Cuplikan BAB⬇️
"ADINDA DAN JIN ZAYN"
Cuplikan bab :
Sambil menikmati sarapan paginya dinda mengingat2 mimpinya semalam, dia tersenyum teringat pada pria tampan yang ada di dalam mimpinya.
"Aihh semalam aku lupa bertanya siapa nama pemuda tampan itu, seandainya dia ada di dunia nyata" kekeh dinda terus menikmati sepotong roti keju kesukaannya.
Selesai sarapan pagi, dinda kembali masuk ke dalam kamar untuk ganti baju, ketika dia akan mengambil baju kerjanya di dalam lemari, tubuhnya seketika menegang, matanya menatap sebuah benda yang ada di rak lemarinya, sebuah cincin.
Dengan tangan gemetar, dinda mengambil cincin tersebut.
"Cincin ini bukannya yang ada di dalam mimpiku semalam??, apa semalam itu bukan mimpi??, jika bukan mimpi, terus dimana pria yang sudah memberikan cincin ini kepadaku??".
Dinda duduk di tepi ranjangnya, matanya kembali memperhatikan cincin itu.
"Aneh, kok bisa2nya cincin ini sudah berada di dalam lemari itu?, ah mending aku simpan dulu cincinnya, kalau pria itu datang lagi, aku akan mengembalikan cincin ini" gumamnya. Dinda menyimpan cincin tersebut di dalam dompet kecilnya, dan kemudian berganti pakaian.
Ketika akan berangkat kerja dia berpas2an dengan bu darti.
"Neng dinda mau kerja ya?" Tanya bu darti melemparkan senyumnya.
"Iya bu, saya pergi dulu yaa, asalamualaikum". Dinda menghidupkan motornya dan meninggalkan bu darti yang sedang menyirami tanaman anggreknya.
"Bu, siapa gadis itu?" Tanya arga yang juga akan bersiap2 ke kantor.
"Namanya dinda, dia tetangga baru kita" jawab bu darti terus menyirami bunga kesayangannya.
"Ohh".
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut arga. Tiba di kantornya seperti biasa dinda selalu menyapa para teman2nya.
"Hai din, tumben hari ini wangi banget, mentang2 sudah tinggal di kontrakan malah sudah ganti parfum" celoteh sri, sahabatnya. Dinda mengernyit.
"Ganti parfum?, enggak kok, parfumku masih seperti biasa".
Sri memutar bola matanya dan mendekat ke arah dinda, kemudian mengendus di dekat tubuh dinda.
"Oh iya yaa, aku pikir kamu ganti parfum baru". "Hhhh duit di mana sih gonta ganti parfum terus, aku tuh setiap bulannya banyak pengeluaran, belum lagi kemarin aku sudah bayar kontrakan selama setahun".
"Wwuuihh jadi aman dong kamu selama setahun ini gak mikirin bayar kontrakan".
"Iya beb, biar aku bisa nabung2 dulu dalam setahun ini" sahut dinda mulai menyalakan komputer di mejanya.
Tiba2 dari luar datang anton teman seruangan mereka.
"Eh ada gosip..". Dinda dan sri menatap ke arah anton.
"Gosip apa??" Tanya keduanya secara serempak.
"Di ruangannyo bos, ada tamu".
"Ya elaahh kirain kenapa" ujar dinda kembali fokus menatap ke arah komputernya.
"Dengar dulu, tamunya itu mau ngantor di sini bersama bos kita, karena mereka sedang membuat proyek besar, dan jika kalian para betina2 melihat tamu bos kita itu huuuuu kalian pasto bakalan klepek2" jelas anton dengan gayanya khas ibu2 tukang kepo. "Hmmm gak tertarik aku" sahut dinda.
"Aku juga" ujar sri. "Okeh, awas yaa aku pegang kata2 kalian berdua".
anton kembali meninggalkan dua gadis yang kelihatannya tidak tertarik dengan kabar terbarunya pagi ini.
"Eh din, kira2 bagaiman tampang tamu bos kita itu ya?" Tanya sri mulai penasaran.
"Loh tadi katanya kamu gak tertarik" kekeh dinda.
"Hanya penasaran saja kok".
"Ya sudah, sana kamu susul si anton, pasti dia lagi sibuk ngumpulin informasi tentang tamu bos kita itu, mulai dari namanya, alamat rumahnya, tinggi badannya, berat badannya, hingga nomor sepatunya" ujar dinda sambil tergelak.
"Kamu aku tinggal dulu, mumpung hari ini masih free" sri bergegas meninggalkan dinda seorang diri di ruangan bagian keuangan tersebut.
Tak lama telefon di ruangan berbunyi, dinda tau itu pasti dari sang sekretaris.
"Iya halo mbak meta?".
"Dinda, kamu di panggil bos ke ruanganya sekarang" ujar sekretaris bosnya itu dari lantai atas.
"Baik mbak".
Dinda meletakkan gagang telefon.
"Hhh akhirnya aku yang akan melihat langsung tamu bos yang sangan menghebohkan anton pagi ini" ujarnya tersenyum sendiri. Dida keluar dari ruangan dan menuju ke lift.
