KUSIRAM KELUARGA SUAMI DENGAN KILAU HARTAKU 3
Membalas
"Ada apa, Rima?"
"Itu ... Mbak Tia mau mudik ya? Kok bawa koper gede banget. Tapi suaminya kok nggak ikut?" sidik Teh Rima, sontak membuat Bu Asih kebingungan.
"Mudik? Kata siapa? Orang si Tia aja ada kok di rumah, paling juga lagi tidur sambil main hape."
"Oooo ... berarti Bu Asih nggak tau yaa kalau Mbak Tia mau pulang ke rumah orang tuanya," ledek wanita itu, ia suka sekali melihat wajah mertua Tia yang mendadak masam.
"Eh, jangan sok tahu kamu, Rim. Orang tua Tia sudah meninggal. Dua-duanya, sekarang dia yatim-piatu, Mustahil dia mau balik ke rumah bapaknya, yang ada malah kena omel sama saudara-saudaranya," jelas Bu Asih sedikit sewot.
"Oooo berarti mudik ke tempat lain kali ya, Bu. Soalnya kan kalo cuma main aja, nggak mungkin bawa koper besar yang isinya semua baju-baju Mbak Tia selemari."
"Kamu ngomong apa sih, Rim? Siapa yang mudik? Siapa juga yang pergi? Tia ada kok di rumah. Mana berani dia angkat kaki dari rumah saya. Yang ada malah jadi gelan dangan."
"Eh, siapa tahu, Bu. Mungkin aja Mbak Tia udah nggak tahan jadi ba bu gratisan di rumah Ibu, makanya dia nekat pergi."
Wanita tua itu sedikit kesal dengan tudingan Teh Rima. Ia pun bergegas pulang dan memastikan bahwa Tia, menantunya ada, dan tidak pergi ke mana-mana.
"Nenek, Bi Tia mana?" tanya Bagas, tepat saat Bu Asih membuka pintu depan.
"Nenek baru pulang, Gas. Kan yang di rumah dari tadi kamu, kok tanya sama Nenek," jelas Bu Asih, ia mencoba untuk tenang, meski sebetulnya rasa takut kian menggerogoti pikirannya. "Paman Roni mana?"
"Ada di kamar."
'Oohh syukurlah,' batin Bu Asih. Bila putranya tidak kemana-mana, itu artinya menantunya tidak pergi jauh, tapi ... 'Kenapa Rima tadi bilang kalau Tia pergi bawa koper besar?' Batin Bu Asih terus berisik dan berbisik, dan mengatakan bila ucapan Rima tadi memang betul.
Ia pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Bagas yang terus celingukan mencari Bibinya. Sesampainya di dapur, mata wanita tua itu semakin terbelalak saat melihat seisi dapur masih berantakan sama seperti saat sebelum ia pergi ke rumah adiknya kemarin. Ia pun melangkah ke kamar mandi, berharap semua pakaian kotor sudah tersusun rapi di jemuran, tapi kenyataannya ... baju-baju itu masih berlumbuk di dalam baskom.
"Ke mana si Tia? Apa matanya buta? Apa dia tidak lihat rumah berantakan kayak kapal pe cah gini?!" ketus Bu Asih kesal.
Menyadari bahwa ucapan Rima semakin lama, semakin benar, ia pun pergi ke kama r putranya.
Ceklek ...
Pemandangan yang menyesakkan dad a. Putra bungsunya itu sedang berbaring santai, kaki di go yang, dan jari asyik mengg ulir layar ponsel.
"Kemana istrimu?" sentak Bu Asih, sontak membuat Roni seketika menoleh.
"Pergi," sahutnya acuh.
"Pergi? Pergi ke mana?!"
"Minggat, nggak tau kemana."
"Astagfirullah, Roni ... jadi yang di katakan Rima tadi betul? Kalau istrimu pergi?! Kenapa? Kenapa kamu biarkan istrimu Pergi, Roni?!"
🌿🌿🌿
Selengkapnya di aplikasi KBM APP
Judul : Kusiram Keluarga Suami dengan Kilau Hartaku
Penulis : Perarenita
Dalam kehidupan rumah tangga, terkadang tekanan dari keluarga suami bisa menjadi sumber konflik yang pelik. Kisah Tia yang nekat pergi meninggalkan rumah dengan membawa koper besar seolah menjadi titik balik bagi hubungan dengan mertua dan suaminya. Melalui pengalaman saya pribadi, saya pernah melihat betapa pentingnya komunikasi yang terbuka dan jujur antara menantu dan keluarga suami untuk menghindari kesalahpahaman yang berlarut-larut. Sikap Bu Asih yang skeptis dan penuh kekhawatiran terhadap keputusan Tia mencerminkan kekhawatiran banyak mertua yang takut kehilangan anggota keluarga mereka. Namun demikian, sebagai menantu, Tia juga menghadapi tekanan tersendiri, yang kadang membuatnya merasa tertekan hingga memilih pergi. Ini mengingatkan saya betapa pentingnya saling pengertian dan empati dalam keluarga besar. Lebih menarik lagi, kisah ini mengangkat tema "kilau hartaku," yang memberikan sentuhan dramatis berupa harta warisan luar biasa yang ternyata menjadi salah satu faktor penguat konflik sekaligus solusi dalam cerita. Harta warisan bisa menjadi berkah sekaligus sumber masalah jika tidak dikelola dengan kebijaksanaan dan komunikasi sehat di keluarga. Saya juga merasakan bagaimana kisah ini mengajak pembaca untuk refleksi tentang peran setiap anggota keluarga dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, terutama saat menghadapi masalah berat yang bisa memicu rasa tidak percaya dan perpecahan. Tia yang membawa koper besar itu bisa diibaratkan sebagai simbol beban batin yang selama ini dipendam. Akhirnya, cerita ini mengingatkan kita semua bahwa di balik kesenjangan dan drama keluarga, selalu ada kesempatan untuk memahami dan memperbaiki keadaan—selama ada niat baik dan usaha dari semua pihak. Untuk para pembaca yang mengalami situasi serupa, jangan ragu untuk mencari dukungan dan berbagi cerita agar beban pikiran bisa dikurangi dan solusi terbaik ditemukan bersama.

