... Baca selengkapnyaKalau denger kata "coretan pena", aku langsung kebayang malam yang sepi, cuma ditemani lampu redup dan buku catatan yang halamannya masih banyak kosong. Biasanya ide muncul begitu saja: kadang pas lagi sedih, kadang habis lihat langit malam, atau cuma karena lagi overthinking sendirian. Tulisan pertama jarang banget langsung bagus. Aku sering banget nulis satu bait puisi, terus dibaca ulang, lalu dihapus dan ditulis lagi berkali-kali.
Buat aku, coretan pena itu semacam tempat pelarian. Saat suasana hati lagi berat, aku suka nulis tentang malam dan kesunyian. Misalnya, bayangin duduk di kamar gelap dengan jendela sedikit terbuka, terus dari situ muncul kalimat-kalimat tentang gelap yang sebenarnya lagi nyari sedikit cahaya. Kadang aku pakai imajinasi bunga daisy putih atau bunga merah muda sebagai simbol harapan kecil di tengah gelap, seolah-olah ada yang masih tetap hidup dan cantik meski suasananya muram.
Menulis puisi kayak gini nggak selalu harus rapi. Justru coretan yang berantakan sering paling jujur. Aku biasanya mulai dari satu kata kunci, misalnya "malam", lalu kutambahin perasaan yang lagi kurasain: rindu, cemas, kesepian, atau syukur. Dari situ pelan-pelan terbentuk satu baris puisi, lalu nyambung ke baris berikutnya. Kalau terasa aneh, ya sudah, nanti bisa dihapus dan diubah lagi. Proses bolak-balik inilah yang bikin coretan pena kerasa hidup.
Hal yang paling lega adalah ketika tulisan itu selesai, meski cuma beberapa baris. Rasanya kayak sebagian beban di kepala ikut pindah ke kertas. Kadang aku tambahin sedikit "kilau bintang" dalam kata-kata, semacam pengingat bahwa bahkan di tengah kesedihan, selalu ada kemungkinan untuk nemuin penerangan. Nggak perlu muluk jadi puisi yang indah menurut orang lain, yang penting nyambung sama hati sendiri.
Kalau kamu juga sering merasa ide datang dan pergi, lalu bingung harus mulai dari mana, coba aja tulis apa pun yang kamu rasakan saat itu. Nggak usah takut jelek atau aneh. Coretan pena itu memang tempatnya hal-hal yang belum sempurna. Justru di situlah serunya: dari satu kalimat sederhana tentang malam dan kesunyian, pelan-pelan kamu bisa nemuin gaya menulismu sendiri.
Jadi, kalau kamu pernah ngerasa sendirian di malam hari, kepalamu penuh pikiran, cobain ambil pena dan kertas. Biarkan coretan pena jadi teman ngobrol paling jujur, yang nggak menghakimi, cuma menerima. Siapa tahu, dari situ lahir puisi yang suatu hari nanti bakal bikin kamu bangga pada dirimu sendiri.