THR SUAMIKU BUKAN UNTUKKU (KARENA AKU HANYA MENANTU) 1
Cuplikan bab 1b
"Ji, Mas sudah bilang berkali-kali, kan? U ang Mas itu pas-pasan. Mas ini jadi tulang punggung keluarga setelah Bapak nggak ada. Mas punya tanggung jawab sama ibu dan adik-adik. Kamu sebagai istri harusnya paham posisi Mas, bukan malah nambah beban pikiran."
"Beban pikiran?" Aku mengulang kata itu dengan getir. Jadi, keinginan seorang istri dianggap beban? "Jadi, keinginanku dianggap beban ya, Mas? Tapi untuk sepatu baru Rara yang bermerk dan har ganya ma hal itu… bukan beban buat Mas?"
Rara mendelik ke arahku. "Ih, Mbak Jihan! Ini kan lagi tren, masa aku pakai sepatu butut, sih? Malu dong sama temen-temen sekelas! Mas Rafi aja nggak keberatan, kenapa Mbak Jihan malah sewot?"
"Sudah, sudah!" potong Mas Rafi tegas. "Ji, mendingan sekarang kamu ke dapur. Piring kotor numpuk, belum lagi kamu harus nyiapin buat sahur nanti. Kita ini lagi buka puasa, jangan bikin panas suasana."
*
Baru saja kunyalakan kran, Rena masuk dan tanpa permisi meletakkan gelas kotornya tepat di atas tanganku yang sedang penuh sabun.
"Mbak, nanti sekalian setrikain baju kerjaku, ya? Aku mau pergi bukber bareng temen kantor, nggak sempet nyetrika," perintahnya tanpa beban.
"Mbak lagi pusing, Ren. Setrika sendiri kan, bisa?" jawabku pelan.
Rena langsung berkacak pinggang. "Halah, gaya banget pusing! Paling cuma pusing karena nggak dapet amplop, kan? Makanya Mbak, jadi orang itu yang ikhlas. Pantes aja Mas Rafi lebih sayang sama kita, orang Mbaknya aja begini."
"Mbak! Itu Ibu manggil. Katanya kepalanya pusing lagi. Cepetan ke sana, pijitin! Tadi Mbak masaknya keasinan kali, makanya darah tinggi Ibu kumat," seru Roni yang tiba-tiba muncul.
*
"Lama banget sih, Ji? Istri itu harus sigap kalau mertua sakit," tegur Mas Rafi begitu aku masuk.
"Tadi lagi nyuci piring, Mas," jawabku singkat sambil mulai memijat kaki Ibu yang terasa dingin.
"Alasan terus," gumam Ibu Mertua ta jam. "Rafi, besok be likan Ibu obat yang di apotek depan itu ya. Yang har ganya lima ratus ri bu itu lho. Ibu ngerasa cocok pakai itu."
"Iya, Bu. Besok Rafi be likan," jawab Mas Rafi lembut. Sangat lembut. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari cara dia bicara padaku tadi.
U ang buat be li obat lima ra tus ri bu ada. Be li sepatu Rara bisa. Cicilan motor Rena ada. Tapi buat be li mukena seratus ri bu untuk istri sendiri, dia bilang u angnya pas-pasan.
*
"Besok bangun lebih pagi, Ji. Ibu pengen makan ketupat sayur buat sahur. Jangan malas-malasan terus," ucapnya dingin.
"Mas, kalau suatu saat aku menyerah, apa Mas bakal ngerasa kehilangan atau malah ngerasa beban pikiran Mas berkurang satu?"
Mas Rafi mendengus, menganggap pertanyaanku hanya angin lalu. "Nggak usah banyak drama deh, Ji. Masih untung kamu punya suami yang tanggung jawab kayak aku. Ingat, di luar sana banyak janda yang pengen berada di posisi kamu. Tinggal di rumah, enak tanpa perlu mikir biaya apa-apa."
"Mas benar, aku nggak perlu mikir biaya apa-apa, karena memang nggak ada satu ru piah pun u angmu yang sampai ke tanganku untuk kupikirkan. Tapi Mas lupa satu hal..."
Mas Rafi menoleh sedikit, "Apa?"
Aku menatap panci kosong itu dengan tatapan yang juga kosong.
"Sabar itu ada batasnya, Mas. Dan malam ini, sepertinya aku sudah sampai di garis paling ujung."
"Maksudmu apa, Jihan?"
"Tunggu saja besok pagi, Mas. Saat matahari terbit, Mas bakal tahu siapa yang sebenarnya beban di rumah ini."
Bersambung…
Selengkapnya di KBM App
Judul : THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)
Penulis : Dhea Sukma
Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali muncul ketegangan yang tidak terlihat oleh orang luar, terutama saat masalah keuangan menjadi pemicu utama konflik. Dari cerita ini, saya mengingat pengalaman pribadi ketika merasa tidak dihargai karena pembagian keuangan yang tidak adil. Seperti karakter utama dalam cerita ini yang menghadapi kenyataan pahit bahwa uang belanja keluarga lebih banyak dialokasikan untuk kepentingan anggota keluarga lain, bukan dirinya sebagai istri pertama. Perasaan tertolak bahkan muncul saat permintaan hal sederhana, seperti membeli mukena untuk shalat, dianggap beban oleh suami. Padahal, hal tersebut sangat berarti secara emosional bagi seorang istri. Saya pernah menyaksikan di lingkungan sekitar, bagaimana tekanan menjadi menantu dan peran ganda sebagai istri dan pengurus keluarga besar bisa sangat melelahkan. Dalam tradisi keluarga besar di Indonesia, seorang menantu sering diasumsikan harus mengalah dan menerima keadaan, padahal mereka juga membutuhkan perhatian dan penghargaan. Cerita ini menggambarkan bagaimana ketidakseimbangan tanggung jawab finansial dan emosional dapat menghancurkan keharmonisan rumah tangga. Seperti saat suami mampu membeli sepatu bermerek untuk anak tapi menganggap uang untuk kebutuhan istrinya tidak penting, hal ini menimbulkan luka batin yang mendalam. Saya sendiri pernah mengalami situasi di mana pengorbanan dan kesetiaan tidak dibalas setimpal, dan hal itu membuat saya semakin memahami pentingnya komunikasi terbuka dan saling menghargai dalam keluarga. Selain itu, kisah ini mengingatkan kita bahwa sabar dalam rumah tangga memang penting, tapi bukan berarti harus menanggung beban sendiri tanpa adanya perubahan. Ada kalanya batas kesabaran akan teruji dan menuntut tindakan untuk memperbaiki keadaan. Jika tidak, ketidakadilan dan penindasan bisa merusak hubungan suami istri secara perlahan. Bagi pembaca yang mengalami hal serupa, jangan ragu untuk mencari dukungan dan berbicara tentang kesulitan yang dihadapi. Penting juga untuk mengedukasi anggota keluarga, terutama suami dan mertua, agar lebih peka dan adil dalam membagi peran dan tanggung jawab, baik secara finansial maupun emosional. Dengan demikian, rumah tangga dapat menjadi tempat yang harmonis dan penuh kasih sayang, bukan sumber ketegangan dan luka hati. Cerita "THR Suamiku Bukan Untukku" ini membuka mata kita semua bahwa peran menantu dan istri dalam keluarga besar membutuhkan pengakuan, cinta, dan perhatian, agar mereka tidak merasa terpinggirkan atau dianggap sebagai beban.

