Membalas @Lily berawal dari ruqyah jadi tau semuanyaaa@Ashceline🧚🏻♀️ 😭
Jika aku memilih bertahan, itu bukan karna lukaku tidak dalam. Bukan karena aku lemah, atau aku tidak tahu caranya pergi.
Aku bertahan karna aku sedang memberi kesempatan pada suamiku untuk membuktikan dirinya, untuk memperbaiki apa yg telah kamu hancurkan.
Dan aku harus belajar mempercayai seseorang yg pernah meruntuhkan kepercayaanku, dan itu bukan hal yg mudah.
Namun ketahuilah, memaafkan bukan berarti melupakan, ada bagian dari diriku yg akan selamanya berubah dari penghianatan itu.
Dan jika hari ini aku masih memilih berjalan disampingmu, percayalah ini adalah bentuk keberanian yg bahkan aku gapernah tau sebelumnya.
Karna, yg paling berat bukanlah memaafkan penghianatanmu, melainkan menerima bahwa orang yg paling aku percaya ternyata juga orang yg paling mampu melukaiku🥀.
Dalam pengalaman saya, perjalanan mempertahankan pernikahan setelah adanya pengkhianatan memang sangat berat dan menuntut banyak keberanian. Saya pernah melalui masa-masa di mana kepercayaan yang saya bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Namun, melalui proses ruqyah dan komunikasi terbuka, saya mulai memahami bahwa memberi kesempatan bukan berarti melemah, tetapi sebuah langkah besar untuk memperbaiki dan membangun kembali. Salah satu ujian terbesar adalah saat kita harus menerima bahwa orang yang paling kita percaya bisa juga menjadi sumber luka terdalam. Rasanya seperti dunia runtuh, namun di balik itu, ada pembelajaran penting tentang kekuatan memaafkan. Memaafkan bukan berarti melupakan atau mengesampingkan rasa sakit, tetapi memilih untuk tidak membiarkan luka itu mendikte masa depan. Dari pengalaman, saya juga belajar bahwa menjaga komunikasi dan keterbukaan dalam pernikahan sangatlah krusial. Misalnya, saya mulai rutin memeriksa hal-hal kecil seperti aktivitas pasangan tanpa memata-matai, tetapi demi transparansi yang sehat demi kebaikan bersama. Hal ini sedikit banyak membantu membangun kembali kepercayaan yang pernah hilang. Lebih dari itu, saya menyadari bahwa setiap ujian dalam pernikahan adalah proses untuk menjadi kepala keluarga yang lebih baik dan bertanggung jawab. Saya dan pasangan berusaha membangun rutinitas yang mendukung, mulai dari saling memberi apresiasi, mendukung kegiatan berbisnis atau pekerjaan satu sama lain, sampai urusan finansial yang dikelola bersama secara jujur. Setiap langkah kecil ini sangat berarti untuk menyembuhkan dan memperkuat ikatan. Saya juga menerapkan doa dan ruqyah sebagai bagian dari menjaga ketenangan hati dan pikiran, terutama saat menghadapi situasi sulit. Percaya bahwa ada energi negatif yang bisa mengganggu, saya rutin melakukan ruqyah sebagai bentuk perlindungan spiritual. Kesimpulannya, menjalani pernikahan setelah pengkhianatan memang bukan jalan mudah, tapi memberikan kesempatan dan memaafkan adalah bentuk keberanian yang luar biasa. Ini bukan proses instan, tapi sebuah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, pengertian, dan komitmen kuat dari kedua belah pihak. Bagi siapa pun yang sedang mengalami ujian serupa, saya ingin mengatakan bahwa kamu tidak sendiri dan ada harapan untuk memperbaiki dan melangkah maju dengan hati penuh percaya.
