KUGAPAI CINTAMU (LAGI) 3
Judul: Kugapai Cintamu (Lagi)
Penulis: fitriyani_nr22
Baca selengkapnya di K B M App
Bab 3
Dengan hati berat, Fauzan meninggalkan Anggita lagi. Sebelum pergi, ia mengecup kening istrinya dan berjanji setelah ini tak akan pergi ke mana-mana. Namun malam itu, ia terpaksa menempuh perjalanan ke Bandung.
Gerimis turun, suasana dingin dan sepi, sama seperti hatinya. Di sepanjang jalan, Fauzan menyesali semua kebodohannya. Ia sadar telah terlalu sering meninggalkan Anggita demi pekerjaan dan diam-diam menghabiskan waktu bersama Amanda.
“Anggita, aku janji akan resign. Aku ingin selalu menemanimu,” gumamnya sambil memukul setir, marah pada dirinya sendiri.
Menjelang pukul sebelas malam, Fauzan tiba di rumah yang dulu dibelinya untuk Amanda. Rumah itu menjadi saksi hubungan terlarang mereka. Begitu masuk, ia mendapati bayi Amanda tertidur pulas di baby box.
“Amanda, bukannya kamu bilang anak itu kritis di rumah sakit?” tanyanya geram.
Amanda tersenyum manis dan mencoba memeluknya, tetapi Fauzan menepis tangannya.
“Aku hanya ingin kamu datang dan menemani aku dan bayi kita. Salahkah?”
“Amanda! Anggita sedang marah dan membutuhkan aku. Kenapa kamu melakukan ini?”
Amanda menatapnya tajam. “Kenapa kamu masih mempertahankan dia? Aku sudah melahirkan anak laki-laki untuk kamu. Ceraikan Anggita dan menikahlah denganku!”
Fauzan menggeleng tegas. “Aku hanya mencintai Anggita. Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan bayi itu, tapi tidak untuk menikah.”
Ucapan itu membuat Amanda gelap mata. Ia berlari ke baby box dan menendangnya keras. Bayi mungil itu terguling dan membentur sisi kayu.
“Amanda!” Fauzan berlari mengangkat bayinya. Kepala bayi itu memar, tubuhnya kejang.
“Gila kamu!” bentaknya.
Amanda langsung pucat. Dengan panik mereka membawa bayi itu ke rumah sakit.
“Dokter, tolong selamatkan anak kami,” isak Amanda.
Tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dengan wajah serius.
“Maaf, kami sudah berusaha. Bayi Anda mengalami benturan keras di kepala yang menyebabkan perdarahan otak. Bayi Anda tidak tertolong.”
Tubuh Fauzan lemas. Amanda meraung histeris. Fauzan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Semua ini adalah akibat dosa yang telah ia lakukan.
Setelah pemakaman, Fauzan memutuskan kembali ke Jakarta. Amanda menahannya.
“Kamu boleh pulang, tapi kamu tetap bertanggung jawab atas aku!”
“Bukankah aku sudah memberimu rumah, mobil, dan perhiasan? Apa lagi yang kamu mau?”
“Nikahi aku.”
Fauzan mendengus. Itu tidak akan pernah terjadi. Tanpa menjawab, ia masuk ke mobil.
“Mas Fauzan!” Amanda terus memanggil, tetapi Fauzan tak menoleh.
Dalam perjalanan pulang, ia membayangkan Anggita. Tidak ada pesan atau telepon dari istrinya, sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya. Fauzan merindukan perhatian dan cinta yang dulu selalu diberikan Anggita.
Pukul tiga sore, ia tiba di rumah.
“Assalamualaikum.”
Tak ada jawaban. Setelah melihat Oma di kamar, Fauzan segera menuju kamarnya sendiri. Di sana, Anggita sedang menyisir rambutnya.
“Sayang,” katanya lembut sambil mencoba mendekat.
Namun Anggita berdiri dan menjauh.
“Sayang, Mas pulang. Mas janji tidak akan ke mana-mana lagi.”
Tanpa berkata apa-apa, Anggita membuka laci, mengambil selembar kertas, lalu menyerahkannya.
“Apa ini?” tanya Fauzan bingung.
Tangannya bergetar ketika membaca judul besar di kertas itu.
GUGATAN PERCERAIAN.































































