إن العشق وإن كان مبدأه

النظر والسماع لكنهما غير موجبين له

فهو فعل الله بالعبد بلا سبب

Kalimat ini berbunyi: "Sesungguhnya cinta (al-'ishq) meskipun asalnya adalah melihat dan mendengar, namun keduanya tidaklah menjadi sebab yang pasti untuk terjadinya cinta. Maka cinta adalah perbuatan Allah pada hamba-Nya tanpa sebab."

Kalimat ini menggambarkan konsep cinta (al-'ishq) dalam perspektif sufistik atau tasawuf. Menurut kalimat ini:

1. *Asal cinta*: Cinta dapat dimulai dari melihat dan mendengar, yang merupakan interaksi antara manusia dengan sesuatu yang disukai.

2. *Tidak ada sebab yang pasti*: Meskipun melihat dan mendengar dapat memicu cinta, namun keduanya tidaklah menjadi sebab yang pasti untuk terjadinya cinta. Artinya, cinta tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lahiriah.

3. *Cinta sebagai perbuatan Allah*: Kalimat ini menekankan bahwa cinta pada dasarnya adalah perbuatan Allah pada hamba-Nya, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebab-sebab duniawi. Ini menunjukkan bahwa cinta memiliki dimensi spiritual yang mendalam dan terkait dengan kehendak Allah.

Dengan demikian, kalimat ini menggambarkan bahwa cinta adalah fenomena yang kompleks yang tidak hanya dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lahiriah, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang terkait dengan kehendak Allah.

Pondok Pesantren An-najach
2025/12/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pemahaman tasawuf, cinta atau al-'ishq bukan sekadar emosi biasa yang timbul dari interaksi fisik seperti melihat dan mendengar. Sebagaimana dijelaskan dalam kalimat tersebut, cinta adalah anugerah ilahi yang melampaui sebab-musabab duniawi. Fenomena ini menegaskan bahwa meskipun pancaindra dapat menjadi pintu masuk cinta, hakikat cinta sejati merupakan manifestasi dari kehendak Allah kepada hamba-Nya. Hal ini memberi dimensi spiritual yang sangat mendalam, bahwa cinta adalah bentuk kasih sayang dan pertolongan Tuhan yang bersifat langsung dan tanpa perantara sebab apapun. Konsep ini memiliki hubungan erat dengan pengalaman mistik para sufi yang merasakan kedekatan dan penyatuan dengan Tuhan melalui cinta yang mutlak dan suci. Oleh karena itu, cinta dalam konteks al-'ishq bukan sekadar perasaan manusia terhadap sesuatu yang dilihat atau didengar, melainkan sebuah kondisi hati yang dihidupkan oleh anugerah ilahi. Dalam praktik spiritual tasawuf, pemurnian hati dan pembebasan dari sebab-sebab lahiriah tersebut menjadi esensi untuk merasakan cinta Allah yang sejati. Ini juga menegaskan bahwa usaha lahiriah seperti melihat dan mendengar hanyalah langkah awal, sedangkan kedalaman cinta terjadi melalui rahmat dan perbuatan Allah sendiri. Dengan memahami bahwa "cinta adalah perbuatan Allah pada hamba-Nya tanpa sebab", maka kita diajak untuk melihat cinta sebagai sesuatu yang transenden; bukan sebatas interaksi sosial atau emosional, melainkan pengalaman spiritual yang membawa manusia pada kedekatan dan kesucian yang hakiki. Oleh karena itu, memperdalam pengertian tentang cinta menurut tasawuf dapat membantu kita menghargai makna cinta yang lebih luas dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai fenomena duniawi, tetapi juga sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian sejati melalui keterhubungan dengan Tuhan.