening.

Iren Sandara mematung tak percaya. Putranya yang melajang lebih dari tiga puluh tahun tiba-tiba membawa seorang anak dan menyebutnya putri?

“Kakak, menculik anak itu pelanggaran hukum.” Nathan muncul bersama seorang bocah laki-laki sekitar sepuluh tahun.

“Papa tidak menculikku. Aku yang mau ikut papa,” kata Bella polos.

Martin menatap Nathan. “Kau dengar itu?”

Iren mendekat, terpaku pada wajah manis Bella hingga membuat gadis kecil itu takut. Bella langsung memeluk leher Martin erat-erat.

“Jangan takut, papa di sini,” ucap Martin lembut.

Alvian, keponakan Martin, tercengang. “Apa dia benar-benar Om Martin? Malaikat apa yang merasuki setan ini?” gumamnya.

“Sebenarnya dari mana anak ini?” Iren mulai menginterogasi. “Siapa ibunya? Apa benar anakmu?”

“Anak ini putri Hans Sanjaya dan Laras.”

Semua tertegun. Mereka mengenal kisah rumah tangga Hans dan Laras—perceraian penuh skandal enam tahun lalu, tuduhan perselingkuhan, dan pernikahan Hans dengan adik Laras hanya seminggu setelahnya. Sejak itu, Laras seolah menghilang.

“Dia benar-benar anak Hans?” tanya Iren pelan.

“Iya.”

“Kalau begitu kembalikan ke keluarganya,” sahut Nathan.

“Laras sudah meninggal dan Hans menolaknya. Aku memutuskan mengadopsinya. Mulai sekarang dia putri Martin Sandara.”

“Hubungan keluarga kita dengan Sanjaya itu—”

“Tentu saja tidak keberatan,” potong Iren. Ia mengambil Bella dari gendongan Martin dengan mata berbinar. “Sayang, aku nenekmu. Panggil nenek.”

“Nenek,” ucap Bella tersenyum.

“Ya Tuhan, manis sekali!” Iren gemas luar biasa.

Nathan memutar bola mata, merasa semua orang kecuali dirinya terlalu impulsif.

Iren membawa Bella ke ruang makan dan menyuruh pelayan menyiapkan hidangan. Saat makanan tersaji, Bella ternganga. “Woah… banyak sekali makanannya.”

“Kamu mau yang mana? Nenek ambilkan.”

“Aku boleh minta satu udangnya?”

“Tentu saja. Semuanya untukmu.”

Alvian menghela napas. “Nenek tidak pernah seperti ini padaku.”

“Dulu ada orang yang bilang malu disuapi karena sudah besar,” sahut Iren.

Alvian terdiam. Bella tiba-tiba menyodorkan udang ke mulutnya. “Kakak, jangan sedih. Biar aku yang suapi.”

“Ka-kamu? Siapa yang mau disuapi olehmu!”

Bella menunduk sedih dan menatap Martin. “Papa, apa aku salah?”

“Tidak. Lain kali jangan memberi perhatian pada orang yang tak mau menerimanya.”

Sikap lembut Martin membuat semua orang heran. Pria cuek dan otoriter itu kini sangat berbeda.

Malam turun di Jakarta. Lampu kota berkilauan seperti lautan bintang. Martin berdiri di lantai dua sambil merokok, menikmati sejenak ketenangan. Hingga suara tangisan lirih memecah keheningan.

Ia mematikan rokoknya dan melangkah cepat menuju kamar Bella.

---

Judul: Papa Martin 143

Penulis: Ogie_457

Baca selengkapnya di: KBM App

2/4 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita tentang Martin dan Bella ini sangat menyentuh, terutama melihat bagaimana seorang pria yang selama ini dikenal keras dan dingin, akhirnya menunjukkan sisi lembutnya setelah hadirnya Bella. Situasi yang awalnya penuh ketegangan dan kebingungan di antara keluarga Sandara berubah menjadi momen hangat dan penuh cinta. Dari pengalamanku, mengadopsi anak membawa banyak tantangan, termasuk menghadapi penilaian dari lingkungan sekitar. Seperti yang dialami Martin, gosip dan prasangka sering muncul, namun tekad kuat dan kasih sayang mampu mengalahkan semua itu. Penting untuk memberikan dukungan penuh kepada anak-anak yang membutuhkan keluarga, terutama yang mengalami nasib tragis seperti kehilangan orang tua. Selain itu, interaksi antara Bella dan anggota keluarga utama menunjukkan bagaimana kasih sayang dapat menyembuhkan luka lama. Misalnya, Bella yang polos dan ceria dengan mudah mencairkan suasana kaku di keluarga Sandara, bahkan membuat neneknya begitu sayang dan perhatian. Melihat juga gambaran suasana malam yang tenang di Jakarta, kita dapat merasakan betapa berat beban yang Martin pikul untuk menjaga anaknya. Cerita ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai dan melindungi keluarga, karena keluarga adalah tempat kita kembali dan merasa diterima apa pun keadaan kita. Bagi pembaca yang mungkin sedang mengalami atau mempertimbangkan mengadopsi anak, kisah ini bisa menjadi inspirasi bahwa cinta dan kesabaran adalah kunci utama dalam membangun ikatan keluarga baru.