MAAF MAS KALI INI AKU MENYERAH 3

Judul: Maaf Mas, Kali Ini Aku Menyerah!

Penulis: Arez Rebel

Baca selengkapnya di KBM

Bab 3

“Apa benar terdakwa mendorong korban hingga terjatuh?”

Pertanyaan hakim membuat ruang sidang terasa sesak bagi Mesya. Tangannya mengepal di atas pangkuan saat pandangannya beralih kepada Alan yang berdiri di kursi saksi.

Pria itu adalah suaminya. Orang yang dulu berjanji akan melindunginya.

Namun kini, dia berdiri di sana untuk menghancurkannya.

Alan tampak tegang. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya saling menggenggam erat. Ketika tatapan mereka bertemu, secuil harapan muncul di hati Mesya.

Mungkin Alan akan berkata jujur. Mungkin dia akan mengakui bahwa dia tidak melihat apa pun.

Namun harapan itu hancur seketika.

“Saya melihat sendiri,” ucap Alan tegas. “Mesya mendorong Dahlia dari tangga sampai dia terjatuh.”

Dunia Mesya runtuh dalam satu kalimat.

Wajahnya memucat. Matanya membelalak penuh ketidakpercayaan. Saat pemeriksaan sebelumnya, Alan mengakui tidak melihat kejadian itu secara langsung dan hanya mendengar cerita Dahlia. Namun kini, di bawah sumpah, pria itu justru mengubah keterangannya.

“Saya yakin istri saya melakukannya,” lanjut Alan. “Sejak awal hubungan mereka memang tidak baik. Istri saya sering menunjukkan ketidaksukaan sejak Dahlia tinggal bersama kami.”

Tubuh Mesya gemetar. Semua yang diucapkan Alan adalah kebohongan.

Air mata menggenang di matanya, tetapi kali ini bukan tangisan seorang wanita yang memohon. Ada sesuatu yang benar-benar patah di dalam dirinya.

“Mas...” bisiknya lirih.

Namun Alan tidak menoleh.

“Saya yakin dia melakukannya karena emosi yang tidak terkendali.”

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk jantung Mesya. Lima tahun pernikahan, lima tahun mendampingi Alan saat jatuh dan bangkit, ternyata tidak berarti apa-apa dibanding air mata palsu Dahlia.

Di kursi pengunjung, Dahlia tampak menangis sambil mengusap perutnya yang kini kosong. Sebagai korban, ia memang hadir dalam persidangan.

Namun di balik wajah sedihnya, Dahlia sempat melirik Mesya.

Ada kilatan kemenangan di sana.

Anehnya, untuk pertama kali Mesya tidak lagi marah. Rasa sakit yang terlalu besar telah berubah menjadi kehampaan yang dingin.

Sidang berakhir lebih cepat dari perkiraan. Kesaksian Alan menjadi pukulan telak yang membuat posisi Mesya semakin sulit.

Saat petugas hendak membawanya kembali ke ruang tahanan, Alan mencegat langkahnya di koridor.

“Mesya—”

“Jangan sentuh aku.”

Suara Mesya pelan, tetapi penuh penolakan.

Alan meminta izin kepada petugas agar bisa berbicara berdua. Setelah petugas mundur beberapa langkah, Alan kembali memanggilnya.

“Mesya...”

Mesya mengangkat wajah dan menatap lurus ke arahnya.

“Aku tidak pernah menyangka kamu bisa berbohong sejauh ini, Mas.”

Alan mengencangkan rahangnya.

“Aku cuma ingin kamu sadar, Mesya!”

Mesya tertawa kecil. Tawa hambar yang menyakitkan.

“Sadar? Dengan cara menghancurkan hidupku?”

“Kalau sejak awal kamu mau minta maaf sama Dahlia, semuanya nggak akan sejauh ini!”

“Aku tidak akan mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan.”

“Keras kepala!”

“Aku difitnah dan kamu memberikan kesaksian palsu, Alan. Kamu akan mendapat karma.”

Perkataan itu membuat Alan terdiam sesaat. Di dalam hatinya, nurani mulai terusik. Namun bayangan Dahlia yang kehilangan bayinya kembali memperkuat keyakinannya.

