KEPINGAN EMAS PENINGGALAN EMAK 3
“Mbak! Aku tidak pernah kirim pesan kurang ajar itu!” teriakku di depan Mbak Ambar. Saat ponsel itu berpindah tangan, duniaku seolah berputar. Pilihan katanya, susunan kalimatnya—semua itu milik Mas Imran.
“Kami semua diblokir, Hayu,” ucap Mbak Ambar dingin.
Aku terperangah. Saat kuperiksa ponselku, semua nomor keluarga memang masih ada, tapi digit tengahnya telah diganti secara halus.
Mas Imran tidak hanya mengurungku, ia menciptakan isolasi sempurna dengan memalsukan kontak keluargaku sendiri.
Aku mengira mereka membuangku, padahal mereka menungguku pulang hingga napas terakhir Emak.
Pemakaman berlangsung cepat di bawah langit yang tumpah. Saat pelayat pulang, aku meraung di atas pusara, membiarkan petir menyamarkan tangisanku. Ikhlas adalah hal yang tak sanggup kugapai saat ini.
Malamnya, di dalam kamar Emak yang sunyi, aku menemukan secarik kertas yang jatuh dari lemari tua. Tulisan tangan Emak yang gemetar menyapa lewat surat wasiat:
> *"Rahayu, cah ayuku... Emak tahu hidupmu tidak mudah. Ingat nama ini: **Bu Niluh Maharani**. Dia akan datang tanggal sepuluh April. Dan satu lagi, gali tanah di bawah meja pawon. Ambil apa pun yang kamu temukan di sana. Semoga cukup untuk membuka jalanmu yang tertutup..."*
>
Dengan jantung berdebar, kugeser meja dapur dan menggali tanah gembur di bawahnya. Sebuah kendi cokelat muncul. Saat tutupnya dibuka, kilau kuning memantul ke wajahku. Puluhan keping emas murni.
Emak, yang hidupnya terlihat begitu papa, mewariskan harta yang bisa mengubah segalanya. Namun, rasa senang itu segera berganti ketakutan. Dari mana Emak mendapatkan semua ini?
Pagi hari, aku berniat mengecek keaslian keping itu ke kota. Tanpa sengaja, aku bertemu Mas Toni, suami Mbak Rini, yang menawarkan tumpangan.
"Aku mau cek ini, Mas," kataku sambil menunjukkan satu keping emas.
Mobil mendadak mengerem tajam. Wajah Mas Toni pucat pasi. "Dari mana kamu dapat itu, Hayu?" tanyanya dengan nada yang tak biasa.
Aku berbohong, menyebutnya sebagai hadiah undian. Karena toko emas belum buka, Mas Toni menawarkan bantuan. "Titipkan padaku saja, biar aku cek ke langganan Rini di pasar nanti. Kamu pulanglah, kasihan anak-anak."
Aku ragu sejenak, namun akhirnya menyerahkan keping itu padanya. Aku turun dari mobil dengan harapan tipis, tanpa menyadari bahwa kejutan besar—dan mungkin bahaya baru—sedang menanti di balik kilau emas yang kutinggalkan di tangan orang lain.
**
Judul Kepingan Emas Peninggalan Emak
Penulis Filanditha Ltf
Baca selengkapnya di KBM Apps


















