Book Review: Fransiskus Mari Bermimpi

Siapa yang tidak mengenal mendiang Bapa Paus Fransiskus? Ketika mendapat kabar duka meninggalnya Bapa Paus saya ikut bersedih dan terus mengikuti pemberitaan pemakamannya. Saya juga dengan khidmat mengikuti misa online untuk mendoakan mendiang.

Buku ini ditulis oleh mendiang Paus Fransiskus bersama dengan Austen Iveregh, seorang jurnalis yang pernah mewawancarai Bapa Paus.

Isinya terbagi dalam tiga bab: Saatnya Melihat, Saatnya Memilih, Saatnya Bertindak.

Buku ini berisi refleksi Bapa Paus Fransiskus tentang manusia, kesehatan, hingga lingkungan. Ia mengajak kita untuk menjadikan masa-masa krisis sebagai momentum untuk melihat jauh kedalam diri sendiri.

Buku ini sangat rekomendasi bagi teman-teman yang ingin berefleksi mengenai diri dan apa yang terjadi pada dunia serta langkah apa yang bisa dilakukan.

Must-read book

📖Book name: Fransiskus (Dalam Percakapan dengan Austen Iveregh) Mari Bermimpi Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik.

Type:

✍️What I learned: Refleksi dan Melihat masa depan yang baik meski dalam krisis.

💰Prize: 79K

🌟Rate 5/5: ⭐⭐⭐⭐⭐

#vatican #Lemon8 #BookReview #bookrecommendation #readingbooklemoners

2025/8/12 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali lihat sampul buku "Fransiskus dalam percakapan dengan Austen Ivereigh – Mari Bermimpi: Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik", aku langsung tertarik karena ada wajah Paus Fransiskus dengan latar pepohonan dan bangunan. Ditambah lagi ada tulisan "Currently Reading" dan "Worth the Hype" di foto yang aku lihat, jadi makin penasaran apakah buku ini benar-benar se-worth it itu. Buat yang mungkin baru dengar, ini bukan buku biografi biasa tentang Paus Fransiskus. Rasanya lebih seperti kita diajak ngobrol pelan-pelan dan diajak merenung bareng. Pembagian babnya – Saatnya Melihat, Saatnya Memilih, Saatnya Bertindak – membantu banget buat kamu yang lagi mencari arah, apalagi di tengah masa krisis seperti pandemi atau masalah pribadi. Di bagian "Saatnya Melihat", aku merasa diajak jujur menilai keadaan dunia dan juga kondisi hati sendiri. Paus Fransiskus cerita tentang ketidakadilan, orang kecil yang sering dilupakan, dan bagaimana krisis membuka sisi rapuh manusia. Bacaan ini bikin aku berhenti sejenak dan mikir, selama ini aku sudah cukup peka belum sama orang sekitar? Lanjut ke "Saatnya Memilih", di sini menurutku bagian yang paling menohok. Buku ini mengingatkan kalau di situasi sulit, kita selalu punya pilihan: mau tenggelam dalam pesimisme atau tetap bermimpi dan berharap. Cara beliau menjelaskan sangat sederhana, tapi dalem. Aku jadi merasa lebih berani buat ambil keputusan-keputusan kecil yang lebih baik dalam hidup sehari-hari. Bagian "Saatnya Bertindak" jadi semacam dorongan terakhir: jangan cuma berhenti di wacana dan perasaan haru setelah baca. Ada ajakan konkret untuk peduli lingkungan, kesehatan, dan sesama. Bukan harus melakukan hal besar, tapi mulai dari langkah kecil yang realistis. Di sinilah aku merasa buku ini benar-benar relevan buat siapa saja, bukan hanya umat Katolik. Kalau kamu lagi galau mau mulai dari mana untuk baca karya Paus Fransiskus, menurutku "Mari Bermimpi" ini bisa jadi pintu masuk yang pas. Bahasanya tidak terlalu teologis dan masih enak diikuti oleh pembaca umum. Dengan harga sekitar 79K dan isi yang kaya refleksi, menurutku memang "worth the hype" seperti yang tertulis di foto. Buku ini juga cocok banget dijadikan bahan renungan pribadi, club baca rohani, atau sekadar teman ngopi sore sambil merenungkan masa depan yang lebih baik. Kalau kamu cari "buku Paus Fransiskus" yang hangat, manusiawi, tapi tetap menantang untuk berubah, buku ini layak banget masuk wishlist bacaanmu selanjutnya.