AKAD DENGAN SAHABAT (1)
“Na jis aku ni kah sama dia, Bu.”
Aku menatap Ibu tanpa berkedip.
Ibu terdiam, lalu bertanya lembut, “Aruna… kenapa kamu benci sekali sama Bram? Kurang apa dia? Calon dokter, wajahnya juga tampan, anak Pak Lurah lagi. Banyak perempuan berharap dilamar sama dia. Tapi kenapa justru kamu yang menolak mati-matian?”
“Bu, aku nggak perlu membuka semua keburukannya di depan Ibu. Yang jelas, aku tahu betul siapa Bram. Apa yang dia tunjukkan ke orang-orang itu cuma topeng.”
“Memangnya seburuk apa dia? Orang-orang mengenal Bram sebagai anak baik. Pak Lurah juga banyak berjasa sama keluarga kita. Dulu waktu bapakmu sakit keras dan kita nggak punya uang buat berobat, siapa yang bantu? Kita nggak bisa melupakan jasa beliau begitu saja, Aruna.”
Kalimat itu lagi. Berkali-kali aku menolak, tetapi orang tuaku terus membujuk.
“Bu, please! Kenapa sih harus memaksa? Sekarang kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Aku berhak menentukan siapa yang akan jadi suamiku! Lagipula Bram dan aku sama-sama baru selesai wisuda. Bilang sama dia, cari pengalaman kerja dulu deh, baru mikirin nikah!”
“Aruna!”
Suara Bapak menggelegar seperti petir.
“Tidak ada lagi negosiasi. Ini keputusan mutlak. Semakin kamu menolak, hari pernikahan akan semakin Bapak percepat!”
“Bapak jahat!”
Aku berlari masuk kamar. Satu minggu lagi aku akan menjadi istri Bram.
Rumah mulai ramai. Tetangga membawa panci, bunga melati, kain dekorasi, dan kotak hantaran. Semua orang tampak bahagia, sementara aku merasa seperti menunggu hari eksekusi.
Malam sebelum akad, pukul dua dini hari, aku mengenakan hoodie hitam dan memasukkan beberapa pakaian ke tas sandang cokelat. Tabungan dari celengan ayam keramik kupindahkan ke dompet.
Aku mengetik pesan kepada Pras. “Pras... Tunggu aku di ujung gang aja. Aku udah OTW nih.”
“Oke.”
Aku sengaja membohonginya. Kukatakan aku harus menjemput perias pengantin yang kendaraannya mogok. Setelah rumah sunyi, aku menyelinap keluar. Angin malam menerpa wajahku.
Di ujung gang, Pras sudah menunggu dengan motor.
“Jangan bilang motor lu rewel sekarang.”
“Bentar. Kayaknya aki motor gue lemah.”
“Terpaksa ngengkol nih.”
“Ya ampun, lama banget sih!”
“Iya, sabar! Udah minta tolong malah ngomel terus. Jam segini harusnya gue udah tidur nyenyak di kamar, bukannya jadi tukang ojek dadakan!”
Akhirnya motor menyala. Kami melaju meninggalkan kampung. Di tengah perjalanan, Pras mulai curiga.
“Lu pake jasa rias pengantin jauh banget sih, Aruna? Di kampung kita juga banyak jasa rias.”
“Di kampung kita nggak ada yang bagus.”
“Gue pengennya di hari pengantin nanti gue berubah.”
“Berubah jadi apa? Jadi Batman?”
“Pras!”
Kami tiba di perbatasan.
“Sekarang jelasin. Mana perias pengantinnya?”
“Nggak ada perias pengantin.”
“Hah?”
“Sebenarnya gue bohong.”
Pras menepikan motor. “Aruna, ini sebenarnya ada apa?”
“Gue kabur dari rumah, Pras.”
“Apa?!”
“Gue nggak mau nikah sama Bram.”
“Gila lu! Besok pagi akad, Run!”
“Gue tahu!”
“Terus lu mau ke mana sekarang?”
“Nggak tahu.”
Air mataku jatuh. “Masalah gue jauh lebih besar kalau harus hidup sama Bram seumur hidup, Pras! Gue nggak bisa jelasin semuanya sekarang. Tapi percayalah… Bram bukan orang baik.”
Pras mengacak rambutnya frustrasi. “Ya Allah, Aruna… kalau keluarga lu tahu gue yang bawa lu kabur, gue bisa dibunuh sama bapak lu.”
Aku tertawa pahit. “Terus gimana? Cuma lu sahabat gue satu-satunya yang bisa bantu gue saat ini, Pras!”
“Terus kita sekarang ke mana? Gila lu ya! Mampus deh gue sekarang!”
Bersambung.
Judul: Akad Dengan Sahabat
Penulis: Noer Bayti Jannati
Aplikasi baca: KBM App

