TUMBAL GENGSI HARI RAYA 3
Membalas
***
"Ini bukan pedang-pedangan, Cah Bagus. Ini piring nasimu mulai besok."
Suara berat Pak Mamat memecah lamunan Reno. Pria paruh baya itu melemparkan sebatang sapu lidi yang gagangnya terbuat dari bambu kasar.
Brak.
Benda itu menggelinding, berhenti tepat di ujung sepatu kets Reno yang mulai kotor dan kusam.
Bocah lima tahun itu menatap nanar. Di rumah, sapu adalah benda terlarang. Mama Clarissa selalu melarangnya menyentuh benda berdebu agar napasnya tidak sesak. 'Itu tugas Bibi,' kata Mama dulu. Namun di gudang pengap ini, wangi lavender kesukaannya menguap tanpa sisa. Tidak ada Bibi. Tidak ada Mama.
Tangan kecil yang biasanya asyik menyusun balok Lego itu kini gemetar meraba gagang sapu. Serat bambu menusuk telapak tangannya yang halus. Terasa begitu berat, seberat beban yang tak seharusnya ditanggung seorang balita.
"Berat, Pak..." bisik Reno, bahunya merosot lemah.
"Lebih berat mana sama nahan laper?" sahut seorang anak yang lebih tua dengan tatapan dingin, merebut sapu itu dan mencontohkan cara menyapu koin receh dari aspal jalanan. Di Pantura, uang tidak jatuh dari langit. Uang dilemparkan dari kaca mobil, dan mereka harus bertaruh nyawa untuk meraihnya.
Reno menahan tangis yang mendesak di tenggorokan. Ia ingat kata Papanya sebelum meninggalkannya di tempat asing ini. Anak laki-laki harus kuat. Papa janji hanya sebentar. Tapi mengapa Papa belum juga datang menjemput?
Melihat Reno yang gemetar, Pak Mamat mendekat. Bukan pukulan yang mendarat, melainkan manipulasi psikologis yang meremukkan sisa kepolosan anak itu. Tangannya yang kasar membungkus tangan mungil Reno.
"Dengerin saya, Dek," bisik pria itu menekan ulu hati. "Kamu pikir bapakmu dapet uang dari mana buat sewa mobil mewah itu? Dia nyapu muka orang pakai janji manis. Di sini, kita main jujur. Kita nyapu koin sisa orang kaya. Anggap koin itu kunci buat buka gerbang biar kamu bisa pulang."
Sore itu, angin berhembus kencang membawa aroma solar dan debu jalanan yang menyengat. Di halaman gudang tua, Reno mulai mengayunkan sapu kotornya berulang-ulang.
Sret. Sret. Sret.
Debu beterbangan, menyusup masuk ke rongga hidungnya. Napas bocah itu mulai berbunyi—ngik, ngik. Dadanya terasa berat dan sempit, seolah ada sabuk besi tak kasat mata yang melilit paru-parunya. Wajahnya memerah, menahan dampak psikologis dari kepanikan yang luar biasa.
"Reno... butuh... semprotan ajaib Mama..." bisiknya parau. Air mata akhirnya lolos, membasahi pipinya yang kotor oleh debu. "Dada Reno sakit..."
Namun, tak ada keajaiban di sana. Hanya ada ancaman halus yang memaksanya terus bertahan, mengikis masa kecilnya secara paksa. Ia terus menyapu, menahan sesak, tersenyum rapuh saat berhasil menarik kepingan koin demi mengumpulkan 'poin' untuk pulang.
Matahari perlahan tenggelam, menyisakan siluet langit kelabu. Deru ban truk gandeng dari kejauhan menderu membelah malam, bagaikan raksasa kelaparan yang siap menelan anak-anak malang penebus dosa orang tua mereka.
Besok adalah hari raya. Hari di mana orang kaya membuang recehan, dan nyawa Reno akan dipertaruhkan di atas panasnya aspal Jembatan Sewo.
🧹🚛💔
Reno bersiap terjun ke jalanan ganas Pantura! Dengan napasnya yang semakin sesak dan tanpa obat andalannya, sanggupkah tubuh mungil itu bertahan melawan deru bus dan truk demi sekeping koin? Ataukah ambisi orang tuanya akan menjadi akhir dari segalanya?
Baca kelanjutannya di KBM App
Judul Novel: Tumbal Gengsi Hari Raya
Penulis: mailaffcl













































