Seorang ibu pasti sering memarahi anaknya, tetapi seorang Ibu tidak pernah rela anaknya dimarahi oleh siapapun, meski itu suaminya sendiri. Karena anak adalah jiwa sang Ibu.
... Baca selengkapnyaSebagai ibu, aku baru benar-benar paham arti kalimat "anak adalah jiwa sang ibu" setelah punya anak sendiri. Dulu waktu masih jadi anak, aku sering merasa mama cerewet, suka marah, dan kayak nggak pernah puas sama sikap aku. Tapi ternyata, setelah jadi ibu, aku justru jadi "versi upgrade" dari mama.
Yang lucu, aku bisa berjam-jam ngomel ke anak gara-gara hal sepele: mainan nggak diberesin, PR belum dikerjain, atau rebutan dengan saudaranya. Tapi begitu ada orang lain yang memarahi dia terlalu keras, bahkan itu suamiku sendiri, hati langsung panas. Rasanya pengin pasang badan, melindungi, dan bilang, "Pelan-pelan, itu anak kita, bukan musuh." Di situ aku sadar, kasih sayang ibu itu aneh tapi tulus: kita bisa marah, tapi nggak rela orang lain menyakiti, bahkan hanya dengan kata-kata.
Pengorbanan seorang ibu itu sering kelihatan sederhana, tapi berat kalau dipikir pakai logika. Bangun paling pagi, tidur paling akhir. Makan belakangan, padahal perut sendiri masih lapar. Jalan sambil gendong anak di punggung, tas di tangan, pikiran ke mana-mana – keuangan, kesehatan anak, rumah, hubungan dengan pasangan. Di foto atau gambar mungkin cuma terlihat ibu berhijab menggendong anaknya sambil berjalan, tapi di balik itu ada lelah yang jarang diceritakan dan doa yang nggak pernah putus.
Kadang aku lihat gambar ibu dan anak versi kartun yang manis banget: ibu tersenyum, dua anak di sampingnya, seakan hidup selalu rapi. Kenyataannya, di rumah sering ada suara tangisan, adu argumen kecil, dan momen di mana kita merasa gagal sebagai orang tua. Tapi justru dari situ kelihatan kalau ibu adalah garda terdepan untuk anaknya: selalu maju duluan saat anak sakit, saat anak dimarahi guru, atau saat anak merasa sendirian.
Kasih sayang ibu kepada anak nggak selalu berupa kata-kata manis atau pelukan dramatis. Kadang cuma berupa: mengingatkan belajar, melarang main gadget kebanyakan, memarahi saat anak salah pergaulan. Dari luar, mungkin kelihatan galak, tapi di dalam hati ada ketakutan besar: takut anaknya terluka, tersesat, atau kecewa pada dunia. Ibu adalah dunia bagi anaknya, tapi sebetulnya, anak juga adalah dunia bagi seorang ibu.
Kalau kamu lagi baca ini sebagai anak, mungkin kamu sedang sebel karena sering dimarahi. Coba lihat dari sisi lain: bisa jadi marahnya ibu adalah bentuk pengorbanan paling jujur, karena dia rela dibenci sesaat demi masa depanmu. Dan kalau kamu baca ini sebagai ibu, kamu nggak sendirian. Capek itu wajar, nangis diam-diam itu wajar. Yang penting, kita tetap berusaha jadi pelindung pertama dan tempat pulang paling aman untuk anak-anak kita.
Pada akhirnya, kasih sayang seorang ibu nggak butuh panggung besar. Cukup ketika anak pulang, memeluk, dan bilang, "Ibu, aku sayang ibu," semua lelah seakan lunas. Di situlah kita sadar, segala pengorbanan ibu untuk anaknya memang nggak pernah sia-sia.