SAATNYA MEMBALAS, SAYANG! (1)
Hidup Adeline hancur sejak Rosa dan Astrid merebut segalanya: keluarga, ibu, dan masa depannya. Puncaknya terjadi saat tunangannya sendiri jatuh ke pelukan sang saudari tiri tepat sebelum hari pernikahan mereka. Tak ada lagi rasa takut. Bersama Galang—CEO cerdas yang menyimpan masa lalu kelam bersamanya—Adeline menyusun langkah demi langkah untuk membongkar kebusukan keluarga Laksono. Namun, semuanya bermula dari sebuah insiden mengerikan di SMA Pelita Bangsa.
(1)
Bau manis selai kacang memenuhi ruang ganti lantai dua. Bagi kebanyakan siswa, camilan itu lezat. Namun bagi Adeline, selai kacang bisa membahayakan nyawanya.
"Makan, Adeline! Ayo makan ini!" suara Astrid melengking tajam.
Adeline mundur hingga punggungnya membentur loker. Astrid, saudari tirinya yang mengenakan pin OSIS, memaksanya menghadapi makanan yang sangat ditakutinya.
"Aku... aku alergi, Astrid... Tolong..." rintih Adeline.
"Alergi apa? Alergi karena kamu mau cari perhatian Ayah, hah?" maki Astrid. "Ayah selalu bilang kamu anak penakut yang lemah. Hari ini aku mau buktikan ke semua orang kalau kamu cuma akting biar dikasihani!"
"Jangan... kumohon..." Adeline menggeleng, air mata mengalir di pipinya.
Astrid tetap memaksanya hingga kondisi Adeline memburuk. Gadis itu kesulitan bernapas dan akhirnya terjatuh. Melihat situasi di luar kendali, Astrid panik.
"Heh, jangan pura-pura mati ya kamu! Hei!" teriak Astrid. "Jangan bikin aku repot!"
Astrid kemudian berlari meninggalkan ruang ganti.
Di tengah kondisi yang semakin lemah, Adeline teringat ibunya yang masih dirawat di rumah sakit. Ketakutan memenuhi pikirannya.
Braaaak…!!!
Pintu ruang ganti terbanting terbuka. Galang, kakak kelas Adeline, muncul dengan seragam yang sedikit berantakan. Melihat keadaan Adeline, ia langsung menghampirinya.
"Adeline!"
Galang segera berusaha menolongnya.
"Tahan sebentar, Line! Jangan tutup mata kamu!" seru Galang.
"Kak... sesak..." lirih Adeline sambil mencengkeram ujung kemejanya.
"Aku tahu, aku tahu. Percaya sama aku," bisik Galang penuh determinasi.
Tanpa membuang waktu, Galang membawa Adeline keluar dari sekolah menuju klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Tiga hari kemudian, SMA Pelita Bangsa kembali terlihat normal. Namun, sebuah kabar mengejutkan menyebar: Galang, siswa kelas XII IPS 2 yang populer dan jago basket, tiba-tiba menghilang.
"Eh, kamu tahu nggak? Si Galang kelas XII IPS 2 tiba-tiba ngilang lho," bisik seorang siswi.
"Iya, seriusan? Padahal dia kan salah satu murid paling populer di angkatan kita, jago basket lagi," jawab temannya. "Kemarin waktu di kantor guru, aku dengar kepsek bilang loker dan berkas kepindahannya langsung diurus hari itu juga."
"Wah, aneh banget. Padahal dia baru aja bawa anak pendiam dari kelas sebelas ke IGD minggu lalu gara-gara alergi parah kan? Katanya sih gara-gara insiden di ruang ganti."
"Sstt, jangan kenceng-kenceng! Kata anak OSIS, keluarga Galang langsung pindah ke luar kota mendadak malam itu juga karena urusan mendadak. Pokoknya semenjak hari itu, batang hidungnya nggak pernah kelihatan lagi di sekolah ini."
Di sudut koridor, Adeline berdiri mematung menatap loker kosong Galang. Pemuda yang mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkannya kini lenyap tanpa jejak. Sejak saat itu, Adeline harus menghadapi lingkaran penderitaan keluarga Laksono seorang diri.
Namun, ia tak lagi sama. Pengkhianatan, kehilangan, dan pertemuannya dengan Galang kelak akan mengubah Adeline menjadi perempuan yang berani membalikkan keadaan dan membongkar semua kebusukan yang selama ini disembunyikan keluarganya.
Dan ketika suatu hari Galang kembali ke kehidupannya, Adeline menyadari bahwa penyelamatan itu bukan akhir dari semuanya. Justru dari sanalah perjalanan mereka dimulai: mencari kebenaran, menghadapi pengkhianatan, dan menyiapkan pembalasan yang tak pernah dibayangkan oleh Rosa maupun Astrid sebelumnya oleh keluarga mereka sendiri nanti.
Judul: Saatnya Membalas, Sayang!
Author: Joya Janis
Aplikasi: KBM App

