KUKIRA JANDA GATAL TERNYATA BIDADARI SURGA (1)

Bab 1

Gil4. Ini benar-benar gil4.

Baru tiga hari yang lalu, pangkat perwira disematkan di pundakku. Masa depanku terbentang luas bak jalan tol yang mulus. Mama bahkan sudah menyusun rencana besar: sebuah pesta pertunangan megah dengan Dr. Karina, spesialis jantung, putri rekan sejawat Papa yang terhormat. Wanita berkelas, berpendidikan, dan setara dengan keluarga Atmajaya.

Lalu sekarang? Adik kandungku sendiri, Haikal, meningg4l dunia dan mewariskan "s4mpah" masa lalunya padaku?

"Alika..." Aku mendesis menyebut nama itu. Rasanya pahit di lidah.

Nama yang menjadi r4cun di keluarga besar kami selama dua tahun terakhir. Wanita misk1n, mantan pelay4n b4r, yang entah menggunakan guna-guna jenis apa hingga membuat Haikal—adikku yang polos itu—rela diusir keluarga demi menikahinya. Mama selalu bilang dia wanita gat4l, lintah dar4t yang berlindung di balik topeng agama setelah Haikal memungutnya dari jalanan.

Dan sekarang aku harus memungut 'bek4s' adikku sendiri? Menjadikan janda adikku sebagai istriku?

"Bagaimana, Pak Pandu? Wasiat ini mengikat aset warisan Pak Haikal juga. Jika Bapak menolak, seluruh aset akan disumbangkan ke yayasan, dan Bu Alika tidak akan mendapat perlindungan apapun dari keluarga."

Aku menarik napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa kewarasanku sebagai seorang abdi negara. Kehormatan. Janji. Hanya itu yang tersisa.

"Oke," putusku dingin, mematikan segala rasa. "Saya akan nikahi dia. Hitung-hitung sedekah terakhir untuk Haikal. Tapi catat ini baik-baik, Pak Pengacara... pernikahan ini akan dimulai tanpa cinta, dijalani dengan kebencian, dan berakhir di pengadilan agama tepat di hari ke-365."

Aku berdiri, merapikan seragam dinasku yang sedikit kusut karena emosi. "Mana perempuannya?"

"Bu Alika ada di ruang tunggu depan, Pak."

Tanpa basa-basi, aku melangkah lebar keluar ruangan. Sepatu lars-ku menghentak lantai marmer dengan keras, menciptakan gema yang mengintimidasi siapa pun yang mendengarnya.

Di ruang tunggu yang sepi itu, berdiri sesosok wanita dengan gamis hitam yang tampak lusuh. Kain itu kebesaran di tubuhnya yang kurus. Dia membelakangiku, menatap jendela kosong. Bahunya terlihat rapuh, tapi aku tahu, itu mungkin hanya taktik untuk memancing simpati. Wanita seperti dia pasti ahli dalam berakting.

"Alika." Panggilku datar.

Tubuh itu tersentak. Dia berbalik perlahan. Sepasang mata di balik cadar hitam itu menatapku. Ada kilatan takut di sana, tapi entah kenapa, matanya terlihat sangat bening. Bening yang menipu.

"Lihat saya! Kamu tahu isi wasiat gil4 suami kamu?"

Dia mengangguk pelan, jemarinya meremas ujung khimar-nya. "Iya, Mas. Aku tahu."

Suaranya lembut, tapi itu justru membuat perutku mual. Sandiwara apa lagi ini? Wanita b4r yang berlagak menjadi ustadzah?

"Bagus. Kalau begitu jangan banyak tanya. Kita ke KUA sekarang. Saya tidak punya waktu seharian untuk mengurus drama murah4n ini. Pernikahan ini harus selesai sebelum jam makan siang."

Aku berbalik badan, melangkah menuju pintu keluar. Kunci mobil sudah di tangan. Namun, langkah kaki di belakangku tak terdengar. Aku berhenti dan menoleh kasar. Dia masih mematung di tempatnya.

