TIKET LIBURAN PALSU (2)
Bab 2
Bagas mendekati Ratih dengan senyum yang ia coba buat sehangat mungkin. Tangannya masih memegang map dokumen itu.
"Maaf, Nona. Saya tahu ini berat. Tapi program ini aman, kok,” ujarnya berusaha menenangkan. “Saya sudah bertahun-tahun di bidang ini."
Ratih menatapnya dengan mata sembab. "Aman bagaimana, Mas? Saya saja nggak tahu mau dibawa ke mana dan kerja apa."
"Tenang dulu, Nona. Kehadiran saya di sini untuk menjelaskan secara singkat pekerjaan Nona nanti. Lalu detailnya akan dijelaskan di kantor agensi.”
Ratih mengusap air matanya, dia berusaha menegakkan duduk, mendengarkan dengan seksama.
“Jadi ini kontraknya.” Bagas menyerahkan map dokumen pada Ratih. “Seperti yang tertera, Nona kerjanya cuma delapan jam sehari, dapat libur di akhir pekan, dan kontrak hanya setahun. Setelah itu Nona bebas pulang."
Ratih mengernyit. "Kerja apa?"
Bagas menunjukkan senyum tipis yang mencurigakan. "Mengenai itu, nanti dijelaskan di Istanbul. Pokoknya aman, kok. Banyak TKI sukses lewat program kami."
Ratih menarik napas panjang. Ia menatap dinding k a c a besar bandara, melihat pesawat-pesawat bersiap lepas landas. Lalu ia mulai berpikir, mungkin ini tidak seburuk yang ia bayangkan.
Delapan jam kerja, libur akhir pekan, dan kontrak hanya setahun. Setelah itu ia pulang dengan u a n g ta bu ngan nya sendiri dan bisa melunasi hu ta ng keluarga.
Mungkin ia bisa menganggap ini sebagai program liburan jangka panjang. Ia bisa bekerja sambil menikmati indahnya Turki di waktu senggang. Bisa foto-foto di depan Hagia Sophia, mencicipi kebab di tepi Bosphorus.
“Mungkin ini cara Allah memberiku reward atas semua kesabaranku selama ini,” batinnya.
Di tengah l u k a hatinya karena dijebak jadi TKW oleh keluarganya sendiri, Ratih berusaha menumbuhkan keyakinan positif itu di hatinya. Lebih baik percaya pada hal baik daripada terus tenggelam dalam ke ke ce wa an.
"Saya tanya sekali lagi, Mas Bagas. Program ini aman, kan?" tanya Ratih dengan mata t a j a m.
"Iya, Nona. Aman."
Ratih menghela napas. Ia menatap map dokumen di tangannya. "Baiklah. Saya setuju. Tapi kalau ada apa-apa, saya langsung minta pulang, bisa, kan?”
"Bisa, Nona.” Bagas tersenyum lega sembari memeriksa jam tangannya. “Sekarang kita harus check-in. Ayo, Nona."
***
Antrean di konter maskapai untuk penerbangan Istanbul terlihat panjang. Ratih berdiri di belakang Bagas, mencoba menenangkan diri.
Di pikirannya ia mulai menyusun skenario-skenario indah tentang Turki. Akan ia habiskan akhir pekannya dengan jalan-jalan. Akan ia kumpulkan foto sebanyak mungkin. Setahun bukan waktu yang sebentar, tapi juga tidak lama jika ia nikmati.
Giliran mereka tiba. Bagas maju lebih dulu, menyerahkan dokumennya. Petugas maskapai tersenyum ramah, memproses dengan cepat.
Bagas mengambil tiketnya. "Saya tunggu di dalam, Nona." Ia tersenyum lalu masuk ke area keberangkatan tanpa menoleh.
Ratih bergeser maju, menyerahkan paspor dan tiketnya.
Petugas maskapai, seorang wanita muda dengan rambut pirang, tersenyum profesional.
"Wait a minute, Miss." (“Tunggu sebentar, Nona”)
Petugas itu mulai mengetik. Lalu ekspresinya berubah. Matanya menyipit, menatap layar komputer lebih lama dari seharusnya. Ia memanggil rekannya yang berada di konter sebelah. Mereka mulai berbisik-bisik.
Ratih merasakan ada yang tidak beres. Jan tu ng nya berdebar lebih cepat.
Petugas pertama kembali menatap Ratih. Kali ini tidak dengan senyum ramah, melainkan dengan tatapan yang terasa me nu suk, seperti tatapan curiga.
Kemudian ia berbicara lagi, yang jika diartikan, dia mengatakan, "Mohon maaf, Nona. Terjadi masalah pada data manifes kursi Anda. Mohon tunggu sebentar."
Ratih membeku. Matanya menatap konter keberangkatan di mana Bagas sudah hilang. Orang yang seharusnya membimbingnya kini pergi, meninggalkannya sendirian di depan petugas yang mulai memandangnya seperti seorang ter sa ng ka.
“Ya Allah, apa lagi ini?”
Judul : Tiket Liburan Palsu
Penulis : Lian Niskala
Baca selengkapnya di KBM App














































