Rahasia Cewe Bali Kuat! 💪 🤫
#TentangKehidupan Rasanya jadi cewe bali itu ga ada abisnya kerjaan ya moms.
Apalagi menjelang hari raya gini.
Cara satu-satunya Rahasia KUAT nya cuma semua buat. Hehe
Supaya aman semuanya kantong aman & walaupun tertatih-tatih ya moms. Hari raya gini persiapannya kudu extra☺️☺️☺️☺️
Semangat buat IRT yang menjadi wanita Bali🌸🌸
Sebagai cewe Bali, apalagi yang sudah jadi istri dan ibu, kadang aku ngerasa hidup itu muter di antara dapur, odalan, upacara, dan persiapan hari raya yang nggak ada habisnya. Setiap mau hari raya besar, pengeluaran otomatis naik. Bukan cuma belanja dapur, tapi juga sodan, canang, dan banten danan yang harus selalu siap. Biasanya aku mulai nyicil dari sebulan sebelum hari raya. Pertama, aku bikin daftar kebutuhan persembahan: mulai dari janur, bunga, kapur-sirih, buah (pisang wajib banget), sampai keperluan lain kayak dupa dan kue-kue. Dengan list ini, aku bisa bedain mana yang wajib, mana yang bisa disederhanakan, supaya kantong tetap aman. Kadang aku bandingin harga di pasar tradisional sama di warung dekat rumah, dan jujur, belanja subuh-subuh di pasar biasanya lebih murah. Untuk sodan dan canang, aku usahakan bikin sendiri sebisa mungkin. Memang butuh waktu dan tenaga, tapi lumayan ngurangin biaya. Aku biasanya ajak anak atau suami bantu potong bunga atau susun canang, sekalian jadi momen kebersamaan. Jadi bukan cuma aku yang kerja, semua ikut ambil bagian. Pelan-pelan aku belajar kalau cewe Bali kuat itu bukan berarti semua ditanggung sendiri, tapi berani minta bantuan. Aku juga punya "amplop hari raya" khusus. Jadi tiap bulan, meski sedikit, aku sisihkan uang khusus untuk keperluan banten dan persiapan hari raya. Jadi pas mendekati hari H, aku nggak terlalu kaget lihat pengeluaran. Kalau lagi benar-benar mepet, aku pilih pakai bahan yang lebih sederhana tapi tetap sopan dan layak untuk persembahan. Intinya, niat dan ketulusan tetap nomor satu. Secara mental, aku sering banget ngerasa lelah. Bangun subuh, masak, urus anak, bersih-bersih rumah, lanjut siapin banten sampai malam. Di titik itu, aku sadar pentingnya punya waktu sedikit buat diri sendiri. Entah cuma 10–15 menit minum teh sambil tarik napas, atau curhat sama teman sesama cewe Bali yang juga IRT. Rasanya plong banget kalau tahu kita nggak berjuang sendirian. Menurutku, label "wanita Bali harus kuat" itu kadang berat. Kita memang diajarkan tangguh, tapi tetap manusia yang boleh capek dan butuh istirahat. Jadi sekarang aku berusaha lebih jujur sama diri sendiri: kalau badan sudah nggak kuat, aku kurangi kerjaan, fokus ke yang paling penting dulu. Keluarga tetap jalan, tradisi tetap dijaga, tapi kesehatan fisik dan mental juga diperhatikan. Buat kamu sesama cewe Bali yang lagi pusing mikirin persiapan hari raya, pengeluaran sodan, canang, dan banten danan, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan saja, atur keuangan, sederhanakan kalau perlu, dan jangan lupa minta bantuan. Kuat itu bukan berarti nggak capek, tapi tetap jalan meski pelan sambil sayang sama diri sendiri.



jeg menyala yen rainan 😁😁😁😁