Ayah NIZAM Pulang😭

Dua Hari Pencari Surga: Maafkan Nizam, Ayah..."

"Yah, Nizam pulang..."

Cuma itu yang ada di kepalaku waktu melangkah keluar dari gerbang pondok. Rasanya senang sekali. Bayanganku, pulang ke rumah berarti bisa mencium tangan Ayah, makan masakan rumah, dan cerita tentang hafalan yang Nizam pelajari di sana.

Nizam baru dua hari di rumah, Yah. Baru dua hari menghirup udara kamar sendiri. Tapi ternyata, rumah bukan lagi tempat yang aman buat Nizam.

Waktu tangan itu mulai memukul, Nizam bingung. Apa salah Nizam? Apa karena Nizam kurang rajin mengaji? Atau kehadiran Nizam memang tidak diinginkan oleh Ibu (tiri)? Nizam mau teriak panggil Ayah, tapi suara Nizam tercekat. Setiap rasa sakit yang mendarat di tubuh ini, Nizam cuma bisa istighfar.

Nizam kira, pulang dari pondok adalah untuk melepas rindu. Ternyata, Nizam cuma mampir sebentar untuk pamit pergi selama-lamanya.

"Maafkan Nizam ya, Yah... Kalau kepulangan ini malah meninggalkan luka buat Ayah. Tapi di sini, di tempat Nizam sekarang, sudah tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi tangan yang kasar. Tidak ada lagi rasa takut."

Nizam sekarang sudah tenang. Jaga diri baik-baik ya, Yah. Di sini Nizam tunggu Ayah di pintu surga, tempat di mana tidak akan ada lagi perpisahan dan air mata.

[Penutup untuk Netizen]

Hancur hati ini membaca kisah Nizam. Anak yang baru saja menuntut ilmu agama, harus meregang nyawa di tangan orang yang seharusnya melindunginya. Baru 2 hari merasakan hangatnya rumah, kini ia sudah berada di pelukan Sang Pencipta.

Selamat jalan, Nizam. Hafalanmu kini menemanimu di surga yang paling indah. šŸ•ŠļøšŸ’”

/Ayam Potong Depin

2/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman membaca kisah Nizam ini benar-benar membuka mata saya tentang betapa pentingnya lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang bagi anak-anak, terutama yang sedang dalam masa pertumbuhan dan belajar agama. Ketika seorang anak seperti Nizam, yang baru saja pulang dari pondok pesantren dengan semangat dan harapan, justru mengalami kekerasan di rumah, hal ini sangat menyayat hati dan menimbulkan perasaan sedih yang mendalam. Dalam cerita tersebut, kita bisa merasakan betapa beratnya beban yang ditanggung Nizam, menghadapi rasa sakit fisik sekaligus luka batin. Dia yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih dari keluarga justru mengalami kondisi sebaliknya. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran keluarga dalam memberikan rasa aman dan cinta, terutama bagi anak-anak yang sedang menimba ilmu dan membentuk karakter mereka. Saya yakin banyak dari kita mungkin belum menyadari adanya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang sering tersembunyi dan tidak banyak diketahui publik. Cerita Nizam ini menjadi pengingat penting bahwa kekerasan fisik maupun emosional terhadap anak-anak harus diakhiri segera. Kita sebagai masyarakat juga punya tanggung jawab untuk lebih peka dan aktif dalam melindungi anak-anak yang rentan. Selain itu, kisah Nizam mengajarkan kita tentang kekuatan doa dan harapan. Walaupun Nizam sudah tidak bersama kita lagi, doa dan hafalan yang dia miliki menjadi warisan berharga yang menyertai dirinya di tempat yang lebih baik. Ini juga mengingatkan bahwa pendidikan agama dan nilai-nilai luhur sangat penting untuk membentuk ketenangan jiwa, bahkan di tengah penderitaan. Sebagai seseorang yang pernah berinteraksi dengan anak-anak di pesantren dan lingkungan pendidikan agama, saya merasa cerita seperti ini harus lebih banyak dibagikan agar menimbulkan kesadaran kolektif. Anak-anak seperti Nizam layak mendapatkan masa depan yang cerah dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka tanpa rasa takut. Semoga dengan berbagi cerita ini, kita semua bisa mengambil pelajaran berharga untuk lebih peduli, melindungi, dan mendukung anak-anak di sekitar kita agar tidak ada lagi kisah pilu seperti Nizam di masa depan.

3 komentar

Gambar Bunda Mia
Bunda Mia

surga tempat mu nak nizam

Gambar Emmi
Emmi

Smg husnul khatimah .....

Lihat komentar lainnya