ASAL KAU BAHAGIA - Rima Hutabarat
Wajah Mama perlahan-lahan terlihat jelas saat kesadaran Nayla kembali. Di belakang Mama berdiri seorang laki-laki yang ikut menatapnya resah. Nayla ingin bertanya siapa dia. Namun, perlahan saat ingatannya mulai bekerja, perempuan itu memilih memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.
“Nay, kamu pingsan, Sayang. Pasti karena dari pagi belum sarapan.” Mama mengusap lembut kening Nayla. “Mama ambilkan makanan, ya.”
Hanya terdengar hela nafas Farid setelah bunyi pintu yang ditutup. Lelaki itu menggantikan Mama duduk di kursi di samping ranjang tempat Nayla berbaring. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Wajah Nayla masih menghadap ke arah dinding tanpa berniat menatap lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya.
“Biar saya saja yang menyuapi Nayla, Ma.” Kalimat itu yang akhirnya mampu membuat Nayla memalingkan wajahnya menghadap Farid.
Lewat tatapan mata, Nayla memberi isyarat agar Mama tidak meninggalkannya hanya berdua dengan lelaki itu. Namun, sepertinya Mama lebih memilih mematuhi permintaan Farid dari pada menyelamatkan puterinya sendiri dari situasi yang rumit. Pintu kamar sudah terlanjur tertutup rapat sebelum Nayla berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa tercekat.
“Masih pusing?” Farid bertanya sopan. Sebelah tangannya memegang piring berisi ketupat kuah sayur yang dibawakan Mama untuk Nayla.
“Masih,” sahut Nayla pelan.
“Kalau duduk sedikit, sanggup tidak?” Farid menggeser kursi merapat. “Akan lebih mudah aku menyuapi kalau kamu bisa duduk bersandar.”
“Aku bisa sendiri.” Nayla menggapai tangan mencoba meraih piring ketupat dari pegangan Farid. “Letakkan saja di sisi ini, nanti aku habiskan pelan-pelan.”
Farid meletakkan piring dari tangannya ke atas nakas. Lelaki itu bangkit dan sedikit membungkuk melewati tubuh Nayla untuk mengambil sebuah bantal yang tidak dipakai di sisi sebelah. Tidak meminta izin atau berniat memberi aba-aba, lelaki itu tanpa canggung mengangkat sedikit tengkuk Nayla agar ia bisa menyelipkan bantal tersebut di bawah kepala.
“Nyaman seperti ini?” Farid mencari tahu akan posisi berbaring Nayla yang tidak sedatar sebelumnya.
“Lumayan,” sahut Nayla. “Biar aku saja, aku bisa menyuap sendiri.”
Nayla berusaha bangkit untuk mengambil piring yang diletakkan Farid di atas nakas, tetapi jemarinya segera ditepis halus oleh lelaki itu. Tatapan tajam Farid setelahnya membuat Nayla memilih memejam dari pada harus saling beradu pandang.
Air mata Nayla berlomba jatuh saat pintu kamar tertutup dan Farid hilang dari pandangan. Bibirnya meratap menyebut nama Bayu. Sejak mereka terpaksa berpisah, baru sekarang Nayla merasakan betapa pedih hati yang bersimbah da rah.
Judul: ASAL KAU BAHAGIA
Akun: RimaHutabarat
Tamat di KBM App, Karya Karsa, Telegram, dan novel cetak.
Cerita 'Asal Kau Bahagia' ini menggambarkan realitas pahit yang sering dialami dalam kehidupan, khususnya tentang pernikahan yang dibangun bukan atas dasar cinta, melainkan karena alasan keluarga atau keadaan mendesak. Dari pengalaman pribadi saya, pernikahan yang terjalin bukan atas keinginan diri sendiri memang bisa menjadi beban berat yang membawa banyak konflik batin dan pergolakan emosi. Melihat bagaimana Nayla harus menerima Farid sebagai suami padahal hatinya masih untuk Bayu, saya jadi teringat teman saya yang mengalami situasi serupa. Ia menikah dari perjodohan keluarga demi menyelamatkan kondisi ekonomi keluarga, dan awalnya ia sangat sulit menerima suaminya. Namun, seiring waktu, ia belajar menemukan arti kebahagiaan lain dalam pernikahan, seperti pengertian dan rasa hormat yang tumbuh pelan-pelan. Selain itu, adegan ketika Farid membantu dan menata posisi Nayla dengan penuh perhatian juga menunjukkan sisi manusiawi dan kasih sayang yang mungkin mulai tumbuh walau dengan cara yang tidak sempurna. Ini menambah nuansa drama yang dalam dan memperlihatkan bagaimana terkadang hubungan dibentuk oleh tanggung jawab dan penerimaan, bukan hanya oleh cinta. Kisah ini juga mengangkat tema pengorbanan demi keluarga, yang sangat relatable di banyak budaya, termasuk di Indonesia. Nayla yang menikah demi nyawa ayahnya menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga dan tanggung jawab sosial yang terkadang mengalahkan perasaan pribadi. Saya merekomendasikan cerita ini bagi pembaca yang menyukai novel dengan tema pernikahan, kisah cinta rumit, dan drama keluarga. Karena cerita ini tidak hanya menghibur tapi juga memberi refleksi mendalam tentang arti bahagia dan pengorbanan dalam kehidupan nyata.