"Tunggu apa lagi? Mau saya gendong? Atau mau saya seret?" sindirku taj4m.

"Maaf, Mas..." Dia menunduk dalam, suaranya bergetar namun terdengar keras kepala. "Saya tidak bisa satu mobil berdua dengan Mas Pandu. Kita belum sah. Itu haram. Kita bukan mahram."

Aku ternganga sesaat, sebelum akhirnya tawa sinis lolos dari mulutku. "Hah?"

Luar biasa. Seorang janda yang dituduh pel4cur oleh ibuku, wanita yang kata Mama sering 'dip4kai' banyak pria hidung bel4ng, sekarang sedang mengajari seorang perwira polisi tentang hukum agama?

"Kamu sedang bercanda?" tanyaku dengan tatapan meremehkan. "Kamu pikir saya bern4fsu menyentuhmu di dalam mobil?"

***

Judul: Kukira Janda Gat4l, Ternyata Bidadari Surga

Penulis: Sungmii

Aplikasi: KBM

4/20 Diedit ke

... Baca selengkapnyaTerus terang, sebelum kenal cerita "Kukira Janda Gatal, Ternyata Bidadari Surga", tiap ada gosip tentang janda di lingkungan rumah, pikiranku langsung negatif. Istilah "janda gatal" dan "momok janda" sudah keburu nempel di kepala, seolah status janda otomatis identik dengan perusak rumah tangga. Padahal setelah baca bab demi bab, khususnya menjelang bab 27, aku sadar betapa kejamnya stigma itu. Di cerita ini, Alika digambarkan sebagai janda yang dicap buruk oleh keluarga suaminya sendiri. Ibunya Haikal sampai menyebutnya "janda gatal", "mantan pelayan bar", dan macam-macam label lain yang menyakitkan. Tapi justru di balik segala cemoohan itu, pelan-pelan kebongkar kalau Alika punya sisi lain: menjaga kehormatan, patuh sama aturan agama, bahkan menolak satu mobil bareng Pandu sebelum sah jadi suami istri. Di titik itu aku mulai mikir, mungkin banyak janda di dunia nyata yang sebenarnya mirip Alika, hanya nggak punya kesempatan untuk menjelaskan siapa diri mereka sebenarnya. Kalau kamu lagi cari informasi atau sekadar pengen tahu lebih dalam soal momok janda dan kenapa istilah janda gatal bisa setegang itu di masyarakat, kisah ini relevan banget. Ceritanya nggak cuma jualan romansa drama antara perwira dan janda adiknya, tapi juga nunjukin bagaimana tekanan sosial, gosip tetangga, sampai pandangan orang tua bisa membentuk opini kejam tentang seorang perempuan. Di bab-bab berikutnya (termasuk kelanjutan seperti bab 27 yang sering dicari), karakter Pandu pelan-pelan dipaksa menghadapi kenyataan bahwa penilaian keluarganya mungkin salah. Dari pengalaman pribadi, setelah ikut hanyut di cerita ini, cara aku bersikap ke teman atau tetangga yang berstatus janda jadi beda. Lebih nahan diri buat nggak ikut-ikutan melabeli, dan mulai denger dulu cerita dari sisi mereka. Kadang mereka cuma korban keadaan, entah karena perceraian, KDRT, atau ditinggal mati pasangan. Label "janda gatal" dan menjadikan mereka momok keluarga justru bikin mereka makin terpojok dan susah bangkit. Jadi kalau kamu masuk ke artikel ini gara-gara nyari "janda gatal" atau "momok janda", coba jadikan kisah Alika dan Pandu sebagai bahan refleksi. Bukan cuma mengikuti alur romance-nya yang bikin penasaran, tapi juga belajar bahwa status nggak pernah menentukan kemurnian hati seseorang. Sama seperti judulnya, kadang yang kita kira "janda gatal" ternyata justru bidadari surga yang sabarnya nggak kelihatan di permukaan. Di situlah menurutku nilai utama cerita ini: mengajak pembaca pelan-pelan membongkar stigma dan berani melihat manusia di balik label yang selama ini kita yakini.