DI AMBANG PINTU (2)

Membalas

Bab 2

Darsi tak pernah membayangkan akan pulang dari perantauan dalam keadaan seperti ini. Segala kalimat yang ia ucapkan kepada Tambir ternyata hanya kata-kata belaka. Jangankan membangun rumah kayunya menjadi batu bata, bisa pulang sampai kampung halaman saja rasanya sudah seperti mimpi.

Sepanjang jalan ia telah dibayangi adegan seperti inilah yang akan menyambut kedatangannya. Pelukan Giri di pinggangnya terasa begitu erat. Apa yang pernah ia janjikan pada bocah itu saat merayunya untuk ditinggal? Mainan, baju bagus, tas, televisi besar?

Darsi menunduk, menatap pucuk kepala anak laki-lakinya itu. Ia sangat ingin berjongkok dan membalas pelukan itu sampai puas. Tapi kedua tangannya telanjur kaku mendekap buntalan jarik di dadanya. Ia pun menengadah, memberanikan diri menatap wajah suaminya.

Laki-laki itu masih mematung. Baskom plastik di tangan Tambir tampak miring, meneteskan sisa air. Dada Tambir naik turun, matanya menyorotkan berbagai pertanyaan. Laki-laki waras mana pun pasti akan memikirkan hal yang sama jika istrinya merantau berbulan-bulan, lalu pulang membawa bayi yang menangis kehausan.

"Sepurane, Kang...." kata itu keluar dari mulut Darsi.

"Bayi siapa?"

Sepanjang usia pernikahan mereka, Darsi belum pernah mendengar Tambir bicara dalam nada yang begitu dingin dan menakutkan.

Darsi menelan ludah, tenggorokannya terasa disumpal pasir. "Ini ...." Ia mempererat pelukannya pada bayi itu. "Aku mohon izinkan membawanya masuk dulu, nanti akan aku ceritakan …."

Hanya kalimat itu yang sanggup ia ucapkan. Darsi memejamkan mata, bersiap menerima tamparan atau makian. Namun, Tambir justru meletakkan baskomnya ke tanah. Lelaki kurus itu menarik napas panjang, mengembuskannya kasar, lalu memegang pundak Giri.

"Lepaskan dulu Emak.” Suara Tambir bergetar. "Biar Emak masuk dulu, di luar dingin, kasihan adiknya …."

Mendengar kata "adiknya", pertahanan Darsi runtuh. Air matanya menggarisi pipi. Giri mendongak, lalu pelan-pelan melepaskan pelukannya.

"Bawa masuk," kata Tambir singkat. Lelaki itu berbalik, berjalan lebih dulu ke dalam rumah.

Darsi melangkah pelan melewati ambang pintu. Ruang tamu itu tak banyak berubah. Sofa cicilan yang dulu ia paksa beli masih ada di sudut, makin kusam dengan baju Giri tersampir di bahunya. Darsi duduk di ujung sofa, bayi di pangkuannya mulai tenang.

Tambir telah kembali ke dapur, meninggalkannya sendirian seperti tamu tak diinginkan. Ia mendengar lelaki itu menyuruh Giri mandi dan sarapan.

“Benikku sudah dipasang, Pak?”

“Sudah ….”

Darsi menggigit bibir. Sejak kapan Tambir bisa memasang benik? Sepanjang berumah tangga, ia tak pernah melihat Tambir memegang jarum.

“Makanlah.”

“Telur dadarnya enak, Pak.”

Darsi menelan ludah. Pujian itu dulu diucapkan Giri setiap menyantap masakannya. Mata Darsi berkaca-kaca. Sejak kapan Tambir bisa memasak? Dulu Tambir hanya bisa membuat kopi yang takarannya tak pernah pas.

“Emak bawa bayi ya, Pak?” Darsi menajamkan pendengarannya.

“Ssstt, kamu tidak boleh bilang-bilang pada siapa pun ya?”

“Tidak boleh bilang kalau emak bawa bayi?”

“Ya.”

“Kalau ada yang tanya Emak sudah pulang dijawab apa?”

“Jawab saja tidak tahu.”

“Bapak aneh sekali, masa tinggal serumah menjawab tidak tahu.”

“Sudahlah, pokoknya jangan bilang kepada siapa pun kalau Emakmu pulang dan membawa bayi.”

Darsi berkaca-kaca, percakapan anak dan suaminya itu terasa pedih di dadanya.[]

Judul: Di AMBANG PINTU

Penulis: Shabrinaws

Bisa dibaca di KBM Aplikasi

6/22 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMembaca cerita "Di Ambang Pintu" ini, saya teringat bagaimana peliknya situasi keluarga yang menghadapi masalah tak terduga, terutama saat ada anggota keluarga kembali dengan membawa sesuatu yang tak terduga, seperti bayi dalam cerita Darsi ini. Dalam pengalaman saya, menghadapi kenyataan baru di keluarga kadang memang membuat kita terkejut dan harus belajar menerima perlahan-lahan. Saya pernah mengalami situasi dimana saudara saya pulang membawa anak yang selama ini tidak diberitahukan pada keluarga besar. Awalnya, ada perasaan tidak percaya dan tanda tanya besar, sama seperti yang dialami Tambir dalam cerita. Namun, setelah komunikasi terbuka dan kesabaran, semuanya bisa ditemukan jalan tengah untuk menerima dan menyayangi anggota keluarga baru itu. Cerita ini juga mengingatkan pentingnya empati, terutama pada orang yang telah lama merantau dan mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Pelukan anak kepada Darsi yang penuh kasih sayang menunjukkan bagaimana cinta anak tetap kuat walau kondisi keluarga sedang sulit. Saya percaya, cerita ini bisa menjadi refleksi bagi pembaca untuk lebih menghargai dan memahami situasi keluarga setiap orang dengan penuh kasih. Selain itu, adegan kecil seperti Tambir yang memasak untuk Giri menunjukkan perubahan-perubahan kecil yang terjadi dalam proses menerima perubahan keluarga, hal yang saya lihat juga sering terjadi dalam keluarga saya. Sekilas tampak sepele, tapi hal-hal kecil seperti ini menandakan adaptasi dan usaha membangun kembali kehangatan. Bagi yang mengalami situasi serupa, mencoba membuka komunikasi tanpa prasangka dan memberi ruang untuk cerita akan sangat membantu mengurai ketegangan. Semoga cerita "Di Ambang Pintu" ini memberikan inspirasi untuk lebih sabar dan memahami perjalanan hidup orang lain, serta menjaga ikatan kekeluargaan tetap kuat meskipun menghadapi rahasia dan cobaan.