... Baca selengkapnyaUngkapan Jawa "turu tangi mangan turu neh" secara harfiah berarti tidur bangun makan tidur lagi, yang tampak seperti siklus hidup sehari-hari yang sederhana. Namun, jika direnungkan lebih dalam, kalimat ini mengandung filosofi tentang bagaimana manusia seringkali menjalani hidup secara monoton tanpa memberikan makna yang mendalam.
Sebagai seseorang yang pernah mengalami fase rutinitas yang membosankan, saya mulai menyadari pentingnya memberikan nilai lebih pada setiap aktivitas sehari-hari. Misalnya, saat tidur, bukan hanya untuk beristirahat tapi juga untuk memulihkan semangat; saat makan, tidak sekadar mengisi perut tapi juga bersyukur atas rizki yang didapatkan. Dengan begitu, hidup yang awalnya terasa seperti siklus tanpa tujuan menjadi lebih bermakna dan penuh kesadaran.
Kalimat "iki jane urip opo suargo gustii" yang dapat diterjemahkan sebagai "ini sebenarnya kehidupan atau surga Ya Tuhan" mengajak kita bertanya apakah kita sudah menjalani hidup yang layak dan membahagiakan, ataukah hanya sekadar lewat tanpa makna. Filosofi ini mendorong untuk lebih menghargai setiap momen dan menjalani hidup dengan hati yang penuh syukur.
Dalam praktik sehari-hari, saya mulai menerapkan prinsip ini dengan meluangkan waktu untuk refleksi diri, berdoa, dan menyadari nikmat yang terkandung dalam kegiatan yang saya anggap biasa. Hal ini memberikan efek positif untuk mental dan semangat hidup yang lebih baik.
Kesimpulannya, ungkapan tersebut mengingatkan kita agar tidak hanya hidup sekadar melalui rutinitas, tapi juga memberikan makna dan rasa syukur. Dengan begitu, kita dapat menjadikan hidup ini bukan hanya adanya, tapi juga penuh berkah layaknya surga kecil di dunia.