مَنْ أَرَادَ بِعَمَلِهِ الدُّنْيَا وَلَا يُرِيدُ ثَوَابَ الْآخِرَةِ أَعْطَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا مِقْدَارَ مَا شِئْنَا مِنْ عَرَضِ الدُّنْيَا لِمَنْ نُرِيدُ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal dengan tujuan dunia dan tidak menginginkan pahala akhirat, maka Kami akan memberinya di dunia ini sebanyak yang Kami kehendaki dari kenikmatan dunia bagi orang yang Kami kehendaki."
Kalimat ini mengandung beberapa poin penting tentang motivasi dalam beramal:
1. *Tujuan beramal*: Tujuan beramal dapat mempengaruhi penerimaan amal di sisi Allah SWT.
2. *Balasan di dunia*: Orang yang beramal dengan tujuan dunia akan mendapatkan balasan di dunia, tetapi tidak ada pahala di akhirat.
Dengan demikian, kalimat ini mengajarkan kita tentang:
- *Pentingnya niat*: Niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT sangat penting dalam beramal.
- *Bahaya beramal karena dunia*: Beramal dengan tujuan dunia dapat membuat amal menjadi tidak diterima di sisi Allah SWT.
Kalimat ini menunjukkan bahwa motivasi yang benar dalam beramal sangat penting untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.
Dalam pengalaman saya pribadi, memahami betapa pentingnya niat dalam setiap amal sangat membuka mata hati. Saya pernah melihat saudara yang rajin beramal, tetapi niatnya hanya untuk memperoleh penghargaan sosial atau pujian manusia. Hasilnya, meskipun amal yang dikerjakannya besar di mata orang lain, ia tidak merasakan kedamaian batin atau keberkahan dalam hidupnya. Sebaliknya, ketika seseorang mengerjakan amal dengan niat ikhlas karena Allah, meskipun secara lahiriah kecil atau sederhana, ia mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. Ada satu pesan penting yang saya pelajari dari ayat ini dan pemahaman ulama, yaitu bahwa Allah SWT memang memberikan ganjaran dunia kepada mereka yang beramal dengan niat duniawi. Namun ganjaran itu sering bersifat sementara dan tidak membawa kebahagiaan hakiki. Momen ini mengingatkan saya untuk selalu mengevaluasi niat saya ketika melakukan setiap kebaikan, apakah benar saya mencari ridha Allah atau hanya ingin keuntungan duniawi. Selain itu, dalam proses memperbaiki niat, penting juga untuk menjaga diri dari godaan hawa nafsu dan kesenangan dunia yang berlebihan, sebagaimana disinggung dalam teks dalam bahasa Arab yang berkaitan dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan menghindari kemewahan yang berlebihan. Pengalaman saya saat menjalani ibadah puasa adalah momen efektif untuk melatih pengendalian diri dan memperkuat niat agar tetap fokus pada tujuan spiritual, bukan sekadar fisik atau duniawi. Anjuran ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Saat kita bekerja, beramal, atau beribadah, selalu tertanamkan bahwa tujuan utama kita adalah mencari keridhaan Allah, bukan sekadar keuntungan materi atau pujian manusia. Dengan demikian, amal akan diterima dan mendatangkan kebahagiaan sejati di akhirat kelak. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk memperbaiki niat dan istiqamah dalam amal ibadah.
🥰