KUAH BAKSO MERCON DI WAJAH SUAMI DAN PELAKOR 1
"Arrggh! Panas! Pedih!"
Jeritan melengking itu memecah keriuhan warung bakso yang sedang padat-padatnya. Suara tersebut berasal dari dua mulut sekaligus—Tirta dan seorang wanita berambut gelombang yang duduk sangat rapat di sampingnya.
Wajah mereka yang tadinya penuh tawa dan adegan saling suap-menyuapi, kini berubah merah padam, basah kuyup oleh kuah berwarna merah pekat yang berminyak. Cabai rawit ulek menempel di kening Tirta, sementara kuah yang masih mengepul itu mengalir deras dari puncak kepala Dewi, membasahi baju mahalnya.
Aku berdiri mematung di hadapan mereka. Tanganku masih memegang mangkuk ayam jago yang kini telah kosong. Napas dan dadaku naik turun, bukan karena lelah, tapi karena rasa sesak yang seolah ingin meledakkan jantungku.
"Enak, Mas? Ini yang katanya kamu sibuk? Sibuk menyuapi selingkuhanmu?" suaraku bergetar, namun cukup tajam untuk membuat seluruh pengunjung warung menoleh ke arah kami.
Tirta mendongak dengan mata merah yang menyipit menahan perih. "Mita? Kamu..."
"Kenapa? Kaget?" Aku tertawa getir, meski air mata sudah mulai menggenang di pelupuk mataku. "Harusnya aku yang kaget, Mas. Melihat suamiku yang katanya lembur demi masa depan, ternyata sedang asyik jadi pelayan untuk perempuan lain."
Semua mata menghujam ke arah kami. Bisikan-bisikan mulai terdengar, namun aku tidak peduli. Dunianya yang baru saja kuruntuhkan terasa jauh lebih kecil dibanding kehancuran yang mereka torehkan di hatiku.
**Tiga Jam Sebelumnya...**
Siang itu, cuaca sedang terik-teriknya. Aku duduk di sofa ruang tamu sambil mengelus perutku yang masih rata. Di dalam sini, ada kehidupan yang baru berusia tiga bulan. Buah cintaku dengan Tirta yang sangat kunantikan setelah dua tahun pernikahan kami.
Tiba-tiba saja, lidahku terasa ingin sekali mengecap rasa pedas dan gurih. Bayangan bakso mercon dengan kuah merah menyala di dekat kantor Mas Tirta mendadak melintas di pikiran. Warung itu memang terkenal enak, dan kebetulan Mas Tirta bekerja sebagai karyawan administrasi di perusahaan swasta yang letaknya hanya lima menit dari sana.
Dengan senyum mengembang, aku meraih ponsel di atas meja.
**Mita:** *"Mas, pulang kerja tolong belikan bakso mercon di dekat kantor kamu kerja, ya. Tiba-tiba pengen banget, Mas."*
Aku menunggu beberapa menit sambil membayangkan butiran bakso yang pecah di mulut dengan isian cabai melimpah.
**Mita:** *"Makasih, suamiku sayang. Hati-hati kerjanya."*
Tak lama, ponselku bergetar. Sebuah balasan masuk dari pria yang sangat aku percayai sebagai imam dalam hidupku itu.
**Tirta:** *"Aku lagi sibuk, Mit. Banyak kerjaan. Sepertinya pulang telat, harus lembur sampai malam."*
Senyumku perlahan memudar. Ada rasa kecewa yang menyelinap di sela-sela rasa lapar ini. Gaji Mas Tirta yang tujuh juta per bulan memang sering ia katakan pas-pasan untuk cicilan dan kebutuhan kami, jadi aku selalu maklum jika dia harus bekerja keras. Aku tidak ingin menjadi istri yang merepotkan atau banyak menuntut.
Namun, rasa ingin—atau orang bilang ngidam—ini terasa begitu kuat. Rasanya aneh, lidahku benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
"Kasihan dedek bayi kalau ibunya pengen banget tapi nggak keturutan," gumamku sendiri.
Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi sendiri. Aku berpikir, tidak ada salahnya sesekali keluar rumah sendirian. Toh, aku juga ingin memberikan kejutan kecil untuk Mas Tirta dengan membawakan bekal camilan ke kantornya setelah membeli bakso nanti. Aku ingin dia semangat lembur karena tahu istrinya sangat memperhatikannya.
Aku bersiap-siap dengan cepat. Memakai gamis sederhana dan jilbab instan, lalu memesan ojek online menuju warung bakso langganan yang disebut Mas Tirta tadi.
Sepanjang perjalanan, hatiku berbunga-bunga. Aku membayangkan wajah kaget Mas Tirta saat melihatku muncul di kantornya nanti. Aku bahkan sudah menyiapkan kalimat-kalimat penyemangat untuknya.
Sesampainya di depan warung bakso, aku melihat keramaian yang luar biasa. Harum aroma ...
Judul: Kuah Bakso Mercon Di Wajah Suami Dan Pelakor
Penulis: Indah Muninggar
Aplikasi KBMapp
Pengalaman yang saya bagikan ini sangat relate dengan kisah yang terjadi dalam cerita kuah bakso mercon ini. Pernah suatu kali saya juga menghadapi situasi dimana rasa ngidam selama kehamilan membuat saya berusaha keras mendapatkan makanan favorit yang sulit didapatkan, dan di tengah pencarian itu saya justru menemukan situasi tak terduga yang menguji kesabaran dan kepercayaan saya. Sebagai seorang istri hamil, memang naluri ingin memenuhi ngidam terkadang membuat kita melakukan hal-hal yang tidak biasa, seperti keluar sendirian di tengah teriknya siang atau mencoba mengejar sesuatu yang sepele seperti bakso mercon yang pedas menggoda lidah. Namun, cerita ini menunjukkan bagaimana sebuah kejadian biasa seperti makan bakso bisa berubah menjadi momen dramatis sekaligus pelajaran penting dalam kehidupan rumah tangga. Saya sangat memahami perasaan Mita yang awalnya berharap suaminya pulang lembur demi keluarga tetapi justru terkejut dengan kenyataan suami sedang menyuapi wanita lain di warung bakso favoritnya sendiri. Momen kuah bakso mercon yang menyiram wajah mereka bukan hanya simbol rasa sakit dan pengkhianatan, tapi juga sebagai bentuk ekspresi kekecewaan yang begitu nyata. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa komunikasi jujur dan kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan suami istri, terlebih saat menunggu kelahiran buah hati. Selain itu, kisah ini juga mengajarkan bahwa rasa lapar dan ngidam bisa menjadi pemicu emosi yang kuat, dan dalam kondisi tertentu dapat memicu berbagai reaksi emosional yang tak terduga. Untuk itu, penting bagi pasangan untuk saling mengerti dan mendukung, khususnya ketika salah satu sedang mengalami masa-masa sensitif seperti kehamilan. Ke depannya, saya berharap banyak pasangan yang bisa belajar dari kisah ini agar lebih terbuka dan saling jujur, sehingga kejadian menyakitkan seperti ini tidak perlu terjadi. Juga, semoga para istri hamil di luar sana tetap mendapat perhatian dan kebutuhan mereka terpenuhi tanpa harus mengalami drama yang berujung keretakan hubungan. Saya juga percaya, kesetiaan dan kasih sayang sejati akan mampu mengalahkan segala cobaan dan rintangan.

