SALAH SIAPA MEMBUANGKU (1)

Dengan suara tegas, Nisa menolak permintaan Mama untuk mengakui b a y i itu sebagai anaknya. Bukan karena membenci anak di luar nikah, tetapi ia juga memiliki masa depan dan cinta yang ingin diperjuangkan.

“Maaf, Ran… aku gak bisa a d o p s i anak kamu. Apapun alasannya, kamu tetap ibunya.”

Kalimat itu keluar setelah Nisa mengecup kening bayi mungil yang baru berumur sekitar seminggu. Bayi itu hanya dibalut kain tipis di atas perlak dingin. Sementara Rani, adiknya sendiri, justru menatap jijik.

“Mbak tega banget sama aku? Kalau orang tahu aku punya anak haram, gimana masa depanku?” bentak Rani.

Nisa mencoba menahan emosi. Ia tak habis pikir bagaimana adiknya yang kuliah justru bertindak tanpa tanggung jawab. Yang lebih membuat hatinya hancur, samar terlihat bekas cakaran di kulit bayi itu.

“Siapa ayahnya? Biar aku minta tanggung jawab!” tekan Nisa.

Namun Rani menolak keras. Ia malah mendorong Nisa keluar kamar dan membanting pintu. Tangisan bayi langsung pecah memenuhi rumah.

“Hei, nangis sekali lagi k u b u n u h kamu!” teriak Rani dari dalam.

Jantung Nisa mencelos. Ia terus mengetuk pintu sambil memohon agar Rani sadar bahwa bayi itu darah dagingnya sendiri. Namun yang terdengar hanya tangisan lirih dan suara benda dibanting.

Tangisan bayi itu mengingatkan Nisa pada masa lalunya sendiri. Ia hanyalah anak yatim piatu yang d i a d o p s i Mama dan Ayah sebagai “pancingan” agar cepat mendapat keturunan. Setelah Rani lahir, kasih sayang Mama berubah menjadi amarah dan hukuman. Hanya Ayah yang selalu melindunginya sebelum meninggal dunia.

Panik, Nisa mencari Mama ke dapur. Namun wanita itu malah santai mengaduk kopi.

“Ma! Anak Rani nangis!”

“Terus? Apa urusannya denganku?” jawab Mama dingin.

Nisa tak percaya seorang nenek bisa berkata, “Sampai dia m a t i pun aku gak peduli!”

Air mata Nisa jatuh deras. Ia kembali ke kamar Rani dan memaksa membuka pintu. Tubuhnya langsung lemas saat melihat kamar kosong.

“Ya Tuhan, Rani…”

Rani menghilang bersama bayinya.

Malam itu hujan turun deras. Nisa mencari ke mana-mana hingga akhirnya menemukan Rani di bawah jembatan, mengangkat bayi mungil itu di atas sungai gelap.

“Oke! Aku akan merawatnya! Aku akan mengaku dia anakku!” teriak Nisa putus asa.

Rani akhirnya menyerahkan bayi itu. Bibir mungilnya sudah membiru karena kedinginan. Dengan gemetar, Nisa memeluk dan menghangatkannya.

“Aku gak mau bayi itu, Mbak. Aku j i j i k sama dia,” kata Rani tanpa rasa bersalah.

Nisa menahan tangis. “Aku akan menjadikannya lelaki sukses sampai kamu menyesal pernah m e m b u a n g n y a.”

Malam itu Nisa membawa bayi tersebut ke rumah Mbah Sri, mantan dukun bayi yang langsung menolongnya. Namun saat kembali ke rumah untuk mengambil ASI, tanpa sengaja Nisa mendengar percakapan Mama dan Rani.

“Kita berhasil membuat Nisa mau merawat bayi itu,” ujar Mama puas.

Ternyata semua sikap kejam mereka hanyalah sandiwara agar Nisa bersedia membesarkan bayi tersebut.

“Mbak Nisa?!” Rani pucat saat melihat Nisa berdiri di depan pintu.

Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, Nisa sadar bahwa selama ini dirinya hanya dimanfaatkan keluarga sendiri.

Judul: Salah Siapa Membuangku

Penulis: Liyyaketchils

Baca selengkapnya di: KBM App

5/21 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita 'Salah Siapa Membuangku' mengangkat konflik keluarga yang sangat berat dan realistis, terutama terkait stigma sosial terhadap anak di luar nikah. Dari pengalaman pribadi saya, situasi seperti ini sangat memerlukan keberanian dan keteguhan hati, seperti yang diperlihatkan Nisa. Penolakan Rani terhadap bayi yang sebenarnya darah dagingnya mencerminkan tekanan sosial dan ketakutan akan masa depan yang kerap dialami oleh banyak wanita muda di Indonesia. Dalam kisah ini, tindakan kejam yang dilakukan oleh Mama dan Rani terhadap bayi tersebut ternyata hanya sebuah sandiwara agar Nisa mau merawatnya. Hal ini menimbulkan dilema etis dan emosional yang mendalam. Pengalaman saya pernah melihat kasus serupa, di mana anggota keluarga memanfaatkan kasih sayang seseorang demi kepentingan mereka sendiri, sangat menyakitkan dan membutuhkan dukungan mental yang kuat. Saya juga merasa haru ketika Nisa memutuskan untuk merawat bayi itu dengan sepenuh hati, berjuang demi masa depan bayi dan adiknya. Ini mengajarkan pentingnya kesetiaan keluarga dan bagaimana cinta bisa bertahan walau dikhianati. Untuk pembaca yang mengalami masalah serupa, jangan pernah takut untuk mencari bantuan, baik dari keluarga lain yang lebih pengertian atau tenaga profesional. Selain itu, kisah ini membuka mata mengenai perlunya perlindungan bagi anak-anak yang lahir di luar pernikahan, agar mereka tidak dipandang sebelah mata atau disakiti. Masyarakat perlu lebih terbuka dan mendukung pemberian kasih sayang tanpa syarat. Kisah 'Salah Siapa Membuangku' jadi pengingat bahwa masa depan setiap anak sangat dipengaruhi oleh dukungan dan cinta yang mereka terima. Saya berharap cerita ini memberi inspirasi kepada banyak orang untuk lebih memahami dan mendukung sesama, terutama yang sedang menghadapi konflik keluarga serta stigma sosial. Perjuangan Nisa menjadi bukti nyata bahwa dengan keberanian dan cinta, kita bisa menghadapi dan mengubah situasi paling sulit sekalipun.