Malu gak sih, #Seandainya hamil tapi ga ngadain 7 bulanan?
Kalo aku sih enggak 🤭
Aku pribadi cuma ngadain 4 bulanan sederhana bareng mertua, ngaji bareng ibu-ibu pengajian, kasih tentengan berkat, udah cukup banget buat ngerayain rasa syukur. Apalagi pas itu masih ditemenin suami yang baru balik pelatihan, jadi momennya lebih kerasa hangat 💕 Masya Allah. Kukira pas 4 bulanan ga ada swamik. Rupanya rencana Allah lebih luar biasa.
Btw, sebenernya yang lebih dianjurkan itu 4 bulanan atau 7 bulanan sih?
Kalau dari sisi agama, doa & tasyakuran di usia 4 bulan justru lebih utama ya kan? karena di usia itulah ditiupkan ruh ke janin 🥹✨
Jadi sebenernya nggak masalah banget kalau nggak bikin 7 bulanan kan? yang penting doanya ngalir terus.
Aku sendiri sekarang lagi di Sumatra (udah LDM juga sama suami) di sini juga nggak ada tradisi 7 bulanan. Sekarang aku udah masuk 8 bulan nih. Makin deket buat ketemu si Nduk. Jadi ya aku santai aja, dana mending dialihin buat prepare lahiran, perlengkapan si ketchil, sama nanti aqiqah. Lebih kepake kan? 😍 Hueheheh.
Kalau kalian gimana, lebih pilih 4 bulanan, 7 bulanan, atau malah dua-duanya? komen kuy 👀👇
... Baca selengkapnyaDulu aku juga sempat galau: lebih penting 4 bulanan atau 7 bulanan, sih? Apalagi di media sosial sering lihat tasyakuran 7 bulanan yang meriah, lengkap dengan dekor, stiker tasyakuran 7 bulanan, souvenir, dan berkat yang cantik. Tapi setelah tanya-tanya ke ustazah dan ibu-ibu pengajian, aku jadi lebih paham dan bisa milih dengan tenang.
Dari sisi agama, banyak yang menjelaskan bahwa selamatan hamil 4 bulan itu punya makna khusus karena di usia itulah ruh ditiupkan ke janin. Makanya acara ngaji 4 bulanan, doa bareng, dan pengajian ibu-ibu terasa lebih "berat" secara spiritual. Di acara 4 bulanan kemarin, mertua ngajak ibu-ibu pengajian, kami baca Al-Qur'an, shalawat, dan doa bersama. Sederhana banget, tapi suasananya hangat. Isi berkat 4 bulanan juga simpel: kue basah, sedikit snack, dan nasi kotak. Yang penting niat syukurnya, bukan harus mewah.
Soal tradisi, tiap daerah beda-beda. Ada yang kuat banget tradisi tingkepan di 7 bulan, ada juga yang justru fokus di 4 bulan. Di tempat aku tinggal sekarang di Sumatra, hampir nggak ada tradisi 7 bulanan. Jadi kalau ditanya tingkepan hamil berapa bulan, banyak yang jawabnya malah fleksibel, tergantung keluarga. Ini bikin aku sadar, kita nggak perlu malu kalau nggak ngadain 7 bulanan. Selamatan hamil 4 bulan saja sudah cukup, selama kita tetap berdoa tiap hari dan jaga hubungan sama Allah.
Aku juga sempat mikir soal biaya. Kalau bikin dua acara sekaligus, 4 bulanan dan 7 bulanan, otomatis dana yang keluar makin banyak: buat konsumsi, dekor, stiker tasyakuran 7 bulanan, berkat tamu, dan lain-lain. Pada akhirnya aku memilih: mending dana itu dialihin ke hal yang pasti kepake, yaitu perlengkapan bayi dan persiapan lahiran. Di foto-foto yang aku share, kelihatan tumpukan perlengkapan bayi yang dibeli paketan dari baby shop: baju newborn, selimut, kaus kaki, sarung tangan, perawatan bayi, sampai popok. Rasanya lebih lega karena uangnya jadi barang yang jelas manfaatnya.
Kalau kamu lagi cari inspirasi isi berkat 4 bulanan, bisa banget dibuat simpel: nasi kotak, air mineral, kue tradisional, dan mungkin sedikit snack kekinian biar tamu senang. Untuk yang pengen tetap ada nuansa 7 bulanan tapi budget minim, bisa bikin pengajian kecil di rumah, tanpa dekor besar, cukup pakai stiker tasyakuran kecil di kotak makanan atau goodie bag seadanya.
Intinya, lebih baik 4 bulanan atau 7 bulanan itu balik lagi ke kamu dan keluarga: pertimbangan agama, tradisi, dan kondisi finansial. Jangan merasa kurang jadi ibu kalau acaranya nggak besar. Yang paling penting adalah doa, rasa syukur, dan persiapan lahiran serta menyambut si kecil sebaik mungkin. Kamu tim 4 bulanan aja, 7 bulanan, atau dua-duanya?
aku juga cuma 4 bulanan kak ki, kalau di kota ku ada yg daerah nya wajib 4 bulan dan 7 bulan ada yg cuma salah satu aja.