KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU 2
Sejak pulang dari bersepeda sore ini, aku memilih mengurung diri di kamar. Suara ketukan terdengar, lalu pintu terbuka dan wajah Dinar muncul dengan senyum polos yang kini terasa begitu palsu.
“Mbak, ditunggu ayah sama Ibu buat makan malam.”
Wajah yang dulu selalu membuatku berjuang keras demi masa depannya, kini justru terasa seperti duri yang menusuk dada.
“Hmmm … kalian duluan saja.”
“Mau jadi manten kok lemes gitu. Ayo semangat, dong!”
Dia duduk di tepi r4nj4ng, melirik tablet di tanganku.
“Dih, malah main games.”
“Ya, lagi latihan.”
“Latihan apa?”
“Latihan buat ngancurin rencana jahat seseorang.”
Aku menatapnya tajam. Sesaat kulihat wajahnya berubah, tetapi hanya sebentar. Setelah itu senyum manisnya kembali terpasang.
“Aku makan duluan ya, Mbak.”
Aku bergumam malas. Lekas aku kembali melanjutkan games yang ada di tabletku hingga kepalaku terasa berat. Rasa lelah mendera hebat.
Aku melemparkan tablet yang masih terbuka ke samping. Kukecilkan volume AC agar kamar bertambah dingin. Namun, rasa dingin yang mencekik ini, tak bisa mendinginkan otakku yang mendidih. Rasanya rumah ini mulai terasa asing. Setiap sudut menyimpan wajah orang-orang yang kupercaya, tetapi diam-diam menusuk dari belakang.
Baru saja kulempar remote AC, suara pintu kamar diketuk, kali ini muncul wajah Ibu.
“Aku belum mau makan, Bu.”
Aku kira, Ibu mau menyuruhku makan, seperti Dinar. Namun, salah.
“Itu ada tamu diluar, nunggu.”
Aku menautkan alis, “Siapa?”
“Nak Daru.”
Aku spontan bangkit.
“Mas Daru?”
“Iya, cepat temui.”
Aku segera turun. Rumah kami yang dulu sederhana kini sudah berubah menjadi dua lantai yang cukup megah.
Di teras, seorang lelaki berdiri membelakangiku. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, rambut ikalnya dikuncir rapi. Saat dia menoleh, aku sempat terdiam.
Wajah jahil masa kecil itu kini berubah jauh lebih dewasa. Rahangnya tegas, matanya tajam, tetapi senyumnya masih sama.
“Ehmmm, gak usah bengong gitu, kayak yang baru pertama saja lihat orang ganteng?”
Aku tersentak.
“Takutnya gak napak tanah. Baru aja nelpon kok udah tiba.”
Dia tertawa kecil.
“Tadi sudah di jalan, Nira. Buru-buru ke sini buat mastiin sesuatu.”
Aku mempersilahkannya duduk.
“Mastiin apa, Mas?”
Dia menatapku lekat.
“Yang kamu tawarkan tadi … apa masih berlaku?”
Aku langsung mengerti. Soal paket pernikahan itu.
Aku melirik ke dalam rumah, takut ada yang mendengar.
“Ahmmm … tahu gejrot yang di depan perempatan situ enak, loh, Mas.”
Dia mengangkat satu alis, lalu mengangguk.
“Kalau dipaksa, apa boleh buat?”
Aku segera mengambil kunci mobil. Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam Mazda hitamku, menjauh dari rumah.
“Mas, maaf aku gak bisa bahas ini di rumah. Mas Daru serius mau beli paket pernikahanku?”
“Ya … tapi kamu jawab dulu pertanyaanku. Kamu beneran mau jual?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Aku mengg*git bibir, menahan emosi yang kembali naik.
“Maaf, aib ini tak bisa aku ceritakan. Intinya, aku mau membatalkan pernikahan ini di detik-detik terakhir.”
Dia terdiam, lalu menoleh ke arahku.
“Kamu bisa cerita, Nira. Aku ini bukan orang lain. Kita dekat dari zaman masih piyik. Dari kamu masih suka ngusap ingus pake kaos dalam.”
“Ish, segala dibahas.”
Aku mencebik sebal sambil memutar bola mata ke atas. Mataku mengerling ke arahnya. Dia terkekeh, tetapi sedetik kemudian, raut wajahnya berubah serius lagi.
“Aku serius mau beli paket pernikahan itu asalkan dapat bonus mempelai wanitanya juga … dan aku maunya itu, kamu.”
Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya, yuk baca di KBM App.
Pengalaman pribadi sering kali mengajarkan kita bahwa pernikahan bukan hanya soal pesta dan kebahagiaan semata, tetapi juga tentang perjuangan emosional dan pengorbanan yang tidak terlihat oleh orang luar. Dalam kisah ini, keputusan untuk menjual paket pernikahan bukanlah hal yang biasa, melainkan sebuah langkah berani untuk memilih jalan yang menurut hati paling benar meskipun sarat drama. Saya pernah menyaksikan seorang teman menghadapi tekanan keluarga dan konflik yang sangat berat menjelang hari pernikahannya. Tak berbeda dengan cerita yang diceritakan di sini, ia harus menata ulang rencana yang sudah disusun dengan penuh harapan dan impian. Bahkan, ia sampai mengatur ulang paket pernikahan yang awalnya telah dipesan, karena ada keperluan mendesak yang harus dihadapi. Hal yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah keterlibatan orang-orang terdekat yang ternyata menyimpan agenda tersembunyi. Ini tentu menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat proses pernikahan menjadi penuh ketegangan. Namun, melalui segala permasalahan itu, yang terpenting adalah komunikasi jujur dan keberanian untuk berkata tidak pada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Cerita tentang paket pernikahan yang dijual sekaligus menjadi sebuah simbol usaha sang mempelai wanita untuk melindungi dirinya dan masa depannya memberi gambaran bahwa terkadang kita harus membuat keputusan sulit untuk menjaga harga diri dan kebahagiaan sejati. Keputusan ini mungkin tidak dimengerti oleh semua orang, tapi bagi yang mengalaminya, itu adalah bentuk pembebasan dari tekanan yang selama ini membelenggu. Selain itu, kisah ini juga mengingatkan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat yang benar-benar peduli. Sosok seperti Mas Daru dalam cerita yang datang untuk memastikan keputusan tersebut tetap berlaku dan siap mendampingi menunjukkan bahwa ada harapan dan kekuatan di balik pilihan yang sulit. Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah berada dalam situasi sulit menjelang momen besar hidupnya. Ingatlah, setiap orang berhak memilih jalan terbaik untuk dirinya dan keberanian untuk membatalkan atau mengubah rencana bukan suatu kegagalan, tapi langkah bijak menuju kebahagiaan yang sejati.

