BBM Langka, Mafia Dibincang, Polisi Membantah

Bone | Intipos.com – Kelangkaan BBM bersubsidi di sejumlah SPBU dalam Kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada Kamis (19/03/2026) sore, memicu kegelisahan masyarakat. Antrean panjang kendaraan hingga keluhan warga pun tak terhindarkan.

Situasi ini semakin memanas setelah mencuatnya isu dugaan praktik mafia BBM di wilayah tersebut. Perbincangan publik kian liar seiring munculnya spekulasi dugaan adanya aliran dana dari jaringan mafia BBM kepada oknum aparat penegak hukum (APH).

Namun, tudingan tersebut dibantah tegas oleh Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Alvin Aji Kurniawan. Ia memastikan bahwa tidak ada keterlibatan aparat dalam praktik ilegal tersebut.

Tidak ada setoran,” tegas Alvin saat dikonfirmasi pada Selasa (17/03/2026).

Di sisi lain, pengakuan mengejutkan datang dari seorang terduga pelaku mafia BBM jenis biosolar bersubsidi berinisial BA, warga Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ia mengklaim bahwa aktivitas distribusi yang dijalankannya telah melalui koordinasi dengan berbagai pihak.

“Hansip saja tidak kuajak koordinasi,” ujar BA dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, yang memicu beragam tafsir di tengah masyarakat.

BA juga mengungkapkan alur distribusi BBM tersebut. Ia mengaku membeli biosolar di wilayah Bone, kemudian mengangkutnya ke Wajo, sebelum akhirnya dikirim ke Morowali, Sulawesi Tengah.

Pernyataan ini semakin menguatkan dugaan adanya jaringan distribusi BBM bersubsidi lintas daerah yang terorganisir.

Hingga kini, masyarakat masih menunggu langkah tegas aparat untuk mengusut tuntas dugaan praktik mafia BBM tersebut, sekaligus memastikan ketersediaan BBM bersubsidi kembali normal di wilayah Watampone

#viral #fyp #fypシ゚viral #sorotan #viralvideo @Prabowo @POLDA SULSEL @poldasulsel8 @Pertamina @BPH Migas @Gerindra @Mabes Polri @pertamina.sulawesi @kapolri0

3/19 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman saya saat terjadi kelangkaan BBM bersubsidi di beberapa wilayah Indonesia menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya disebabkan oleh faktor distribusi yang buruk, tetapi juga adanya dugaan praktik mafia yang merugikan masyarakat. Dalam kasus Bone ini, isu praktik mafia BBM yang melibatkan jaringan distribusi lintas daerah memang sangat serius. Pengakuan BA, terduga pelaku mafia biosolar, yang mengungkapkan alur distribusi mulai dari Bone ke Wajo dan Morowali, menunjukkan adanya sistem yang sudah terstruktur. Hal ini tentu bukan masalah yang mudah diatasi tanpa investigasi dan koordinasi intensif dari aparat penegak hukum. Saya pernah mengikuti diskusi komunitas yang menyoroti pentingnya transparansi dan pengawasan ketat terhadap distribusi BBM bersubsidi agar tidak disalahgunakan. Koordinasi antar instansi seperti kepolisian, Pertamina, dan BPH Migas sangat krusial agar dugaan mafia bisa diungkap dan diputuskan. Masyarakat juga perlu proaktif melaporkan setiap tindakan mencurigakan di SPBU untuk mencegah praktek kecurangan. Antrean panjang yang terjadi tentunya mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga yang sangat mengandalkan BBM bersubsidi untuk transportasi dan usaha. Semoga langkah tegas dari aparat yang dibantah oleh Kasat Reskrim Polres Bone dapat segera membuahkan hasil nyata, mengembalikan ketersediaan BBM bersubsidi secara normal, dan menghilangkan keraguan publik terkait keterlibatan oknum aparat dalam mafia BBM. Untuk warga Bone dan sekitarnya, mari terus jaga solidaritas dan saling mendukung demi keadilan distribusi BBM bersubsidi yang tepat sasaran.