KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU 1
“Tenang saja, Sayang. Saat ini, akta perusahaan sedang aku daftarkan di notaris, kakakmu sudah setuju untuk keluar dari deretan komisaris dan direksi. Lalu, sehari sebelum menikah … kamu bisa bilang sama ayah kalau kamu memang sudah mengandung anakku. Jadi, pengantin perempuannya nanti bisa diganti sama kamu. Ck, rencana yang sempurna bukan?”
DEG!
Dadaku seperti dihantam berton-ton baja panas. Nyeri, sesak, dan sakit menjalar sampai ke tenggorokan. Aku mematung di depan pintu kamar rumah dua lantai yang selama ini kuanggap akan menjadi surga rumah tanggaku. Tanganku gemetar menggenggam kartu akses.
Suara Indra kembali terdengar, disusul tawa manja Dinar.
“Aku deg-degan, Mas.”
“Tenang, sayang. Nira pasti mundur kalau tahu kamu hamil. Perusahaan animasi ini akan jadi milikku, dan pernikahan mewah ini rezeki buat kamu.”
Setelah itu, suara-suara menjijikkan mulai terdengar. Mual langsung naik ke tenggorokanku. Ingin rasanya aku mendobrak pintu dan menjambak mereka berdua, tetapi aku memaksa diri tetap diam. Aku tak boleh gegabah. Perusahaan itu kami bangun bersama, dari nol, dari lembur malam dan tabungan yang kukumpulkan sedikit demi sedikit.
Dengan napas tertahan, kutempelkan kartu akses ke pintu. Pelan sekali aku mendorongnya agar tak menimbulkan suara.
Pemandangan di atas r4njang membuat isi perutku bergejolak. Dengan tangan bergetar, aku mengangkat ponsel dan menekan tombol rekam. Air mataku mengaburkan layar, tetapi aku memaksakan diri merekam pengkhianatan itu. Lima menit terasa seperti seumur hidup. Setelah cukup, aku keluar dan menutup pintu dengan tangan gemetar.
Aku meninggalkan rumah itu dengan kaki lemas, mengayuh sepeda tanpa arah sambil menangis. Semua biaya pernikahan, gedung, dekorasi, katering—semuanya dari tabunganku. Indra hanya berjanji akan mengganti setelah menikah. Bodohnya aku, percaya begitu saja.
Kakiku terus mengayuh hingga tiba di tepi sungai. Senja mulai turun, membawa dingin yang menusuk.
“Aaaaaarghhhhhh! Baj*ngaaaaaan!! Kurang ajaaaaaar kaliaaaan!!!”
Aku berteriak sekuat tenaga, lalu jatuh berlutut. Isak tangisku pecah.
Bayangan Dinar kembali muncul di kepalaku. Adikku sendiri. Anak yang selama ini kubiayai kuliahnya, yang kubanggakan, yang ingin “seperti Mbak Nira”. Ternyata maksudnya adalah mengambil tempatku—di perusahaan, bahkan di sisi laki-laki yang hampir menjadi suamiku.
Entah berapa lama aku menangis di sana sampai akhirnya ponselku berdering. Nomor baru. Kuabaikan, tetapi bordering lagi dan lagi, hingga akhirnya aku mengangkatnya.
“Hallo!”
“Hay, Gula Aren!”
Aku menatukan alis, suara berat itu terasa asing. Namun, panggilan itu rasanya familiar. Gula Aren? Hanya satu orang yang sejak kecil sering mengejekku dengan kalimat itu, Mas Daru---kakak kelasku waktu SD dulu. Namun, sejak neneknya meninggal, sudah bertahun-tahun lamanya kami tak bertemu. Katanya, dia tinggal di Jakarta. Ada apa dia menelponku?
“Masih ingat aku gak?”
“M--Mas Daru?”
Terdengar kekehan di seberang.
“Kirain lupa … btw selamat, ya?”
Aku menarik napas kasar. “Kayaknya gak jadi, Mas. Kalau ada yang mau beli, paket WO-nya pengen aku jual.”
“Loh, bercanda kok kelewatan.”
“Enggak, aku serius … atau … kalau Mas Daru mau beli, aku kasih diskon deh 50% dari harga awal, asalkan deal sekarang.”
Hening sejenak.
“Kamu di mana sekarang?”
“Mau ngapain nanya-nanya?”
“Aku mau beli paket WO-nya, gak usah diskon cuma minta bonus saja.”
Aku memutar bola mata.
“Ck, udah tahu temen susah, minta bonus. Mau bonus apa?”
“Bonus mempelai wanitanya.”
Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya yuk baca di KBM App

























































