20 TAHUN TANPA AYAH (2)

20 tahun lalu

“Dunia itu kejam untuk kita yang miskin, Nak…”

Suara Ibu lirih, hampir tenggelam oleh bunyi air hujan yang menetes dari genting bocor. Ember biru di tengah dapur terus berbunyi—pluk… pluk… pluk—seperti menghitung sisa harapan kami satu per satu.

Aku menatap Ibu yang duduk di depan tungku kecil. Tangannya gemetar saat mengaduk adonan rempeyek. Minyak di wajan bahkan belum panas, tapi ia tetap sibuk, seolah pekerjaan itu bisa menunda kenyataan bahwa hidup kami memang sesulit ini.

“Tapi kita nggak boleh menyerah, Kasih,” lanjutnya sambil tersenyum lembut. “Kita harus tetap berusaha dan berdoa. Hasilnya biar Allah yang menentukan.”

Aku mengangguk pelan. Perutku lapar sejak pagi cuma diisi singkong rebus, tapi setiap mendengar suara Ibu, ada hangat yang aneh di dadaku.

Di atas meja kayu kecil, rempeyek matang ditiriskan di atas koran bekas. Aromanya gurih memenuhi dapur sempit yang hanya diterangi lampu teplok.

“Bu, besok aku jualin lagi di sekolah ya?”

“Iya, Nak. Jangan malu. Rezeki nggak pernah hina kalau didapat dari jalan halal.”

Aku tersenyum kecil.

Di sudut dapur, Ikhlas tertidur sambil memeluk boneka lusuh hadiah undian warung. Wajahnya damai, seolah dunia belum pernah menyakitinya.

Aku menatapnya lama, lalu berbisik pelan.

“Bu… kalau dunia kejam, apa Ayah juga jadi kejam karena dunia?”

Tangan Ibu langsung berhenti mengaduk.

Lama sekali ia diam sebelum akhirnya menjawab lirih, “Ayah kamu cuma capek, Nak.”

Jawaban itu menggantung di kepalaku.

Tak lama kemudian, suara motor terdengar dari luar rumah.

“Bu! Itu Ayah!”

Aku langsung berdiri dan berlari ke pintu. Namun langkahku mendadak berhenti.

Ayah memang pulang.

Tapi dia tidak sendiri.

Seorang perempuan turun dari motor di belakangnya. Rambutnya rapi, bajunya bagus, tas kulitnya terlihat mahal. Sangat berbeda dengan rumah kami yang bocor dan berlumpur.

“Assalamu’alaikum,” ucap Ayah.

“Wa’alaikum salam,” jawab Ibu pelan.

“Ayah, siapa dia?” tanyaku polos.

Ayah tersenyum tipis. Senyum yang terasa asing.

“Bu, ini Bu Siska. Teman kerja Ayah. Dia banyak bantu Ayah di pabrik.”

Teman kerja.

Entah kenapa dadaku terasa nggak nyaman mendengar itu.

Bu Siska tersenyum manis pada Ibu. “Jadi ini istri Mas Harun? Cantik ya. Pantesan Mas Harun sering cerita.”

Ibu hanya mempersilakan mereka masuk.

Ruang depan rumah kami sempit. Hanya ada dua kursi dan meja kayu kecil. Ibu menyuguhkan teh manis di gelas plastik murah serta sepiring rempeyek.

“Wah, sederhana banget ya, Mbak,” kata Bu Siska sambil melihat sekeliling rumah. “Tapi hangat.”

Aku melihat tangan Ibu makin erat menggenggam ujung bajunya.

Ayah tertawa lepas bersama perempuan itu. Bahkan beberapa kali menyentuh lengannya saat bercanda. Aku tercekat.

Sudah lama sekali Ayah tidak pernah tertawa seperti itu bersama kami.

Bu Siska mengambil rempeyek dan menggigitnya kecil.

“Enak sekali, Mbak. Benar kata Mas Harun.”

“Terima kasih,” jawab Ibu lirih.

Lalu suasana berubah.

Bu Siska meletakkan rempeyeknya pelan. Tatapannya langsung menusuk ke arah Ibu.

“Sebenarnya,” katanya hati-hati, “kedatangan kami hari ini bukan cuma untuk silaturahmi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ayah menunduk. Tidak berani menatap kami.

Aku mulai merasa takut.

“Saya dan Mas Harun… Kami akan menikah.”

BACA DI KBM APP YA

JUDUL : 20 TAHUN TANPA AYAH

PENULIS : TRIANAR

6/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman hidup tanpa sosok ayah tentu meninggalkan kesan mendalam dalam sebuah keluarga. Dari kisah yang diceritakan, saya teringat betapa kuatnya perjuangan seorang ibu dalam menghadapi segala ujian yang datang, terutama ketika harus berdiri sendiri mengurus anak-anak dalam kondisi ekonomi yang sulit. Dalam cerita di atas, saya bisa merasakan betapa beratnya beban yang dipikul ibu dan si anak. Suara hujan yang menetes dan genting yang bocor menjadi simbol dari kehidupan yang penuh kesulitan. Namun, ada secercah harapan yang terus dipupuk oleh ibu, melalui kerja keras dan doa, meski kenyataan sering kali terasa kejam. Melalui cerita ini, saya juga belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mulus, kadang kejujuran dan kesetiaan harus diuji oleh kenyataan yang pahit, seperti yang terlihat dari kedatangan perempuan lain di rumah mereka. Ini menggambarkan realita bahwa pengkhianatan dan ketidakadilan bisa datang dari orang terdekat sekalipun. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya berjuang sendiri tanpa hadirnya figur ayah, dan hal tersebut mengajarkan saya banyak tentang ketegaran, keikhlasan, dan arti keluarga sejati. Di balik penderitaan itu, ada cinta dan harapan yang tidak pernah padam. Cerita ini mengingatkan kita bahwa rezeki halal, sekecil apapun bentuknya, penting untuk dijaga dan dihargai. Seperti sang anak yang berinisiatif menjual rempeyek di sekolah, ini menjadi simbol bagaimana usaha kecil dapat menjadi sumber kekuatan dan keberanian. Kisah ini sangat relevan bagi kita yang ingin memahami nilai kebersamaan, pengorbanan orang tua, dan bagaimana tubuh dan hati manusia bisa bertahan dalam krisis emosional dan ekonomi. Semoga kisah ini menginspirasi pembaca untuk lebih menghargai keluarga dan tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan.