2025/9/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAku dulu juga sering bingung pas diminta dosen: "pakai bahasa ilmiah ya". Di kepala cuma satu: emang ciri-ciri bahasa karya ilmiah itu apa aja sih? Setelah sering nulis makalah, artikel ilmiah kecil-kecilan, sampai skripsi, akhirnya aku mulai ngeh polanya. Pertama, bahasa karya ilmiah itu harus baku. Artinya, pakai bahasa Indonesia sesuai KBBI dan EYD, bukan bahasa gaul kayak di chat. Misalnya: pakai "tidak" bukan "nggak", "saya" bukan "aku", "ingin" bukan "pengen". Termasuk juga penulisan yang rapi: huruf kapital, tanda baca, dan ejaan harus diperhatiin. Kedua, objektif. Di karya ilmiah, kita nggak boleh terlalu banyak pakai kata yang nunjukin perasaan pribadi. Jadi hindari kata-kata kayak "menurut saya, ini keren banget" atau "penulis sangat setuju" yang sifatnya emosional. Biasanya diganti dengan "berdasarkan hasil penelitian", "data menunjukkan bahwa", atau "dapat disimpulkan". Fokus ke data dan fakta, bukan selera pribadi. Ketiga, logis dan runtut. Paragrafnya harus punya alur yang jelas: diawali dengan kalimat topik, lalu penjelasan, data atau contoh, lalu penegasan. Jangan lompat-lompat topik. Pembaca harus bisa ngikutin alur dari pendahuluan, landasan teori, metode, hasil, sampai kesimpulan tanpa bingung "sebenarnya karena apa, jadi woi?!". Keempat, tidak ambigu. Usahakan kalimatnya jelas dan tidak menimbulkan makna ganda. Kalau bisa dipilih kata yang langsung ke inti, jangan muter-muter. Misalnya lebih baik tulis "Penelitian ini bertujuan untuk…" daripada kalimat panjang bertele-tele yang bikin pembaca mikir dua kali. Kelima, formal dan sopan. Hindari kata-kata kasar, bercanda berlebihan, atau singkatan ala chat. Kalau di editing video kita bisa tulis caption bebas, di karya ilmiah harus jaga nada tulisan supaya tetap profesional. Bahkan kalau kita tidak setuju sama pendapat peneliti lain, tetap disampaikan dengan bahasa sopan dan akademis. Keenam, konsisten. Mulai dari istilah, singkatan, sampai cara penulisan referensi, usahakan konsisten dari awal sampai akhir. Misalnya, kalau di awal kamu memilih istilah "peserta didik", jangan tiba-tiba di tengah ganti jadi "murid" atau "siswa" tanpa alasan jelas. Singkatan juga harus dijelasin dulu di awal sebelum dipakai berulang. Terakhir, biasanya bahasa karya ilmiah juga padat dan efektif. Artinya, nggak bertele-tele tapi juga nggak terlalu pendek sampai jadi nggak jelas. Satu kalimat sebaiknya nggak terlalu panjang; kalau kepanjangan, pecah jadi dua kalimat biar enak dibaca. Waktu aku bikin skripsi, tips praktisku adalah: tulis dulu pakai bahasa sendiri, lalu baca ulang dan ubah kata-kata gaul ke bahasa baku, hilangkan pendapat terlalu pribadi, dan tambah kalimat yang nunjukin data atau teori. Lama-lama jadi kebiasaan, dan kamu bakal lebih gampang bedain mana bahasa ilmiah dan mana yang bukan. Kalau lagi ngerjain tugas kampus atau sekolah, kamu bisa pakai daftar ciri-ciri ini sebagai checklist kecil saat mengedit karya ilmiahmu.