BULAN MADU UNTUK SUAMIKU 3

Membalas

Penulis: Nafisa Ica

Baca selengkapnya di aplikasi KBM

part 3

---

“Aruna, suami kamu menikah lagi, kamu nggak nangis?”

“Enggak, bukan aku yang akan menangis, tapi setelah pulang bulan madu, dialah yang akan menangis.”

Suamiku diam-diam menikahi sepupunya sendiri demi memiliki keturunan. Aku tidak menangis, tidak mengemis, bahkan tidak memohon. Aku memilih cara yang berbeda—cara yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.

---

“Kita jadi kan pergi bulan madu malam ini, Mas?” tanya Nilam lembut saat kami berada di kamar.

“Aku… mau pulang dulu sebentar, nggak apa-apa ya?”

Sejak tadi perasaanku tidak tenang. Bayangan Aruna terus menghantuiku. Entah kenapa, rasa bersalah membuatku merindukannya.

“Loh, kok pulang sih, Mas? Ini kan hari pernikahan kita,” protes Nilam cemberut.

“Tapi aku belum izin sama Aruna. Dia pasti sedih…”

“Mas, bisa nggak di hari ini Mas fokus ke aku aja?” sela Nilam. “Aku cuma mau tiga hari ini Mas milik aku sepenuhnya.”

“Tapi—”

“Nilam benar, Pras!” suara Ibu tiba-tiba memotong. “Ngapain pulang ke istri mandul itu? Kalau Ibu jadi kamu, sudah dari dulu diceraikan!”

Aku terdiam, menahan napas. “Aku mencintai Aruna, Bu. Aku nggak mungkin menceraikannya.”

Kenyataannya, aku menikahi Nilam karena tekanan Ibu yang menginginkan cucu. Aku menyetujui dengan satu syarat: aku tidak akan menceraikan Aruna.

“Perempuan mandul begitu kok dipertahankan,” gumam Ibu sinis.

“Telepon saja dia,” saran Nilam. “Bilang ada kerjaan keluar kota.”

Aku hanya bisa mengangguk pelan, meski hati terasa semakin berat.

---

Dalam perjalanan ke bandara, aku mencoba menghubungi Aruna, tapi tidak diangkat.

“Nggak biasanya dia begini,” gumamku.

“Mungkin Mbak Aruna sudah tidur,” kata Nilam sambil memeluk lenganku.

“Mungkin saja.”

Aku akhirnya hanya mengirim pesan: aku akan pergi keluar kota selama tiga hari karena pekerjaan.

---

Setibanya di Bali, kami langsung menuju hotel mewah pilihan Nilam. Hotel itu berdiri megah menghadap pantai—tempat yang katanya sempurna untuk bulan madu.

Nilam memilih kamar VIP.

“Mau bayar cash atau non tunai, Pak?” tanya resepsionis.

“Non tunai saja.”

Aku memasukkan kartu dan PIN.

“Maaf, Pak. Saldo tidak cukup.”

“Apa?” Aku terkejut.

“Saldonya tidak cukup. Ada kartu lain?”

“Nggak mungkin…”

Aku cek saldo. Jantungku seakan berhenti.

“Hanya tersisa 50.000, Pak.”

“Nggak mungkin!” bentakku tanpa sadar.

Aku mencoba kartu lain.

“Ini juga tidak bisa, Pak.”

Keringat dingin mulai mengalir. Semua kartuku… kosong.

“Gayanya pesan kamar VIP, padahal saldo cuma segitu.”

“Iya, jangan-jangan mau nginap gratis.”

Bisik-bisik mulai terdengar dari sekitar.

“Mas, ini kenapa sih?” Nilam mulai panik.

“Kartuku bermasalah…”

“Bermasalah gimana?”

“Semua uangnya… hilang.”

“APA?!”

Aku benar-benar tidak mengerti. Uang yang selama ini aku simpan, puluhan juta, lenyap begitu saja.

Di tengah tatapan sinis orang-orang dan wajah Nilam yang berubah pucat, aku berdiri kaku, dihantam kenyataan yang tak masuk akal.

Dan entah kenapa, di saat seperti ini, bayangan Aruna kembali muncul di pikiranku.

Untuk pertama kalinya… aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Dan mungkin… semua ini belum seberapa dibanding apa yang menungguku setelah bulan madu ini berakhir.

5/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaBulan madu seharusnya menjadi momen indah dan mengenang bagi pasangan yang baru menikah, namun kisah ini justru menunjukkan sisi gelap dari kehidupan pernikahan yang penuh konflik. Dari pengalaman yang mirip, saya pernah merasakan bagaimana tekanan keluarga dan konflik batin bisa membuat hubungan semakin rumit, terutama ketika masalah kepercayaan muncul. Dalam cerita ini, kehadiran Aruna sebagai suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan istrinya memberikan gambaran nyata bagaimana perasaan dikhianati bisa begitu menyakitkan. Berkali-kali, saya menyadari bahwa komunikasi terbuka adalah kunci utama dalam sebuah pernikahan untuk mencegah kesalahpahaman yang bisa berujung pada rasa sakit yang mendalam. Namun, di sisi lain, tekanan keluarga terutama dari orang tua yang mengharapkan cucu juga dapat memaksa pasangan melakukan keputusan sulit, seperti poligami atau pernikahan kedua yang tak diharapkan. Selain itu, kejadian saldo rekening bank yang tiba-tiba kosong di tengah perjalanan bulan madu juga menambah ketegangan emosional dalam cerita ini. Dalam pengalaman pribadi, keadaan finansial yang tak pasti justru sering menjadi pemicu pertengkaran dan stres dalam hubungan rumah tangga. Penting bagi pasangan untuk saling terbuka mengenai kondisi keuangan dan merencanakan dengan matang agar tidak terjadi kejutan tak menyenangkan di masa depan. Kisah ini juga mengingatkan saya bahwa meskipun situasi sulit dan pengkhianatan terasa menyakitkan, cara menghadapinya bisa berbeda-beda. Ada yang memilih menangis dan memohon, namun ada pula yang memilih tetap tegar dan membalas dengan cara yang membuat pihak lain menyesal. Namun demikian, penting untuk menjaga harga diri dan menetapkan batas dalam hubungan demi kebaikan diri sendiri. Terakhir, bayangan Aruna yang terus menghantui menandakan bahwa luka emosional belum sembuh dan butuh proses penyembuhan yang tidak instan. Saya percaya bahwa dukungan dari orang terdekat dan waktu yang cukup bisa membantu melangkah keluar dari masa penuh luka tersebut. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi pembaca tentang dinamika dan tantangan dalam pernikahan, pentingnya komunikasi, dan bagaimana menghadapi pengkhianatan dengan kepala tegak.