Setelah Bone, Diduga Penyelundupan BBM Bersubsidi Juga Terjadi di Pelabuhan Sinjai Menuju
Bone | Intipos.com – Aktivitas dugaan penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis bio solar diduga penyebab kelangkaan BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Seorang sumber menyampaikan bahwa pelabuhan yang ada di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan diduga kuat menjadi lokasi pengangkutan BBM bersubsidi secara ilegal menuju ke kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara.
Bahkan kata sumber terpercaya yang meminta tidak disebutkan namanya, dugaan penyelundupan BBM bersubsidi melalui pelabuhan Sinjai diduga diakomodasi oleh seorang inisial AAN.
Sementara di kabupaten Kolaka diduga yang menerima BBM subsidi tersebut adalah inisial FKR.
“ AAN diduga selaku pengirim, Sementara penerima diduga FKR,” katanya.
Sementara FKR dikonfirmasi memilih tidak memberikan tanggapan baik melalui panggilan maupun melalui pesan WhatsApp. Pesan WhatsApp yang dilayangkan pada Jumat, 12 September 2025, menunjukan centang dua abu-abu.
Kasat Reskrim Polres Sinjai, IPTU Ade Asrul dikonfirmasi membantah adanya dugaan aktivitas pengangkutan BBM bersubsidi di wilayah kabupaten Sinjai.
Meskipun nama AAN cukup dikenal di Sinjai bahkan sampai di Bone selatan, namun Kasat Reskrim mengaku belum mengetahui siapa AAN.
“ Saya baru dua bulan di Sinjai,” katanya, Jumat (12/09/2025).
Salah satu akun X mengomentari postingan berita intipos.com terkait dugaan penyelundupan BBM ilegal, “ Di Sinjai ki pak ada Penyelundupan BBM solar dimuat pake kapal kayu jalur ke Kolaka,” tulis @sukri77033
Sebelumnya diberitakan, Dugaan aktivitas penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis bio solar melalui jalur laut yang dipusatkan menjadi lokasi pengangkutan di Kelurahan Pallette, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dan kini mulai terungkap dugaan keterlibatan oknum.
Hingga berita ini ditayangkan, AAN belum dapat dikonfirmasi.
#videoviral #solar #viral #fyp #sorotan @Polda Sulawesi Selatan @MABES POLRI INDONESIA
Dalam beberapa waktu terakhir, kelangkaan BBM bersubsidi seperti bio solar di beberapa wilayah sudah menimbulkan keresahan bagi masyarakat luas, terutama para pengguna transportasi dan pelaku usaha yang sangat bergantung pada bahan bakar ini. Dugaan penyelundupan BBM bersubsidi yang terjadi melalui pelabuhan-pelabuhan kecil, seperti Pelabuhan Sinjai di Sulawesi Selatan, semakin menguatkan pentingnya pengawasan ketat untuk mencegah praktik ilegal ini. Penyelundupan BBM bersubsidi bukan hanya merugikan negara secara finansial akibat kehilangan subsidi yang sebenarnya harusnya tepat sasaran, tetapi juga menimbulkan ketidakseimbangan pasokan di wilayah yang seharusnya masuk dalam jaringan distribusi yang benar. Tindakan ini berpotensi memperparah kelangkaan dan mendorong naiknya harga jual di pasaran gelap yang tidak terkontrol. Proses penyelundupan biasanya melibatkan pengangkutan menggunakan kapal kayu melalui jalur laut, seperti yang terindikasi dari pelabuhan Sinjai menuju Kolaka di Sulawesi Tenggara. Pengangkutan ilegal ini kerap dilakukan oleh oknum yang memanfaatkan kondisi geografis dan pengawasan yang minim di pelabuhan kecil dan jalur laut tradisional. Dugaan keterlibatan oknum tertentu, seperti dengan inisial AAN sebagai pengirim dan FKR sebagai penerima, memperlihatkan adanya jaringan yang cukup terorganisasi. Sementara itu, aparat keamanan seperti Polres Sinjai berupaya melakukan klarifikasi dan investigasi meski mengakui keterbatasan informasi terkait pelaku utama. Hal ini menunjukkan tantangan dalam pengungkapan kasus yang memerlukan kolaborasi antara aparat penegak hukum dan masyarakat. Masyarakat dan pengguna media sosial juga mengawasi dan memberikan informasi mengenai aktivitas yang mencurigakan terkait penyelundupan BBM bersubsidi. Komentar pada platform X misalnya, mengonfirmasi adanya pengangkutan BBM illegal menggunakan kapal kayu dari Sinjai ke Kolaka, yang menambah bukti dan perhatian publik. Sebagai pengguna BBM bersubsidi dan warga yang peduli, penting untuk turut mendukung pengawasan dan pelaporan apabila menemukan indikasi penyalahgunaan subsidi. Dengan begitu, diharapkan distribusi BBM bersubsidi dapat kembali tepat sasaran, kualitas hidup masyarakat tetap terjaga, dan sumber daya negara tidak disalahgunakan. Pemerintah juga perlu mengintensifkan pengawasan di pelabuhan-pelabuhan kecil dan memperkuat sistem pendistribusian BBM bersubsidi agar lebih transparan dan akuntabel. Edukasi kepada masyarakat tentang dampak negatif penyelundupan BBM dan pentingnya subsidi untuk kelompok yang berhak bisa meningkatkan kesadaran kolektif dalam mengantisipasi masalah ini. Dengan langkah bersama, permasalahan penyelundupan BBM bersubsidi yang selama ini merugikan berbagai pihak dapat diminimalisir sehingga pasokan BBM subsidi berjalan lancar, sesuai dengan niat dan tujuan pemerintah.