“Aku masih bisa membantumu,” ujar Alan lebih pelan. “Asal kamu mau minta maaf pada Dahlia.”

Mesya tersenyum pahit.

“Dan membiarkan wanita pembohong itu menang atas fitnahnya?”

“Mesya!”

“Mas puas sekarang?” potongnya tajam. “Aku dipermalukan, dituduh menyebabkan keguguran, dan sekarang suamiku sendiri bersaksi palsu di bawah sumpah.”

“Aku tidak bersaksi palsu!”

Mesya menatapnya tanpa emosi.

“Kamu bahkan tidak ada di sana saat Dahlia jatuh.”

Kalimat itu langsung membungkam Alan.

Itu adalah kebenaran yang tidak bisa dibantahnya. Dia memang tidak melihat kejadian tersebut. Dia hanya mempercayai cerita Dahlia tanpa mencari fakta.

Namun meski terpojok oleh kenyataan, ego Alan masih terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya di hadapan wanita yang ...

6/11 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSejujurnya, kalimat "Maaf Mas, kali ini aku menyerah" itu nggak muncul begitu saja. Di titik terendah hidupku, aku merasa udah nggak punya tenaga lagi buat berjuang sendirian. Lima tahun nemenin dari nol, jadi istri sah yang selalu ada, tiba-tiba semua runtuh cuma karena satu wanita yang pinter nangis dan cerita. Waktu kejadian di rumah sakit, rasanya masih kebayang jelas. BREAKING NEWS #3 di kepala aku sendiri: lima tahun setia menemani dari nol, istri sah ini malah ditampar di rumah sakit dan diseret ke kantor polisi demi wanita lain. Di depan orang banyak, harga diriku seperti dikoyak. Suami yang dulu janji melindungi, justru jadi orang pertama yang nunjuk aku sebagai tersangka. Di persidangan, saat hakim nanya soal aku mendorong Dahlia dari tangga, hati kecilku masih berharap Mas Alan bakal jujur. Minimal dia bilang nggak lihat langsung. Tapi begitu dia ngomong tegas "Saya melihat sendiri", di situ aku sadar: kadang orang yang paling kita percaya bisa jadi saksi paling menyakitkan dalam hidup kita. Mungkin ada yang mikir, "Kenapa nggak minta maaf aja biar semua selesai?" Tapi gimana caranya minta maaf untuk sesuatu yang nggak pernah kita lakukan? Buat aku, kata "maaf" itu nggak sekadar formalitas. Kalau aku bilang maaf, berarti aku mengiyakan fitnah itu. Dan jujur, aku nggak sanggup mengkhianati diri sendiri sejauh itu. Yang bikin tambah perih, Dahlia nangis sambil pegang perutnya yang kosong, dan semua orang otomatis percaya dialah korban. Padahal di balik air mata itu, aku lihat jelas kilatan kemenangan. Di situ aku belajar, nggak semua tangisan berarti ketulusan. Ada air mata yang dipakai sebagai senjata. Kalau kamu lagi di posisi yang mirip—difitnah, disalahkan, dan disuruh minta maaf atas hal yang bukan kamu lakukan—aku cuma mau bilang: kamu nggak sendiri. Kadang menyerah itu bukan berarti lemah, tapi tanda bahwa kita butuh berhenti sebentar untuk nyelamatin warasnya diri sendiri. Aku juga pelan-pelan belajar: maaf itu bisa punya banyak bentuk. Ada maaf yang kita kasih ke orang lain, dan ada maaf yang kita utamakan buat diri sendiri. Di fase ini, "Maaf Mas" versi aku adalah: maaf, aku nggak bisa terus jadi orang yang selalu nurut dan mengorbankan diri demi terlihat baik di mata semua orang. Perjalanan Mesya ini bikin aku mikir ulang soal hubungan, kepercayaan, dan batas diri. Kalau dari awal kamu cuma diminta menelan fitnah dan diam demi "kedamaian keluarga", boleh kok kamu pasang batas. Kadang, satu-satunya orang yang harus kamu lindungi sampai habis-habisan adalah dirimu sendiri.