THR SUAMIKU BUKAN UNTUKKU (KARENA AKU HANYA MENANTU) 2

Cuplikan bab 1b

"Ji, Mas sudah bilang berkali-kali, kan? U ang Mas itu pas-pasan. Mas ini jadi tulang punggung keluarga setelah Bapak nggak ada. Mas punya tanggung jawab sama ibu dan adik-adik. Kamu sebagai istri harusnya paham posisi Mas, bukan malah nambah beban pikiran."

"Beban pikiran?" Aku mengulang kata itu dengan getir. Jadi, keinginan seorang istri dianggap beban? "Jadi, keinginanku dianggap beban ya, Mas? Tapi untuk sepatu baru Rara yang bermerk dan har ganya ma hal itu… bukan beban buat Mas?"

Rara mendelik ke arahku. "Ih, Mbak Jihan! Ini kan lagi tren, masa aku pakai sepatu butut, sih? Malu dong sama temen-temen sekelas! Mas Rafi aja nggak keberatan, kenapa Mbak Jihan malah sewot?"

"Sudah, sudah!" potong Mas Rafi tegas. "Ji, mendingan sekarang kamu ke dapur. Piring kotor numpuk, belum lagi kamu harus nyiapin buat sahur nanti. Kita ini lagi buka puasa, jangan bikin panas suasana."

*

Baru saja kunyalakan kran, Rena masuk dan tanpa permisi meletakkan gelas kotornya tepat di atas tanganku yang sedang penuh sabun.

"Mbak, nanti sekalian setrikain baju kerjaku, ya? Aku mau pergi bukber bareng temen kantor, nggak sempet nyetrika," perintahnya tanpa beban.

"Mbak lagi pusing, Ren. Setrika sendiri kan, bisa?" jawabku pelan.

Rena langsung berkacak pinggang. "Halah, gaya banget pusing! Paling cuma pusing karena nggak dapet amplop, kan? Makanya Mbak, jadi orang itu yang ikhlas. Pantes aja Mas Rafi lebih sayang sama kita, orang Mbaknya aja begini."

"Mbak! Itu Ibu manggil. Katanya kepalanya pusing lagi. Cepetan ke sana, pijitin! Tadi Mbak masaknya keasinan kali, makanya darah tinggi Ibu kumat," seru Roni yang tiba-tiba muncul.

*

"Lama banget sih, Ji? Istri itu harus sigap kalau mertua sakit," tegur Mas Rafi begitu aku masuk.

"Tadi lagi nyuci piring, Mas," jawabku singkat sambil mulai memijat kaki Ibu yang terasa dingin.

"Alasan terus," gumam Ibu Mertua ta jam. "Rafi, besok be likan Ibu obat yang di apotek depan itu ya. Yang har ganya lima ratus ri bu itu lho. Ibu ngerasa cocok pakai itu."

"Iya, Bu. Besok Rafi be likan," jawab Mas Rafi lembut. Sangat lembut. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari cara dia bicara padaku tadi.

U ang buat be li obat lima ra tus ri bu ada. Be li sepatu Rara bisa. Cicilan motor Rena ada. Tapi buat be li mukena seratus ri bu untuk istri sendiri, dia bilang u angnya pas-pasan.

*

"Besok bangun lebih pagi, Ji. Ibu pengen makan ketupat sayur buat sahur. Jangan malas-malasan terus," ucapnya dingin.

"Mas, kalau suatu saat aku menyerah, apa Mas bakal ngerasa kehilangan atau malah ngerasa beban pikiran Mas berkurang satu?"

Mas Rafi mendengus, menganggap pertanyaanku hanya angin lalu. "Nggak usah banyak drama deh, Ji. Masih untung kamu punya suami yang tanggung jawab kayak aku. Ingat, di luar sana banyak janda yang pengen berada di posisi kamu. Tinggal di rumah, enak tanpa perlu mikir biaya apa-apa."

"Mas benar, aku nggak perlu mikir biaya apa-apa, karena memang nggak ada satu ru piah pun u angmu yang sampai ke tanganku untuk kupikirkan. Tapi Mas lupa satu hal..."

Mas Rafi menoleh sedikit, "Apa?"

Aku menatap panci kosong itu dengan tatapan yang juga kosong.

"Sabar itu ada batasnya, Mas. Dan malam ini, sepertinya aku sudah sampai di garis paling ujung."

"Maksudmu apa, Jihan?"

"Tunggu saja besok pagi, Mas. Saat matahari terbit, Mas bakal tahu siapa yang sebenarnya beban di rumah ini."

Bersambung…

Selengkapnya di KBM App

Judul : THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)

Penulis : Dhea Sukma

3/28 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman ini sangat menggambarkan bagaimana sulitnya posisi seorang istri yang juga menantu dalam keluarga besar. Dalam kisah ini, sang istri harus menghadapi kenyataan bahwa uang THR suaminya tidak pernah sampai padanya, melainkan habis untuk keluarga suami lainnya, seperti ibu dan adik-adik suaminya. Hal ini tentu membuat perasaan istri menjadi tersisih dan merasa tidak dihargai, terutama ketika kebutuhan dan keinginannya dianggap sebagai beban pikiran oleh suaminya. Sementara itu, keluarganya sendiri bisa mendapatkan fasilitas yang cukup, seperti sepatu bermerek dan cicilan motor, tetapi dia harus berjuang untuk sekadar membeli mukena yang harganya terbilang murah. Saya pernah mendengar cerita serupa dari teman yang mengalami dinamika serupa dalam rumah tangganya. Suaminya mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga besar dengan dalih tanggung jawab kepada orang tua dan saudara-saudaranya, sehingga istri selalu berada di posisi kedua atau bahkan tidak diperhitungkan. Dalam budaya kita, khususnya di beberapa keluarga, peran menantu memang terkadang kurang mendapat apresiasi. Menantu perempuan seringkali dianggap sebagai tamu atau pembantu yang harus pasrah dengan apa pun yang terjadi dalam rumah tangga dan keluarga suami. Padahal, istri juga berhak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan dari suaminya. Situasi seperti ini harus disikapi dengan bijak. Komunikasi terbuka antara suami dan istri sangat penting agar beban pikiran dan persoalan keuangan dalam rumah tangga dapat dibicarakan secara jujur dan adil. Suami juga perlu memahami bahwa memberikan perhatian dan dukungan finansial kepada istri bukan hanya kewajiban, tetapi juga bentuk penghargaan dan cinta dalam pernikahan. Kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa kesetaraan dan keadilan dalam keluarga sangat penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Istri yang merasa diabaikan dan menjadi beban justru bisa berujung pada keputusan-keputusan yang mengejutkan dan merugikan semua pihak. Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya menghargai peran setiap anggota keluarga, termasuk menantu, dan menjaga komunikasi yang sehat agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari.