hai, ini pertama kalinya aku bisa cerita di sosial media. pertama kalinya juga cerita tentang diri sendiri. aku sangat mengapresiasi diriku karena berani membicarakan diri sendiri.
jujur perasaanku sekarang jauh lebih lega karena bisa cerita ke orang lain🩷
... Baca selengkapnyaPernah nggak sih ngerasain terendap laraku, tapi tiap orang nanya kamu jawabnya cuma, "nggak apa-apa kok"? Padahal dada sesak, kepala penuh, emosi nggak stabil, tapi mulut otomatis bilang semuanya baik-baik aja. Aku pernah banget di fase itu, dan jujur rasanya capek.
Di balik kata "gapapa" itu, aku sering ngalamin panic attack. Tiba-tiba napas jadi pendek, jantung deg-degan, pikiran lari ke mana-mana. Tapi karena takut ngebebanin orang lain, aku milih diem dan pura-pura kuat. Di titik ini aku baru sadar, ternyata aku sendiri yang lagi ngeabaikan perasaanku.
Aku sempat terjebak dalam toxic positivity, di mana aku maksa diri sendiri buat selalu keliatan kuat, ceria, dan aman. Setiap hal buruk aku tutup-tutupin dengan kalimat, "Aku kuat kok" atau "Yang lain masalahnya lebih berat, aku nggak boleh ngeluh." Padahal, makin ditahan justru makin bikin luka itu makin dalam—terendap, nggak kelihatan, tapi sakitnya nyata.
Suatu hari aku bener-bener ngerasa nggak bisa bohong lagi. Di halte, sendirian, aku duduk sambil liatin chat yang aku blokir, napas kuatur pakai teknik inhale–exhale. Pelan-pelan aku belajar buat ngaku ke diri sendiri: "Aku lagi nggak baik-baik aja." Ternyata, mengakui kalau aku rapuh bukan berarti lemah, tapi justru awal dari proses pemulihan.
Dari situ aku mulai coba beberapa hal sederhana: nulis jurnal tentang perasaan, ngasih nama ke emosi yang muncul (sedih, marah, kecewa, takut), dan ngizinin diri buat nangis kalau memang butuh. Aku juga pelan-pelan belajar ngomong jujur ke orang terdekat, bukan cuma jawab "gapapa" setiap ditanya. Rasanya ngeri di awal, takut dinilai lebay, tapi kelegaan setelahnya nggak bisa digambarin.
Kalau kamu lagi ngerasain terendap laraku, mungkin kamu nggak harus langsung cerita panjang ke semua orang. Mulai aja dari hal kecil: jujur ke diri sendiri dulu. Tulis di buku, di note HP, atau cuma di kepala: "Hari ini aku capek." Lalu kasih diri sendiri ruang buat istirahat tanpa ngerasa bersalah.
Ingat, mengakui ketidakbaikan bukan kelemahan. Justru dari situ kamu bisa pelan-pelan pulih. Nggak ada yang salah dengan kamu kalau ternyata hati kamu lagi terluka. Pelan-pelan, belajar bilang yang sebenernya, bukan selalu "gapapa". Kamu layak didengar, bahkan kalau orang pertama yang mendengar itu adalah dirimu sendiri.