Kata katamu seolah candu bagi yang mendengar, bisik bisik cintamu menusuk,

Hangat matahari itu lah dirimu

Terangnya cahaya itulah perlakuan mu

Gemerlapnya bintang bintang itulah janjimu.

Janji yang terbit dari mulut yang manismu

Namun hanya sebuah ilusi sebenarnya

Tak ada kata kata manis, tak ada syair syair menyejukkan, karena semua hanya dusta.

2025/9/15 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPuisi ini dengan indah mengungkapkan kontradiksi antara harapan dan kenyataan dalam cinta. Seringkali, kata-kata manis yang terucap seolah membawa kehangatan seperti sinar matahari, namun di balik itu tersembunyi ilusi yang menyakitkan. Banyak dari kita pasti pernah mengalami situasi di mana janji yang terdengar gemerlap seperti bintang-bintang ternyata hanyalah angan-angan kosong. Perasaan terluka karena janji yang tak ditepati bisa meninggalkan bekas mendalam di hati. Menghadapi kenyataan bahwa tidak semua kata-kata cinta adalah tulus, menjadikan kita lebih bijak dalam memaknai hubungan. Puisi ini menjadi cerminan pentingnya kejujuran dan ketulusan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Dengan memahami bahwa tidak ada syair yang cukup menyejukkan jika hanya diwarnai oleh dusta, pembaca diajak untuk refleksi diri dan memilih untuk membangun hubungan yang penuh kepercayaan. Melalui ungkapan puisi, kita pun diingatkan agar tidak mudah terbuai oleh janji manis tanpa bukti nyata. Keterbukaan dan kejujuran adalah fondasi utama dalam menjaga kehangatan cinta yang sebenarnya. Selain itu, puisi ini juga mengajak pembaca untuk menerima kenyataan dengan lapang dada, meskipun terkadang rasa kecewa tidak bisa dihindari. Secara keseluruhan, puisi ini bisa menjadi teman bagi siapa saja yang sedang bergumul dengan dilema cinta antara harapan dan realita. Inilah bentuk seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang nilai kejujuran dan kesetiaan dalam sebuah hubungan.