Ayah NIZAM Pulangš
Dua Hari Pencari Surga: Maafkan Nizam, Ayah..."
"Yah, Nizam pulang..."
Cuma itu yang ada di kepalaku waktu melangkah keluar dari gerbang pondok. Rasanya senang sekali. Bayanganku, pulang ke rumah berarti bisa mencium tangan Ayah, makan masakan rumah, dan cerita tentang hafalan yang Nizam pelajari di sana.
Nizam baru dua hari di rumah, Yah. Baru dua hari menghirup udara kamar sendiri. Tapi ternyata, rumah bukan lagi tempat yang aman buat Nizam.
Waktu tangan itu mulai memukul, Nizam bingung. Apa salah Nizam? Apa karena Nizam kurang rajin mengaji? Atau kehadiran Nizam memang tidak diinginkan oleh Ibu (tiri)? Nizam mau teriak panggil Ayah, tapi suara Nizam tercekat. Setiap rasa sakit yang mendarat di tubuh ini, Nizam cuma bisa istighfar.
Nizam kira, pulang dari pondok adalah untuk melepas rindu. Ternyata, Nizam cuma mampir sebentar untuk pamit pergi selama-lamanya.
"Maafkan Nizam ya, Yah... Kalau kepulangan ini malah meninggalkan luka buat Ayah. Tapi di sini, di tempat Nizam sekarang, sudah tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi tangan yang kasar. Tidak ada lagi rasa takut."
Nizam sekarang sudah tenang. Jaga diri baik-baik ya, Yah. Di sini Nizam tunggu Ayah di pintu surga, tempat di mana tidak akan ada lagi perpisahan dan air mata.
[Penutup untuk Netizen]
Hancur hati ini membaca kisah Nizam. Anak yang baru saja menuntut ilmu agama, harus meregang nyawa di tangan orang yang seharusnya melindunginya. Baru 2 hari merasakan hangatnya rumah, kini ia sudah berada di pelukan Sang Pencipta.
Selamat jalan, Nizam. Hafalanmu kini menemanimu di surga yang paling indah. šļøš







































Lihat komentar lainnya