Mahar 500 Juta dari Ga ji Rahasia Suamiku (1)
BAB 1
"Masih untung ada garam, Yun. Bulan depan mungkin kita cuma bisa makan nasi pakai doa kalau kamu nggak pintar-pintar bagi ua ng belanja."
Suara Mas Yoris terngiang di telingaku. Aku menunduk, menatap piring plastik berisi nasi keras sisa kemarin, ditaburi garam, ditemani kerupuk melempem.
Aku menyuap pelan. Rasanya hambar, asin menusuk li dah. Tenggorokanku sakit menelan bulir nasi tanpa kuah.
Sudah tiga tahun aku tak pernah ke toko baju. Dasterku penuh jahitan tangan. Semua demi rumah impian Mas Yoris.
"Sabar, Yuna. Sedikit lagi. Tabungan Mas Yoris pasti sudah banyak," bisikku.
Aku membagi kerupuk jadi dua, setengah untuk malam ini, setengah untuk besok.
Deru motor berhenti. Itu Mas Yoris! Aku cepat mencuci piring agar dia tak tahu aku makan nasi garam.
“Assalamualaikum, Yun.”
“Waalaikumsalam, Mas.”
Wajahnya kusam, peluh di kening. "Begitulah, Yun. Namanya juga cari ua ng buat masa depan kita."
Aku mencium aroma asing. Tajam, gurih. Aroma Steak Lada Hitam. Tapi kutepis pikiran buruk.
"Mas sudah makan? Aku masak bening bayam."
"Nggak usah. Mas udah kenyang."
"Kenyang? Makan di mana?"
"Tadi cuma mie instan bagi dua sama teman. Mas rela tahan lapar demi tabu ngan ru mah kita."
Hatiku mencelos. Aku merasa bersalah. "Mas... maaf. Harusnya aku bisa masak lebih enak."
Dia mengusap rambutku. "Yang penting kamu sehat. Oh ya, kopi hitam bisa buatkan?"
Aku ke dapur. Bayam bening hambar menunggu. Mas Yoris muncul, membuka tudung saji.
“Bayam sekarang mahal ya, Yun?”
“Eh? Nggak kok, Mas. Dua ri bu.”
“Dua ri bu? Kok cuma segini? Kamu nggak jajan bakso? Atau be li pulsa?”
"Nggak, Mas! Bayamnya layu, jadi sedikit."
"Halah, alasan! Mas kerja ban ting tulang, makan mie instan bagi dua, kamu malah boros!"
“Maaf, Mas … aku akan lebih he mat lagi.”
Dia melembut, "Mas begini karena sayang. Mas mau kita cepat pindah dari kontrakan bau got ini. Kamu mau kan punya ru mah me wah?"
"Mau, Mas."
"Ya sudah. Jangan manja."
Aku mematung di dapur, menahan perut keroncongan.
Beberapa saat kemudian, Mas mandi. Aku merapikan jaketnya. Ada bungkusan kecil di saku.
Dengan harapan, aku merogoh. Bukan perhiasan. Sebuah struk restoran steak me wah.
“Dua Porsi Wagyu Ribeye Lada Hitam. Dua gelas anggur merah. Satu kue lava cokelat.”
Nominal: “Satu ju ta delapan ratus ri bu.”
Tanggal: hari ini. Jam: pukul 19.00. Tepat sebelum Mas Yoris pulang dan mengaku makan mie instan.
Struk jatuh. Tanganku gemetar. Di balik struk, tulisan tinta biru:
‘Makasih buat malam romantisnya, Sayang. Nggak sabar menunggu bulan depan saat kita sah di depan penghulu. Love, Gista.’
Tiga tahun aku lupa rasa daging demi impian rumah. Saat aku menelan nasi garam dengan air mata, suamiku berpesta pora.
Dan rumah itu... mungkin memang sedang dibangun. Tapi sekarang aku ragu, apa istana itu untukku?
Bersambung...
Judul : Mahar 500 Juta dari Ga ji Rahasia Suamiku
Penulis : Diyahosaka



















































