Namun belum sempat dia menekan tombol lift, anton dan sri malah berseru kepadanya. "Bestiiii, kamu mau kemana??" Tanya sri berlari mendektinya.
"Aku buru2 nih, mbak meta memanggilku, katanya di suru bos ke ruagannya" jawab dinda menekan tombol masuk ke dalam lift.
"Nanti kita lanjutkan lagi nanti".
Pintu lift tertutup rapat. Dinda keluar dari dalam lift dan menuju ke ruangan bosnya di mana dia harus melewati ruagannya meta terlebih dahulu.
"Mbak meta, ada apa ya??" Tanya dinda penasaran.
"Mungkin ada hal yang penting terkait dengan proyekny pak bos, masuk saja bos sudah menunggumu" ujar meta dengan ramah.
Dinda menuju ke ruangan bos besarnya, pak dirga.
"Tok tok tok".
"Masuklah".
terdengar suara pak dirga dari dalam. Dinda dengan postur tubuhnya yang sempurna, dengan kulit putih mulus itu pun masuk ke dalam ruangan ceo perusahan tersebut. Namun saat matanya melihat tamu bosnya itu, seketika jantungnya berpacu dengan cepat. "Astagaaaa wajah pria itu..." batin dinda.
"Hey din, kok hanya di situ aja, ayo duduk disini".
"Eh, iya pak maaf, saya pikir tidak ada tamu disini".
"Yaaa justru karena tamu ini saya memanggilmu kesini".
Dinda pun mengambil tempat duduk berhadapan dengan pak dirga.
"Nah dinda, ini adalah tamu kita di perusahan ini, namanya zayn, pak zayn ini akan berkantor di perusahan kita selama proyek besar kami berjalan, dan dia meminta salah satu pegawai yang mahir dalam mengurusi bidang keuangan, dan saya rasa kamulah orang yang tepat untuk di perbantukan bekerja sama dengan pak zayn" jelas pak dirga menatap gadis cantik di hadapannnya.
"Bagaimana dinda, apakah kamu setuju??" Tanya pak dirga.
Dinda menatap wajah zayn yang ternyata sedang menatapnya, buru-buru dinda membuang muka.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya dengan bapak?" Tanya dinda ragu.
Pak dirga tersenyum.
"Kamu tetap akan kembali ke ruanganmu setelah proyek besar ini selesai" jelas pak dirga membuat dinda merasa lega, pasalnya dia takut jika proyek ini selesai dan dia akan jadi pengangguran.
"Oh ya pak zayn, perkenalkan ini dinda, dinda ini adalah salah satu pegawai saya yang sudah tidak di ragukan lagi keahliannya dalam bidang keuangan, meskipun dia baru bergabung dengan kami beberapa tahun yang lalu, namun dia sudah sangat berpengalaman dalam mengelolah keuangan" ujar pak dirga memperkenalkan dinda pada tamu istimewahnya.
Zayn menganguk dan tersenyum manis ke arah dinda.
"Salam kenal nona dinda, semoga anda betah bekerja sama dengan saya".
"Insyah Allah pak, semoga saja kedepannya pekerjaan saya tidak mengecewakan bapak" ujar dinda dengan sopan.
"Benar, wajahnya mirip pria semalam yang datang di mimpiku" batin dinda.
Pak zayn tampak senyum2 sendiri melihat dinda yang sepertinya sedang melamun. "Dinda" panggil pak dirga.
"Eh iya pak?".
"Kok kamu saya perhatikan sudah dua kali ini selalu melamun, apa kamu punya masalah ya?" Tanya pak dirga heran.
"Gak ada kok pak, maaf" jawab dinda sambil nyengir.
"Hmm ya sudah, kembalilah ke ruanganmu, besok kamu sudah mulai bekerja bersama pak zayn di lantai atas".
"Iya pak, saya permisi dulu, permisi pak zayn". Dinda menganguk hormat pada dua pria yang ada di ruangan tersebut.
Dinda pun keluar dari ruangan bosnya dan ternyata anton dan sri sudah menunggu kedatangan dinda di dekat lift.
"Nah ini dia sudah datang" ujar sri.
"Bagaimana din?" Tanya anton. Dinda terkekeh.
"Apanya yang bagaimana??". "Hasil pertemuanmu dengan bos dan tamu tampan itu lahhh" sahut anton.
"Astagaaaa jadi kalian masih penasaran dengan tamu itu?, namanya pak zayn, dan mulai besok aku akan bekerja sama dengan pak zayn di lantai atas" jawab dinda masuk ke dalam lift di ikuti oleh anton dan sri. "Whaaattt???" Keduanya terkejut mendengar jawaban dari dinda.
Dinda hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya, dia terus melenggang keluar saat pintu lift kembali terbuka, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih syok di dalam sana.
Keduanya syok karena pria tampan yang menjadi topik perbincangan pagi ini justru akan mengajak sahabatnya yang cantik itu bekerja bersamanya.
Bersambung....
baca selengkapnya novel ini di #fizzo
karya : Lv AuraThaya

akhirnya gmn y?dinda ,zayn,anaknya mereka sama yg di jodohin dg dinda anak bu darti nya.